Thursday, May 19, 2011

Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra (3)

BAB III
Metode, Metodologi, Teknik, dan Pendekatan

1. Metode, Metodologi, dan Teknik
Metode berasal dari kata methodos, bahasa Latin, methodos berasal dari akar kata meta dan hodos. Meta berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah, sedangkan hodos berarti jalan, cara, arah. Secara luas, metode diartikan sebagai cara-cara, strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat. Metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Klasifikasi, deskripsi, komparasi, sampling, induksi dan deduksi, eksplanasi dan interpretasi, kuantitatif dan kualitatif adalah sejumplah metode yang sudah sangat umum penggunaannya.

Metode sering dikacaukan penggunaannya dengan metodologi. Secara etimologis metodologi berasal dari methodos dan logos, yaitu filsafat atau ilmu mengenai metode. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Prosedur yang dimaksukan terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu, menyusun proposal, membangun konsep dan model, merumuskan hipotesis dan permasalahan, mengadakan pengujian teori, menganalisis data, dan akhirnya menarik kesimpulan.

Ada tiga cara yang dapat membedakan antara metode dan teknik, bahkan juga dengan teori, sebagai berikut :
- Dengan cara membedakan tingkat abstraksinya.
- Dengan cara memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya.
- Dengan cara memperhatikan hubungannya dengan objek.

Atas dasar kekhasan sifat karya sastra, maka sejumlah metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra, diantaranya : metode intuitif, metode hermeneutika, metode formal, analisis isi, dialektik, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskrptif induktif.

a. Metode Intuitif
Metode intuitif dianggap sebagai kemampuan dasar manusia dalam memahami unsur-unsur kebudayaan. Sebagai metode filsafat, menurut Anton Bakker (1984: 39-42), metode intuitif digunakan oleh pendiri neo-Platonisme, yaitu Plotinos (205-270 M). Dasar metodenya ialah filsafat Yunani, khususnya Plato dan Aristoteles. Ciri-ciri khas metode intuitif adalah kontemplasi, pemahaman terhadap gejala-gejala kultural dengan mempertimbangkan keseimbangan antara individu dengan alam semesta.

b. Metode Hermeneutika
Secara etimologis hermeneutika berasal dari kata hermeneuein, bahasa Yunani, yang berarti menafsirkan atau menginterpretasikan. Fungsi utama hermeneutika sebagai metode untuk memahami agama, maka metode ini dianggap tepat untuk memahami karya sastra dengan pertimbangan bahwa di antara karya tulis, yang paling dekat dengan agama adalah karya sastra.

c. Metode Kualitatif
Metode kualitatif ini mempertahankan hakikat nilai-nilai serta memberikan perhatian terhadap data alamiah. Ciri-ciri terpenting metode kualitatif, sebagai berikut :
- Memberikan perhatian utama pada makna dan pesan, sesuai dengan hakikat objek, yaitu studi kultural.
- Lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah.
- Tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian, subjek peneliti sebagai instrument utama, sehingga terjadi interaksi langsung diantaranya.
- Desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka.
- Penelitian bersifat alamiah, terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing.

d. Metode Analisis Isi
Menurut Vredenbreght (1983: 66-68), secara eksplisit metode analisis isi pertama kali digunakan di Amerika Serikat tahun 1926. Isi dalam metode analisis isi terdiri atas dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi. Isi laten adalah isi yang terkandung dalam dokumen dan naskah. Isi komunikasi adalah pesan yang terkandung sebagai akibat komunikasi yang terjadi. Objek formal metode analisis ini adalah isi komunikasi. Analisis isi laten menghasilkan arti, analisis komunikasi menghasilkan makna.

d. Metode Formal
Secara etimologis formal berasal dari kata forma (latin), berarti bentuk, wujud. Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspek-aspek formal, aspek-aspek bentuk, yaitu unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra, kemudian bagaimana hubungan antara unsur-unsur tersebut dengan totalitasnya. Tugas utama metode formal adalah menganalisis unsur-unsur, sesuai dengan peralatan yang terkandung dalam karya sastra.

