Tuesday, July 3, 2012

Skripsi: Perilaku Sosial Tokoh Utama dalam Prosa Lirik Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi Ag.



Nugroho, Andhi. 2007. Perilaku Sosial Tokoh Utama dalam Prosa Lirik Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi Agustinus. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing: I Drs. Mukh. Doyin, M.Si. II Drs. Agus Nuryatin, M.Hum.

 
 
ABSTRAK
Permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini mencakup (1) Bagaimana penokohan tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Agustinus? (2) Bagaimana perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem dalam konteks budaya Jawa? dan (3) Faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem? Adapun tujuan penelitian ini adalah mengemukakan penokohan dan perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Agustinus, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra. Sasaran penelitian ini adalah perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi penokohan tokoh utama yang ada dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Sesuai dengan metode analisis deskripsi, unsur yang dianalisis ditekankan pada penokohan untuk mengetahui watak tokoh utama yang kemudian dikaji dengan menggunakan pendekatan psikologi sosial.

Hasil penelitian ini memperlihatkan tokoh dan penokohan tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem, perilaku sosial Pariyem dalam konteks budaya Jawa, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem.

Berdasarkan temuan tersebut, saran yang diberikan kepada para pembaca prosa lirik Pengakuan Pariyem adalah agar dapat melakukan penelitian dengan bidang kajian yang lain, misalnya dengan menggunakan teori struktural genetik. Perilaku tokoh yang diceritakan Linus dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem sesuai dengan perilakunya yang bangga terhadap budaya Jawa. Sikapnya yang lugu ditampilkannya dalam prosa lirik ini, lewat tokoh Pariyem. Pariyem, gadis Jawa yang rela menerima pekerjaannya sebagai pembantu, begitu pasrah dalam memandang hidup, namun di dalam jiwanya menyimpan penuh segala kebijaksanaan hidup.

Kata Kunci: Prosa lirik, psikologi, perilaku sosial



BAB I
PENDAHULUAN
 
1.1 Latar Belakang Masalah
Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian kehidupan dari masyarakat. Pengarang sebagai subjek individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya (vision du monde) kepada subjek kolektifnya. Signifikansi yang dielaborasikan subjek individual terhadap realitas sosial di sekitarnya menunjukkan sebuah karya sastra berakar pada kultur tertentu dan masyarakat tertentu. Keberadaan sastra yang demikian itu, menjadikannya dapat diposisikan sebagai dokumen sosiobudaya ( Pradopo dalam Jabrohim, ed 2001: 59).

Roekhan (1990: 91) juga menyatakan bahwa karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang lahir dari pengekspresian endapan pengalaman yang telah lama ada dalam jiwa seorang pengarang. Pengalaman jiwa yang terendap dalam diri pengarang dikreasikan dan ditambah dengan imaji pengarang sendiri sehingga pengalaman jiwa yang ditangkap pengarang melalui pengamatannya terhadap hakikat hidup dan kehidupan tadi telah beralih ke dalam karya sastra yang diciptakan pengarang, tercermin melalui ciri dan kejiwaan tokoh-tokoh imajinernya.

Dengan melihat pernyataan Pradopo dan Roekhan di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa karya sastra pada hakikatnya merupakan hasil budaya yang melibatkan pribadi pengarang dalam mengolah berbagai bentuk peristiwa sosial kehidupan sehari-hari. Karya yang dihasilkan pengarang adalah karya fiktif belaka. Melalui proses kreatif seorang pengarang, maka lahirlah karya sastra yang banyak mengacu pada realitas kehidupan sehari-hari pada suatu tempat dan waktu. Realitas di dalam karya sastra sudah tentu bukan lagi realitas yang sesungguhnya, melainkan realitas dalam rekaan pengarang.

