Thursday, May 8, 2014

Analisis Struktur dan Makna Cerpen "Keroncong Pembunuhan" Karya Seno Gumira Ajidarma

 

 
Download tulisan: Struktur dan Makna Cerpen "Keroncong Pembunuhan" Karya Seno Gumira Ajidarma
----------------------------------------


Cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra diharapkan memunculkan pemikiran-pemikiran yang positif bagi pembacanya, sehingga pembaca peka terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan mendorong untuk berperilaku yang baik. 

Cerpen dapat dijadikan bahan perenungan untuk mencari pengalaman karena cerpen mengandung nilai-nilai kehidupan, pendidikan, serta pesan moral. Pengalaman batin dalam sebuah cerpen dapat memperkaya kehidupan batin pembacanya.

Cerpen juga mengungkapkan fenomena sosial dalam kehidupan yang dapat digunakan sebagai sarana mengenal manusia dan jamannya. Setiap penulis cerpen mempunyai dasar ide sebagai pijakan dalam membuat cerpen. Ide tersebut biasanya didapat dari pengamatan dan penghayatan dari fenomena sosial yang terjadi di lingkungannya. Begitu juga dengan cerpen “Keroncong Pembunuhan” karya Seno Gumira Ajidarma. Dengan menganalisis cerpen tersebut kita dapat mengetahui situasi sosial dan budaya pada kurun waktu cerpen itu dibuat yaitu sekitar tahun 1980-an.

Seno Gumira Ajidarma adalah salah seorang cerpenis yang "dilahirkan" oleh media massa, khususnya surat kabar dan majalah, yang terbit di Indonesia pada kurun waktu sejak tahun 1980-an. Hampir semua cerpennya yang sampai pada awal tahun 2001 telah terhimpun di dalam sembilan kumpulan cerpen pernah dimuat dalam surat kabar maupun majalah. Selain sebagai cerpenis, Seno Gumira Ajidarma berprofesi sebagai wartawan. 

Sebagai seorang wartawan, ternyata dia mengalami kendala dalam menuliskan berita. Banyak fakta yang ditemuinya tidak dapat dijadikan berita karena dilarang oleh pemerintahan Orde Baru.

Dari latar belakang dan akitivitas penulisnya, cerpen “Keroncong Pembunuhan” menarik untuk dianalisis. Selain itu, cerpen ini juga menyiratkan realitas kehidupan masyarakat pada tahun 80-an. Tulisan ini akan menganalisis struktur dan maknanya.

 
PEMBAHASAN
A.Analisis Struktur

Analisis struktur cerpen meliputi tema cerita, penokohan, alur cerita, latar (setting), sudut penceritaan, dan amanat.

1. Tema Cerita
Tema utama dalam cerpen “Keroncong Pembunuhan” adalah konflik batin antara sebuah tanggung jawab dan hati nurani yang berlawanan dengan tanggung jawab itu. Hal ini dapat dilihat dari perasaan tokoh utama yang mulai bimbang antara menjalankan perintah –yaitu membunuh seseorang– atau menuruti bisikan hati nuraninya untuk tidak membunuhnya.

Awalnya tokoh utama berpikiran bahwa yang ia lakukan hanyalah sebuah pekerjaan. Setelah pikirannya dipenuhi pertanyaan mengapa targetnya harus dibunuh, ia mulai bimbang dan akhirnya ia berbalik menuruti kata hatinya untuk tidak menjalankan perintah pembunuhan itu.

2. Penokohan
Tokoh sentral dalam cerpen ini adalah tokoh yang tidak disebutkan namanya dan hanya disebut “aku”. Tokoh “aku” adalah seorang pembunuh bayaran dengan keahlian menembak atau sering disebut dengan sniper. Tokoh “aku” mempunyai sifat ingin tahu dan mudah dipengaruhi kata hatinya. Hal itu dilihat dari pikirannya yang mempertanyakan mengapa target harus dibunuh dan siapa yang memberi perintah pembunuhan.

Tokoh lainnya adalah seorang wanita yang juga tidak disebutkan namanya. Wanita itu berperan sebagai tangan kanan atasannya –yang memberi perintah pembunuhan– dan bertindak sebagai komando lapangan atau penunjuk target dan pemberi aba-aba bagi sang sniper (tokoh utama). Tokoh wanita mempunyai sifat mudah panik dan mau berkata jujur saat di bawah tekanan. Saat tokoh “aku” membidikkan senapannya ke arahnya, si wanita itu mulai panik. Setelah dipaksa beberapa kali akhirnya wanita itu berkata jujur.

Selain dua orang itu ada seorang laki-laki yang menjadi target yang tidak disebutkan namanya, juga seorang laki-laki yang memberikan perintah pembunuhan (atasan si wanita).

