Sunday, March 27, 2011

Biodata Ringkas Sastrawan Indonesia

BIODATA RINGKAS SASTRAWAN INDONESIA

Oleh Maman S. Mahayana

klr“Tidak ada satu pun kamus yang sempurna!” Demikianlah pernyataan ini ibarat sebuah rumus yang diberlakukan dalam bidang leksikografi; sebuah ilmu yang mempela-jari selok-belok dunia perkamusan. Ketika sebuah kamus selesai disusun dan kemudian masuk dalam proses penerbitan, ketika itu pula muncul entri-entri (butir masukan) baru yang harusnya tercatat dalam kamus yang bersangkutan. Jadilah kamus itu meninggalkan sejumlah entri. Mereka itu tercecer lantaran berbagai hal: kemunculannya belakangan, terlupakan, terlalaikan, sengaja diluputkan karena alasan subjektif atau karena kelelahan (atau kemalasan?) penyusun untuk mengorek lebih jauh data-data mutakhir. Itulah yang terjadi dalam setiap penerbitan kamus. Tidak terkecuali juga Leksikon Susastra Indone-sia1 (selanjutnya disingkat LSI) yang disusun Korrie Layun Rampan ini.

Meski begitu, tentu saja LSI menempati kedudukan yang khas. Ia tetap dapat ber-fungsi sebagai panduan awal untuk mengetahui serba sedikit riwayat hidup sastrawan-sastrawan Indonesia -sejak Tirto Adhi Soerjo2 dan Mas Marco Kartodikromo- sampai ke sastrawan Indonesia yang muncul awal tahun 2000. Selain itu, ia juga punya arti penting sebagai dokumentasi data atas munculnya sastrawan, karya, dan berbagai hal -nama surat kabar, majalah, lembaga, istilah atau peristiwa- yang berkaitan langsung dengan kehidupan dan perjalanan sastra Indonesia. Kelak, jika ia terus direvisi, dimasukkan nama dan data mutakhir, ia akan menjadi semacam alat pengakuan, atau bahkan legitimasi bagi kehadiran dan peranan kesastrawanan seseorang.

Dalam kesusastraan negara mana pun di dunia ini, buku sejenis yang memuat se-jumlah nama pengarang berikut karya-karya yang dihasilkannya, juga sering kali diposisi-kan demikian. Buku Twentieth Century Authors A Biographical Dictionary of Modern Literature yang disusun Stanley J. Kunitz dan Howard Haycraft (1963), misalnya, meru-pakan contoh yang baik, bagaimana buku itu hingga kini dipandang sebagai buku yang berwibawa dan penting yang memuat nama para pengarang Amerika berikut bioadata ringkas dan karya-karya yang telah dihasilkannya. Secara periodik dalam waktu selam-batnya lima atau 10 tahun, buku itu akan mengalami revisi dan penambahan entri. Tidak mengherankan jika dalam setiap edisi, jumlah halaman buku itu akan terus membengkak. Jangan lupa, di dalamnya tidak hanya dimuat nama-nama baru, melainkan juga data dan karya-karya mutakhir.

Dalam leksikografi, buku jenis ini termasuk kategori sebagai kamus khusus yang memuat semacam dokumen biografis. Dan dalam sejarahnya, -seperti telah dinyatakan di atas- tidak ada satu pun kamus yang lengkap. Selalu saja ada yang tercecer dan luput di-masukkan sebagai entrinya. Jadi, jika dalam LSI kita menemukan sejumlah nama yang lu-put, maka anggaplah masalah itu sebagai kealpaan manusiawi belaka.

Jika LSI hendak ditempatkan dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia, maka ini-lah buku yang paling banyak memuat nama-nama sastrawan Indonesia. Amal Hamzah3 meskipun hanya memuat beberapa pembicaraan novel dan drama, berikut pengarangnya, dapatlah dianggap sebagai perintis. Kemudian Teeuw dan R. Roolvink,4 yang diikuti pula Zuber Usman,5 Bakri Siregar,6 belakangan H.B. Jassin7 dan Ajip Rosidi.8 Mereka lebih banyak memberi tempat pada perbincangan sejarah sastra Indonesia. Yang nyaris tak ber-beda dengan penyusunan LSI pernah dilakukan Pamusuk Eneste, Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (LKIM) (Jakarta: Gramedia, 1982; Edisi Baru, Djambatan, 1990).