Dari karya sastra ini kita mengenal pula berbagai genre, salah satunya adalah prosa lirik. Prosa lirik sebagai karya fiktif tidak bernilai kosong, melainkan mengandung nilai-nilai. Hal itu sesuai dengan fungsi dulce et utile: menyenangkan dan berguna (Wellek dan Austin Warren 1989: 25). Berguna karena bisa menambah kekayaan batin, memberi inovasi. Menyenangkan karena cara menyampaikannya dengan menggunakan bahasa yang indah, sehingga tidak membosankan dan bisa memberikan perasaan senang, gembira yang terungkap secara implisit maupun eksplisit dalam menangkap serta memahami maknanya.

Tidak mudah untuk memahami semua makna yang terkandung dalam karya sastra, karena tidak jarang bahwa karya sastra itu banyak mengandung simbol-simbol atau imaji-imaji. Untuk menafsirkan simbol dan imaji tersebut perlu memiliki pengetahuan yang luas. Meski modal untuk itu sudah dimiliki, namun sering juga mengalami sedikit kekeliruan dalam mengungkap maknamaknanya, karena karya sastra bersifat multi interpretable, dapat ditafsirkan dari berbagai sudut pandang sesuai dengan penafsiran pembaca. Jadi, apa yang
tertangkap oleh pembaca tidak harus sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pengarang.

Salah satu cara pengarang mengungkapkan makna dari karyanya antara lain melalui penampilan para tokoh yang menjadi fokus pelaku cerita. Sebuah karya sastra akan menjadi menarik apabila cerita di dalamnya menjadi hidup dengan menghadirkan para tokoh dengan segala aktifitas dan konflik yang menyertainya. Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita yang terdapat dalam karya sastra.

Tokoh cerita adalah orang (-orang ) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam tindakan (Abrams dalam Nurgiyanto 1998: 155). Pengarang melalui karyanya mengungkap manusia dan kehidupannya ke dalam penokohan, oleh karena itu penokohan merupakan unsur cerita yang tidak dapat dihilangkan, melalui penokohan cerita menjadi lebih nyata dan menarik. Suharianto (1982: 31) mengungkapkan bahwa penokohan atau perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadat, dsb.

Manusia selalu memperhatikan pola-pola perilaku yang beragam. Kita bisa melihat dan mengenal kehidupan manusia lebih dalam kalau pola-pola perilaku tersebut diamati dan dijelmakan oleh pengarang melalui karya sastra yang diciptakanya. Semi (1990: 76) menyatakan bahwa penjelajahan ke dalam batin atau kejiwaan untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk-beluk manusia yang unik dan kompleks ini merupakan sesuatu yang merangsang. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Dalam banyak hal, kehidupan manusia dapat dikembangkan ke teori-teori psikologi.

Dengan begitu, teori psikologi juga dapat dipergunakan untuk mengenal pola perilaku masyarakat dalam realitas kehidupan di sekitar kita yang penuh diwarnai oleh sebuah pola kultur, yakni kultur Jawa. Kultur tersebut sangat besar pengaruhnya bagi individu yang berada di dalamnya. Hal itu dapat kita rasakan pada diri sendiri atau orang lain pada kultur yang sama. Pada dasarnya mempunyai sikap khas yang antara lain sabar, nrima, dan ikhlas. Sebagai contoh, dapat kita lihat perilaku wanita Jawa di dusun Kluthuk.

Di dusun Kluthuk yang terletak di kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) banyak ditemukan wanita Jawa yang selain mempunyai ketahanan psikis tinggi juga mempunyai fisik yang kuat. Mereka terbiasa bekerja keras secara fisik, misalnya mencari rumput untuk pakan ternak, memanggul padi hasil panen, atau menggendong barang dagangan dan masih harus berjalan jauh ke pasar. Pada umumnya wanita Jawa mempunyai kebiasaan untuk bangun paling pagi dan tidur paling akhir, sementara sepanjang hari mengurus rumah. Meski tetap harus berjualan di pasar, ia masih juga menyiapkan makan untuk suami dan anak-anaknya. Jarang ditemukan wanita Jawa yang manja dan tidak mau bekerja (Christiana S. Handayani – Ardhian Novianto, 2004: 130).

