Wednesday, March 14, 2012

Resensi Novel "Rumah Kaca" Karya Pramodya Ananta Toer

“Betapa bedanya bangsa-bangsa Hindia ini dari bangsa Eropa. Di sana setiap orang yang memberikan sesuatu yang baru pada umat manusia dengan sendirinya mendapatkan tempat yang selayaknya di dunia dan di dalam sejarahnya. Di Hindia, pada bangsa-bangsa Hindia, nampaknya setiap orang takut tak mendapat tempat dan berebutan untuk menguasainya.” Kata-kata Pramoedaya Ananta Toer lewat Minke itulah yang merupakan peristiwa singkat namun jika diuraikan menjadi setebal roman Rumah Kaca ini.

Rumah kaca berisi arsip dokumentasi Minke, bagaimana jatuh bangun menghidupkan Medan Prijaji, surat kabar yang membela kaum pribumi. Medan prijaji dibredel oleh kekuasaan Hindia pada waktu itu, ketakutan akan huru-hara di kalangan rakyat pribumi membuat geram dan kalangkabut pemerintah Hindia. Melalui cara licik, Gubernur Jenderal melakukan usaha kolonial memukul habis semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. 
 
Dari cara-cara kekerasan melalui tangan bandit kecil—Rovert Suurhoof dan gerombolannya. Ia mengancam dan berlaku layaknya bandit, merusak barang-barang secara criminal, meneror, mengancam keselamatan Minke. Itulah yang dinamakan kekerdilan, yang melakukan usaha pelarangan intelektual dengan cara kekerasan. Hingga pada suatu hari, Minke di asingkan, karena usahanya di mata pemerintahan Hindia-Belanda sangat merugikan dari aspek ekonomi maupun hukum Hindia.

Namun Minke tak gentar, ia melawan hingga tak ada ketakutan kepada hIndia, lebih baik diasingkan namun merdeka daripada hidup nyaman tapi seperti budak.

Pram menggambarkan usaha Minke seperti ilmu ‘garam’, terasa meskipun tak terlihat, ia berbuat menurut hati burani membela keadilan, meskipun yang dibela tak memihaknya. Ia berjuang tanpa pamrih hanya untuk keadilan dan kemerdekaan hak pribumi yang diselewengkan. Sebaliknya pemerintahan Hindia seperti menerapkan ilmu ‘gincu’ yaitu terlihat jelas, namun tak ada rasanya, seperti memimpin pribumi dengan teori dan undang-undang namun praktiknya nol besar, bertolak belakang dari keadilan. Malah pejabat Hindia memperkaya diri. 
 
Tak heran pemerintahan Hindia tak bisa dipercaya oleh pribumi, karena tidak adil dan menganaktirikan pribumi dari ras eropa. Itulah sebabnya terjadi huru-hara di mana-mana. Hal itulah tampak jelas kekuasaan yang tidak didukung rakyat lama-laam akan tergulung ombak pemberontakan. Sebagai dalih kerusuhan, pemerintahan HIndia dengan licik mengambinghitamkan Minke sebagai dalang huru-hara maka dari itu, satu-satunya jalan adalah mengasingkan Minke—sungguh picik pemerintahan Hindia waktu itu.

Terlihat sekali, Pram mengritik habis-habisan pemerintahan Kolonial Hindia Belanda yang tidak becus mengurusi pemerintahan karena terjebak oleh pejabat korup yang melarikan diri ke luar negeri dan berfoya-foya menggunakan uang rakyat. Cara mengritik Pram terhadap pemerintahan Hindia yang menyeluruh, seperti tukang cukur yang menggunduli rambut pelanggannya, tak bersisa, halus mulus, dan meninggalkan kesan mendalam.

Dalam Rumah Kaca, Pramoedya ingin menghadirkan cara penyajian penceritaan yang tidak seperti biasanya ditemukan di tiga buku sebelumnya, Bumi Manusia sampai Jejak Langkah. Roman Rumah Kaca memperlihatkan Tuan Pangemanann—pejabat Gubernur Jenderal Hindia sebagai komandan yang memimpin pemboikotan usaha jurnalistik Minke di Medan Prijaji melakukan tugasnya, dengan cara mengumpulkan arsip dokumentasi apa saja yang dilakukan Minke. Tuan Pangemanann didorong oleh tugasnya sebagai seorang Pangemanann pejabat gubernur Jenderal, yang menyelidiki kasus Minke, mencari kesalahan Minke.