Memperhatikan LSI dan membandingkannya dengan LKIM, yang segera tampak ke hadapan kita adalah adanya pola penyusunan yang sama. Sejumlah entri dalam LKIM yang hampir semuanya termuat dalam LSI,9 sedikit sekali yang mengalami penambahan data. Bahkan dalam soal penyusunan entri yang mendasarinya pada urutan alfabetis, da-lam beberapa bagian, Korrie cenderung tidak taat asas, termasuk di dalamnya menyang-kut penyusunan indeks.10

Sementara itu dilihat dari jumlah entrinya, mengingat LSI terbit belakangan, maka LSI jauh lebih banyak, yaitu memuat 1382 entri yang terdiri dari 1231 biodata sastrawan dan 151 nama lembaga, majalah, novel, dan hal lain yang berkaitan dengan peristiwa sejarah sastra Indonesia. Lalu apa kelebihan LSI dibandingkan LKIM yang disusun Pamu-suk? LKIM yang terbit tahun 1982 memuat 309 entri, termasuk 47 nama istilah, lembaga atau peristiwa. Dalam LKIM edisi baru, termuat 582 entri dengan 499 biodata sastrawan. Dengan begitu, buku LSI memuat lebih dari dua kali lipat entri dalam LKIM edisi baru yang disusun Pamusuk. Jadi, dari segi jumlah data, Korrie telah berhasil mencatat presta-si yang sekaligus menunjukkan ketekunan dan keuletannya yang patut benar kita hargai.

Demikianlah sebagai buku yang memuat nama sejumlah sastrawan kita, tentu saja buku LSI cukup representatif. Nama-nama baru, teristimewa yang berasal dari daerah, seperti menyerbu dan memaksa masuk sebagai entri. Barangkali, kita akan kaget sendiri, betapa jumlah sastrawan daerah jauh melebihi jumlah sastrawan ibukota. Data ini meng-indikasikan bahwa sastrawan daerah tidak lagi bangun dan hanya ngulet, tetapi langsung dengan membuat gerakan menerbitkan karya-karyanya sendiri. Dari sudut itu, fenomena itu dapat dimaknai sebagai petunjuk adanya hasrat besar sastrawan daerah untuk tidak lagi bergantung pada dominasi Jakarta.

Sesungguhnya, sebagaimana telah disinggung tadi, LSI seperti juga buku yang di-susun Stanley J. Kunitz dan Howard Haycraft, dapat menjadi semacam alat legitimasi; cap peran kesastrawan seseorang diakui kiprahnya. Untuk sampai ke arah sana, salah satu syarat yang mutlak disampaikan penyusunnya menyangkut pertanggungjawaban. Apa kriterianya dan atas pertimbangan apa seseorang pantas namanya tercatat dalam buku itu. Dalam hal yang menyangkut pemilihan dan pemilahan, subjektivitas penyusun harus di-akui ikut memainkan peranan. Namun, sejauh ada pertanggungjawaban, sejauh itu pula, siapa pun atau apa pun yang menjadi entri buku itu, tidak akan menjadi persoalan.

Dalam konteks itu, sayang sekali Korrie melakukan kelalaian yang sama, seperti yang juga pernah dilakukan Pamusuk Eneste. Tidak ada ktiteria, tidak ada argumen, dan tidak ada pula pertanggungjawabannya. Di situlah kemudian muncul berbagai masalah. Sekadar mencatat nama-nama atau apapun dan memasukkannya sebagai entri, tentu boleh-boleh saja, dan tidak ada sesiapa pun yang melarang itu. Namun, sebagai sebuah karya penting yang niscaya berdampak pada persoalan legitimasi dan cap peran kesastra-wanan seseorang, bagaimanapun juga pertanggungjawabannya menjadi sangat signifikan. Apalagi kemudian jika persoalannya dikaithubungkan dengan kualitas dan otoritas. Mari kita bincangkan duduk perkaranya.