Cristiana (2004: 117) dalam Kuasa Wanita Jawa mengatakan bahwa konsep paternalistik yang secara formal hadir dalam hal pembagian peran antara laki-laki dan wanita serta bagaimana kultur dusun tersebut menempatkan laki-laki dan wanita juga unik. Ada konsepsi paternalistik yang berkembang di dalam masyarakat Jawa bahwa istri adalah konco wingking. Secara tegas Padmo, sesepuh dusun Kluthuk mengatakan:
  • “Mula bukane wong wedok ki konco wingking seko kitab suci. Naliko Gusti Allah nitahake manungso sing sepisan kuwi sing dititahake wong lanang dhisik, bar kuwi nembe wong wadon sing dijupuk saka igane bapa Adam sing sisih kiwa. Wis mung iga, sisih kiwa pisan. Pokoke wong wedok ki drajate luwih cendhek tinimbang wong lanang. Upama tangan tiba tangan kiwa, upama awak tiba bokong.”

Secara tidak langsung bisa kita menangkap bahwa konsepsi tersebut diambil dari kitab suci agama Islam maupun Kristen. Ini seperti menegaskan penjelasan Ester Boserup bahwa wanita Melayu secara tradisional aktif, namun kedatangan Islam bersama pengaruh Inggris dan Belanda membantu menciptakan pola peran serta wanita yang lebih rendah daripada laki-laki.
 
Seorang wanita Jawa dapat menerima segala situasi bahkan yang terpahit sekalipun. Mereka paling pintar memendam penderitaan dan pintar pula memaknainya. Mereka kuat dan tahan menderita. Jika pada masyarakat luas ia berada di bawah tekanan psikis untuk selalu menyembunyikan perasaan-perasaan yang sebenarnya serta dituntut untuk selalu memperhatikan kedudukan dan pangkat setiap pihak, maka keluarga menjadi tempat untuk menampung pengalihan energi yang ditekan secara sosial. Bagaimana sikap batin seorang wanita Jawa ini digambarkan dengan cantik oleh Linus Suryadi Ag. dalam prosa liriknya yang berjudul Pengakuan Pariyem.

Sebagai orang Kejawen, Linus mempunyai pribadi yang khas, lebih-lebih ditengah keluarganya yang taat terhadap agama, Katolik. Saudarasaudaranya rajin ke gereja. Tetapi tidak dengan Linus. Ia lebih percaya dengan mistik. Hal itu dikarenakan saat ia sakit parah yang dapat menyembuhkannya dengan cara dipijit adalah seorang mistikus, bukan dokter. Pengalamannya itu ia refleksikan ke dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem.

Linus mengerjakan karya barunya berupa prosa lirik Pengakuan Pariyem dalam periode 1978-1980. Linus Suryadi yang dikenal sebagai penyair yang kuat dalam lirik, kiranya menemukan kesempatan luas untuk merefleksikan suasana lingkungan, melalui karya ini. Seperti halnya pada karya-karya (lirik) Linus lainnya, Perang Troya, Perkutut Manggung, Rumah Panggung, Kembang Tunjung, Tirta Kamandanu, dan Langit Kelabu.

Prosa lirik Pengakuan Pariyem berisi tentang pengakuan seorang wanita Jawa yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga ningrat dengan aspek kehidupan berlatar budaya Jawa. Sebagai seorang pembantu rumah tangga Pariyem menyadari kedudukannya sebagai wong cilik dan fungsinya bagi kelangsungan sistem masyarakat dimana dalam keseluruhan tatanan masyarakat terdapat inter-relasi yang saling membutuhkan. Pengakuannya sebagai pembantu rumah tangga yang bukan saja melayani sebuah rumah tangga dengan segala kerepotannya sehari-hari tetapi juga melayani kebutuhan seksual putra majikannya, merupakan suatu ungkapan dunia batin wanita Jawa dari golongan yang tak berpendidikan. Sikapnya selalu nrimo ing pandum, penurut dan pasrah, serta lego lilo menjadi pembantu rumah tangga.