Namun kenyataannya tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyeret Minke ke meja pengadilan, meskipun Minke sudah diasingkan. Malahan ada pengalaman batin memilukan terjadi pada diri Tuan Pangemanann. Setelah membaca lembar-demi lembar arsip itu, Tuan Pangemannan berubah dalam cara berpikirnya. Ia mulai ketakutan sendiri, jangan-jangan bangsanya sendiri telah melakukan semua kebiadaban ini. Ketakutan itu mengundah rasa ingin tahu dan hari demi hari ia gunakan menyelidiki kasus Minke, dan mempelajari arsip tersebut. Ternyata dalam arsip itu tidak ditemuakn satu hal pun bermuatan provokasi massa atau ide-ide kriminalitas lainnya yang dituduhkan bandit Robert Suurhoof. Kebalikannya, nurani Tuan Pangemannan tersentak, netralitasnya muncul, jika ia melihat dari sudut pandangnya sebagai Minke, ia akan memposisikan sama halnya Minke, ia akan berjuang membela rakyatnya sendiri apa pun itu resikonya.

Namun ketakuatn akan jabatannya membuatnya luruh, ia kurang berani membela Minke di depan pejabat Gubernur Jenderal Hindia lainnya. Perasaan bersalahnya yang membuat Minke diasingkan membuatnya bertindak sesuatu, yaitu menyerahkan arsip ini kepada guru agung Minke, yaitu Nyai Ontosoroh yang sudah beralih warga negara Perancis, menjadi madame Sanikem Le Boucq. Hal itu dilakukan sebagai bentuk “penebusan dosa” terhadap Minke yang rela berkorban demi bangsa dan tanah airnya sendiri malah diasingkan, dibuang begitu saja. Arsip itulah yang kemudian dicetak menjadi buku judulnya Rumah Kaca ini.

Pramoedya sungguh menarik meramu cerita dengan gaya penceritaan dari sudut pandang Tuan Pangemanann, semua diceritakan apa adanya menurut bukti yang ada di arsip tersebut. Detail dan rinci salah satu kekhasan penulis dalam menulis Rumah Kaca ini, intrik jahat kolonial hindia diberitakan dengan penuh ketegangan, alur cinta yang anggun, abadi meskipun dari bab Bumi Manusia hingga Rumah Kaca kita sebagai pembaca, dihadapkan oleh “kekalahan petualangan cinta” seorang priyayi setampan Minke yang berakhir tragis namun pengalaman manis meninggalkan kenangan ketulusan cinta kepada wanita-wanitanya. Perjuangan Minke dalam membela pribumi tercermin dalam Rumah Kaca. Dan hingga buku ini dicetak dan menjadi sumber bacaan yang mencerahkan bagi masyarakat pribumi.

Dan juga kepada bangsa Hindia yang menolak perjuangannya, bangsa Eropa yang menutup mata terhadap pribumi dan perjuangan Minke hingga ia diasingkan, tak ada yang menolongnya. Meski demikian, dari itu semua, terkandung hikmah yang mendalam. Benar kiranya apa yang diucapkan Pramoedya Ananta Toer kali ini,” Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles—Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa, dan Naikkan yang Terhina–.
Buku ini, sekali lagi cocok untuk dibaca bagi mereka yang mencari jati diri menurut kebenaran. Sastra, politik dan hukum ada di dalam buku ini. Tidak memandang mereka politikus, presiden maupun mahasiswa dan rakyat. Siapa pun yang bisa membaca, hendaklah membaca karya ini. Karena karya yang menghibur itu banyak—seperti kacang–. Namun karya yang mencerahkan rasa naisonalisme bisa dihitung dengan jari. Sekarang terserah pembaca, mau pilih membaca yang mana. 
 
Sumber: http://bukupung.wordpress.com

0 comments:

Post a Comment