Ada sejumlah peneliti atau penerjemah asing yang namanya tercatat dalam LSI, tetapi tokoh penting yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia dan banyak menerjemahkan karya sastra kita dan membuat film dokumenter tentang sastrawan-sastrawan senior, John H. Mac-Glynn, tidak tercatat dalam LSI. Tentu masih ada nama lain yang juga patut dipertimbangkan, semisal Tinneke Helwig (Belanda) yang mondar-mandir ke Indonesia guna meneliti citra wanita Indonesia dalam sejumlah novel kita. Begitupun George Quinn (Australia) yang meski disertasinya mengenai novel berbahasa Jawa, ia juga pengamat sastra Indonesia yang andal.

Mengenai para peneliti asing ini, sungguh mengherankan tidak ada satu pun yang berasal dari negara tetangga Malaysia. Yahaya Ismail yang penelitiannya mengenai keja-tuhan Lekra, Baha Zain yang mengupas sejumlah novel Indonesia yang terbit pada perio-de 1966–1971, dan A. Wahab Ali yang membandingkan novel-novel awal Malaysia dan novel awal terbitan Balai Pustaka, juga luput dalam LSI.

Kealpaan lain menyangkut nama Aryanti (pseud. Prof. Dr. Haryati Subadio) yang telah menghasilkan empat novel dan satu antologi cerpen.11 Hal yang sama juga terjadi pada sejumlah nama penyair Riau, semisal Syaukani Al Karim dan Hoesnizar Hood.12 Tentu kita masih dapat menderetkan nama-nama lain, teristimewa sastrawan dari berba-gai daerah yang karya-karyanya mungkin saja luput dari perhatian kita.

Di luar persoalan itu, terutama yang menyangkut butir masukannya, ada beberapa hal yang agaknya justru akan sangat baik jika disimpan saja di tempat lain. Pertama, soal adanya sinopsis novel. Ini akan menjadi masalah ketika kita mempertanyakan kriteria dan argumen yang mendasarinya. Pertanyaan: Mengapa Keluarga Gerilya atau Para Priyayi tak terdapat di sana, misalnya, dapat berlanjut dengan pertanyaan serupa untuk novel yang lain yang juga penting mewakili zaman atau periode tertentu. Kedua, soal pemuatan nama majalah, penerbit, dan lembaga. Sedikitnya nama majalah, penerbit, dan lembaga yang menjadi butir masukan LSI, dapat ditafsirkan bahwa “hanya” itu majalah, penerbit dan lembaga yang langsung berhubungan dengan kehidupan sastra Indonesia. Jika tetap hendak dimasukkan sebagai entri, maka boleh jadi nama majalah, penerbit, dan lembaga yang pantas menjadi butir masukan LSI akan mencapai jumlah ratusan. Ketiga, kesan subjektif penyusun terasa agak menonjol jika kita mencermati entri Korrie Layun Ram-pan (hlm. 244–247) yang begitu lengkap dan panjang. Bandingkanlah entri ini dengan 1231 entri lain yang berisi biodata sastrawan.

Bahwa pertanyaan-pertanyaan itu muncul semata-mata lantaran penyusun meng-hindar dari pertanggungjawaban. Jika saja ada keterangan dan argumen yang mendasari penyusunannya, niscaya pertanyaan-pertanyaan itu akan kita simpan saja di dalam laci. Jadi, kembali lagi, muara persoalan itu jatuh pada soal pertanggungjawaban.13

Di luar kelalaian kecil itu, bagaimanapun juga LSI tetap mesti kita tempatkan se-bagai sebuah tonggak penting. Tanpa usaha Korrie, sangat mungkin sejumlah nama yang berkarya “sekali tidak berarti, sesudah itu mati” akan benar-benar mati sebelum ia hidup. Oleh karena itu, dari sudut pendokumentasian, LSI telah menempati posisinya yang khas. Bahkan, jika karya sejenis ini digarap secara sungguh-sungguh, ia akan menjadi sebuah monumen yang sangat mungkin tidak dapat lagi dipisahkan dari perjalanan sejarah kesu-sastraan Indonesia.14 Dengan ketelatenan dan keuletan seorang Korrie Layun Rampan, rasanya kita percaya, Korrie niscaya mampu melakukan itu. Tahniah! ***

Sumber: MAHAYANA-MAHADEWA.COM http://mahayana-mahadewa.com

0 comments:

Post a Comment

TOKO BUKU