Lewat prosa liriknya tersebut, Linus Suryadi Ag. membuktikan bahwa karya sastra mampu bicara banyak tentang gejala sosial, tentang kehidupan kultur dan manusia yang diwarnai oleh pola kultur itu. Dengan sajian bahasa yang sederhana dan lugas sehingga pembaca mampu mengungkap nuansa makna yang terkandung. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Stephanus Djawanai (“Pengakuan Pariyem: Tinjauan Singkat dari Segi Sosiolinguistik”, majalah Basis, No. 8 Agustus, 1983, th. Ke-XXXII) tingkah laku bahasa Pariyem dengan ragam ujar santainya yang lugu sedikit banyak menunjukkan posisi sosialnya dalam hubungannya dengan majikannya di nDalem Suryomentaraman. Posisi sosialnya tidaklah statis, tetapi bergerak dan pada akhir teks ia malah menjadi tokoh pusat yang meskipun secara terselubung mengguncangkan jagad nDalem Suryomentaraman, dan lewat Pariyem pula terjalin hubungan antara jagad Ngayogyakarta dan jagad Wonosari.

Dengan membaca prosa lirik Pengakuan Pariyem, dapat memberi pengertian pada kita bahwa sesungguhnya memahami sebuah kehidupan masyarakat lewat sebuah karya sastra, akan lebih memberi pemahaman daripada setumpuk kepustakaan ilmiah dengan segala konsep bahasa yang baku. Bagi orang yang pernah hidup di dalam dunia kebudayaan Jawa sekalipun, ketika membaca prosa lirik Pengakuan Pariyem hanya sebagai orang luar, kedalaman pemahaman itu sungguh begitu jelas. Di sana digambarkan tentang konsep nrimo yang sudah amat dikenal sebagai ciri kultur Jawa pada perilaku sosial tokoh utamanya (Hotman M. Siahaan pada sebuah pengantar prosa lirik Pengakuan Pariyem).

Hal yang telah diuraikan tersebut merupakan salah satu bukti bahwa Prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. memang menarik untuk dibicarakan dari segi perilaku sosial tokoh utamanya. Seperti yang terungkap dalam sebuah pengantar Ceramah Ilmiah Populer Hotman M. Siahaan “Pengakuan Pariyem Sebuah Pengakuan Kultur yang Lugu”, Surabaya 26 Juni 1980 :
  • ”Keluguan kultur digambarkan oleh Linus dengan asyiknya. Kultur yang nyatanya begitu tegar sekalipun lembut rasanya. Dia bicara bagaimana konsep nrimo dalam kultur Jawa, dia bicara bagaimana pentingnya kesimbangan antara dua jagad di dalam kehidupan manusia, dia bicara tentang konsep manunggaling kawula dan Gusti yang sudah amat dikenal sebagai ciri kultur Jawa itu.”

Di samping hal tersebut, ada beberapa alasan lain yang mendorong penulis meneliti perilaku sosial tokoh utama prosa lirik Pengakuan Pariyem ini. Penulis tertarik kepada gaya pengungkapan Linus Suryadi Ag. yang lugas dan padat, dan dengan sajian bahasa yang hidup dalam masyarakat. Hal itu yang membuat prosa lirik ini mudah untuk dipahami. Jika boleh berpegangan pada aksioma bahwa sastrawan harus menulis dalam bahasa yang hidup dalam masyarakatnya, maka sebenarnya Linus telah melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Kita tentu saja tidak mengharapkannya menulis dalam bahasa yang berkembang di Jakarta, Pekanbaru, atau Ambon (Sapardi Djoko Darmono, Linus Dalam Sastra Indonesia, Kata Penutup kumpulan puisi Yogya Kotaku).