e. Metode Dialektika
Secara etimologis dialektika berasal dari kata dialectica, bahasa Latin, berarti cara membahas. Secara historis metode dialektik sudah ada sejak zaman Plato, tetapi diperkenalkan secara formal oleh Hegel. Menurut Hauser (1985: 333-334), dalam dialektika unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur yang lain, individualitas justru dipertahankan di samping interdependensinya. Prinsip-prinsip dialektika dikembangkan oleh Friedrich Hegel atas dasar dialektika spiritual, dan Karl Marx atas dasar pertentangan kelas.

f. Metode Deskriptif Analisis
Secara etimologis deskripsi dan analisis berarti menguraikan. Namun, analisis yang berasal dari bahasa Yunani, analyein (‘ana’ = atas, ‘lyein’ = lepas, urai). Metode deskriptif analitik dilakukan dengan cara mendiskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.

2. Pendekatan dan Problematikanya
Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. Pendekatan perlu dikemukakan secara agak luas dengan pertimbangan bahwa pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan. Pada dasarnya dalam rangka melaksanakan suatu penelitian, pendekatan mendahului teori maupun metode artinya pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan lebih dulu, kemudian diikuti dengan penentuan masalah teori, metode, dan tekniknya.

a. Pendekatan Biografis
Menurut Wellek dan Warren (1962: 75), model biografis dianggap sebagai pendekatan yang tertua. Pendekatan biografis merupakan studi yang sistematis mengenai proses kreativitas. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan aktivitas kreatif dibedakan tiga macam pengarang, yaitu :

- Pengarang yang mengarang berdasarkan pengalaman langsung.
- Pengarang yang mengarang berdasarkan keterampilan dalam penyusunan kembali unsur-unsur penceritaan.
- Pengarang yang mengarang berdasarkan kekuatan imajinasi.

b. Pendekatan Sosiologis
Pendekatan sosiologis menganalisis manusia dalam masyarakat, dengan proses pemahaman mulai dari masyarakat ke individu. Dasar filosofis pendekatan sosiologis adalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat. Hubungan-hubungan yang dimaksudkan disebabkan oleh :

- Karya sastra dihasilkan oleh pengarang.
- Pengarang itu sendiri adalah angggota masyarakat.
- Pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat.
- Hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

Pendekatan sosiologis, khususnya untuk sastra Indonesia, baik lama maupun modern menjanjikan lahan penelitian yang tidak akan pernah kering. Setiap hasil karya, baik dalam skala angkatan maupun individual, memiliki aspek-aspek sosial tertentu yang dapat dibicarakan melalui model-model pemahaman sosial. Teori sosial modern oleh kelompok Marxis, seperti Lukacs, Goldmann, Eagleton, Bakhtin, Althusser, Medvedev, dan Jameson, termasuk Marx sendiri.

c. Pendekatan Psikologis
Rene Wellek dan Austin Warren (1962: 81-82) menunjukkan empat model pendekatan psikologis, yang dikaitkan dengan pengarang, proses kreatif, karya sastra, dan pembaca. Pendekatan psikologis kontemporer, sebagaimana dilakukan oleh Mead, Cooley, Lewin, dan Skinner (Schellenberg, 1977), mulai memberikan perhatian pada interaksi antarindividu, sebagai interaksi simbolis, sehingga disebutkan sebagai analisis psikologi sosial. Teori yang paling banyak diacu dalam pendekatan psikologis adalah determinisme psikologi Sigmund Freud (1856-1939). Menurutnya, semua gejala yang bersifat mental, bersifat tak sadar yang tertutup oleh alam kesadaran (Schellenberg, 1997: 18).

d. Pendekatan Antropologis
Antropologi adalah ilmu pengetahuan mengenai manusia dalam masyarakat. Pendekatan antropologi sastra lebih banyak berkaitan dengan objek verbal. Lahirnya pendekatan antropologi karena adanya hubungan ilmu antropologi dengan bahasa, tradisi lisan. Pokok-pokok bahasan yang ditawarkan dalam pendekatan antropologis adalah bahasa sebagaimana dimanfaatkan dalam karya sastra, sebagai struktur naratif, di antaranya:

- Aspek-aspek naratif karya sastra dari kebudayaan yang berbeda-beda.
- Penelitian aspek naratif sejak epik yang paling awal hingga novel yang paling modern.
- Bentuk-bentuk arkhais dalam karya sastra, baik dalam konteks karya individual maupun generasi.
- Bentuk-bentuk mitos dan sistem religi dalam karya sastra.
- Pengaruh mitos, sistem religi, dan citra primordial yang lain dalam kebudayaaan populer.

e. Pendekatan Historis
Pendekatan historis mempertimbangkan historisitas karya sastra yang diteliti, yang dibedakan dengan sejarah sastra sebagai perkembangan sastra sejak awal hingga sekarang, sastra sejarah sebagai karya sastra yang mengandung unsur-unsur sejarah, dan novel sejarah, novel dengan unsur-unsur sejarah. Pendekatan historis pada umumnya lebih relevan dalam kerangka sejarah sastra tradisional.

Objek sasaran pendekatan historis, di antaranya, sebagai berikut :
- Perubahan karya sastra dengan bahasanya sebagai akibat proses penerbitan ulang.
- Fungsi dan tujuan karya sastra pada saat diterbitkan.
- Kedudukan pengarang pada saat menulis.
- Karya sastra sebagai wakil tradisi zamannya.

f. Pendekatan Mitopoik
Secara etimologis mythopoic berasal dari myth. Mitos dalam pengertian tradisional memiliki kesejajaran dengan fabel dan legenda. Pendekatan mitopoik dianggap paling pluralis sebab memasukkan hampir semua unsur kebudayaaan, seperti: sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi, agama, filsafat, dan kesenian. Vredenbreght (1983: 5) menyebutnya sebagai pendekatan holistis. Cara penelitian ini sudah dimulai sejak lama, sebelum lahirnya pendekatan objektif dengan teori strukturalisme.

g. Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif berkaitan dengan hal, fungsi, dan kedudukan karya sastra sebagai manifestasi subjek kreator. Pendekatan ekspresif lebih banyak memanfaatkan data sekunder, data yang sudah diangkat melalui aktivitas pengarang sebagai subjek pencipta, jadi sebagai data literer. Wilayah studi ekspresif adalah diri penyair, pikiran, perasaan, dan hasil-hasil ciptaannya. Pendekatan ekspresif juga dapat dimanfaatkan untuk menggali ciri-ciri individualisme, nasionalisme, komunisme, dan feminisme dalam karya, baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka produksi. Pendekatan ekspresif dominan abad ke-19, pada zaman Romantik.

h. Pendekatan Mimesis
Menurut Abrams (1976: 8-9) pendekatan mimesis merupakan pendekatan estetis yang paling primitif. Akar sejarahnya terdapat dalam pandangan Plato dan Aristoteles. Menurut Plato, dasar pertimbangannya adalah dunia pengalaman, yaitu karya sastra itu sendiri tidak bisa mewakili karya sastra sesungguhnya, melainkan hanya sebagai peniruan. Secara hirearkhis karya seni berada di bawah kenyataan. Pendekatan mimesis, khususnya dalam kerangka Abrams bertumpu pada karya sastra.

i. Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatis memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Subjek pragmatis dan subjek ekspresif, sebagai pembaca dan pengarang berbagi objek yang sama yaitu karya sastra. Secara historis (Abrams, 1976:16) pendekatan pragmatik telah ada tahun 14 SM, terkandung dalam Ars Poetica (Horatius). Secara teoretis dimulai dengan lahirnya strukturalisme dinamik. Pendekatan pragmatis secara keseluruhan berfungsi untuk menopang teori resepsi, teori sastra yang memungkinkan pemahaman hakikat karya tanpa batas.

j. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif mengindikasikan perkembangan pikiran manusia sebagai evolusi teori selama lebih kurang 2.500 tahun. Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang terpenting sebab pendekatan apapun yang dilakukan pada dasarnya bertumpu atas karya sastra itu sendiri. Secara historis pendekatan ini dapat ditelusuri pada zaman Aristoteles dengan pertimbangan bahwa sebuah tragedy terdiri atas unsur-unsur kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan. Masuknya pendekatan objektif ke Indonesia sekitar tahun 1960-an, yaitu dengan diperkenalkannya teori strukturalisme, memberikan hasil-hasil yang baru sekaligus maksimal dalam rangka memahami karya sastra.


Referensi:
Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme, Prespektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

0 comments:

Post a Comment