Tema yang tersirat dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem ini menarik untuk dibicarakan. Kehidupan kultur dan manusia yang diwarnai oleh pola kultur itu merupakan suatu gejala sosial. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan perilaku individu terhadap suatu lingkungan sosial.

Dalam kehidupan bermasyarakat kadang-kadang orang tidak cocok dengan norma-norma dalam masyarakat. Orang dapat berusaha untuk mengubah norma yang tidak baik itu menjadi norma yang baik. Jadi individu secara aktif memberikan pengaruh terhadap lingkungannya. Tetapi bisa juga sebaliknya, jika individu tersebut tidak dapat mengubah norma yang dianggapnya kurang baik, ia bisa merusak tatanan dalam lingkungan sosial tersebut, atau mengucilkan diri. Hal tersebut sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Darmanto Yatman (”Manusia Dalam Puisi dan Psikologi”, majalah Basis, No 6 Juni 1982 Tahun Ke-XXXI ) mempermasalahkan tentang pertanggungjawaban secara psikologi Pariyem yang hanya seorang babu dan berpendidikan rendah bisa mengucapkan prinsip-prinsip hidup yang ndakik-ndakik, padahal untuk mengungkapkan konsep agama dan konsep sosial secara mendalam harus melalui proses perkembangan belajar. Rustiana (2003: 101) mengatakan dalam ilmu psikologi, seorang individu dapat memperoleh konsep atau pengertian dengan dua cara, yaitu tidak sengaja dan sengaja. Cara yang tidak sengaja, berarti meperoleh konsep atau pengertian dari sebuah pengalaman. Yang sengaja dapat diperoleh dengan beberapa tingkatan. Tingkatan itu adalah tingkat analisis, tingkat mengadakan komparasi, tingkat abstraksi, dan tingkat menyimpulkan. Cara untuk memperoleh konsep atau pengertian dengan sengaja inilah seorang individu harus melalui proses perkembangan belajar.

Prosa lirik Pengakuan Pariyem memang sudah ditelaah sebagai skripsi di Fakultas Sastra Universitas Negeri Semarang, antara lain oleh Susanti SS yang berjudul ”Warna Lokal Jawa dalam Prosa Lirik Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi Ag”. Pendekatan yang ia gunakan dalam penelitian tersebut adalah sosiologi karya sastra yang mempermasalahkan karya sastra itu sendiri. Dengan pendekatan tersebut, ia mengkaji tentang budaya Jawa yang ada dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem. Namun tema perilaku sosial tokoh utama yang menggambarkan prinsip hidup orang Jawa belum ditelaah secara mendalam.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut, maka topik tentang perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. memang perlu diteliti.
 
1.2 Rumusan Masalah
Latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut, menimbulkan permasalahan sebagai berikut.
  1. Bagaimana penokohan tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag?
  2. Bagaimana perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem dalam konteks budaya Jawa?
  3. Faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem?
 
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah penulis rumuskan maka tujuan yang hendak dicapai adalah sebagai berikut.
  1. Mendeskripsikan penokohan tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag.
  2. Mendeskripsikan perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem dalam konteks budaya Jawa.
  3. Mengemukakan Faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem.

1.4 Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut.
  1. Memberikan sumbangan konseptual bagi perkembangan kajian ilmu Sastra Indonesia, khususnya mengenai penerapan teori psikologi sastra di Universitas Negeri Semarang.
  2. Memberikan masukan pengetahuan kepada pembaca mengenai beberapa perilaku sosial yang menjadi prinsip hidup orang Jawa pada kulturnya. Bagaimana konsep nrimo dalam kultur Jawa, bagaimana pentingnya keseimbangan antara dua jagad di dalam kehidupan manusia, tentang konsep Manunggaling kawula dan Gusti yang sudah dikenal dalam kultur Jawa itu.

Download skripsi lengkap:
Perilaku Sosial Tokoh Utama dalam Prosa Lirik Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi Ag.
 

0 comments:

Post a Comment