3. Alur Cerita
Cerpen ini menggunakan alur cerita lurus atau alur maju. Cerita dimulai dari tokoh “aku” yang mengawasi orang-orang dan menunggu perintah penembakan. Kemudian terjadi percakapan dengan tokoh wanita. Konflik terjadi ketika si tokoh “aku” mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada si wanita yang oleh wanita itu tidak segera dijawab. Konflik puncaknya terjadi ketika tokoh “aku” mengarahkan senapannya kepada wanita itu dan memaksa wanita itu untuk menjawab pertanyaannya. 

Konflik berakhir ketika si wanita menjawab pertanyaan. Kejadian selanjutnya tidak diceritakan secara jelas tetapi para pembaca dapat menebak bahwa tokoh “aku” tidak menembak target tetapi menembak orang yang memberi perintah pembunuhan. Hal itu dapat dilihat dari kaliamat tokoh “aku” yaitu:
“Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantungnya, ...”

4. Latar Cerita
Secara fisik cerpen ini berlatar di hotel mewah dan tempat pesta yang ada kolam renangnya. Hal itu diceritakan secara jelas dalam cerpen.
Secara sosial cerpen ini terjadi di kalangan atas dilihat dari deskripsi pada peserta pesta dengan mode pakaian yang mewah dan tempat pesta yang mewah.

5. Sudut Cerita
Penulis menyampaikan cerpen ini dengan sudut pandang orang pertama. Pengambilan sudut pandang orang pertama ini dapat membuat pembaca seolah-olah terlibat sebagai tokoh utama. Sudut penceritaan orang pertama memang cocok untuk problematika konflik batin tokoh utama.

Melalui sudut pandang orang pertama, penulis ingin mengajak pembaca untuk berempati pada tokoh utama yang pekerjaanya adalah pembunuh bayaran.

6. Amanat
Melalui cerpen ini penulis menghendaki agar setiap orang mau mendengarkan kata hatinya. Setiap perintah atau permintaan yang tidak baik harus tidak dipatuhi. Penulis menghendaki agar setiap orang berdiri di atas kebenaran dengan mengesampingkan kepentingan pribadi maupun kelompok

B. Analisis Makna
Cerpen “Kerocong Pembunuhan” dibuat penulis pada tahun 1980-an. Keadaan sosial budaya masyarakat saat itu menghadirkan gagasan bagi penulis untuk membuat cerpen ini. Perlu diketahui bahwa pada kurun waktu 1980-an ada fenomena penembakan misterius atau sering disebut “petrus”. Banyak orang yang terbunuh tertembak tanpa diketahui siapa pelakunya. Korban penembakan dari berbagai kalangan, yaitu dari para politikus atau pejabat, preman, atau para aktivis yang dinilai membahayakan kepentingan seseorang.

Seno Gumira Ajidarma mengambil gagasan dari fenomena ini dan lahirlah cerpen “Keroncong Pembunuhan”. Hal itu dapat dilihat dari pekerjaan tokoh utama sebagai pembunuh bayaran yang akan akan melaksanakan tugasnya. Adanya tokoh target pembunuhan dan tokoh pemberi perintah pembunuhan dari kalangan elit, memperlihatkan bahwa penulis mempersempit tema menjadi penembakan misterius di kalangan atas atau politikus karena adanya konflik kepentingan. Hal itu diisyaratkan dari pemberian perintah pembunuhan tanpa alasan yang jelas dan masuk akal.

Dengan cerpen “Keroncong Pembunuhan”, penulis ingin menyampaikan fenomena penembakan misterius tersebut kepada masyarakat secara terbuka. Pengambilan si penembak misterius sebagai tokoh utama membuat pembaca berempati terlebih dahulu kepada si penembak. Saat tokoh utama mengalamai konflik batin, hal ini membuat pembaca lebih berempati dan mulai memberikan dukungan kepada tokoh utama. Ini adalah hal yang menarik karena penulis mampu membuat pembaca berempati kepada tokoh yang pekerjaanya sebagai pembunuh bayaran yang dalam kehidupan nyata tokoh seperti ini akan dibenci dan dihujat oleh masyarakat.

Konflik dalam cerpen ini berakhir ketika tokoh utama sudah mempunyai keyakinan apa yang harus diperbuatnya, yaitu mengurungkan niatnya untuk menembak target tetapi mengarahkan bidikannya pada orang yang memberi perintah penembakan. Bisa dikatakan tokoh utama memberontak kepada atasannya. Hal inilah yang ingin disampaikan oleh penulis. Sebuah perintah yang tidak baik patut untuk tidak dijalankan.

Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan penulis menghendaki agar fenomena penembakan misterius berakhir karena fenomena itu meresahkan masyarakat.



KESIMPULAN
Hasil analisis struktur cerpen “Keroncong Pembunuhan” karya Seno Gumira Ajidarma” adalah sebagai berikut: cerpen ini bertemakan konflik batin antara sebuah tanggung jawab dan hati nurani yang berlawanan dengan tanggung jawab itu. Tokoh utama cerpen ini adalah tokoh yang tidak disebutkan namanya dan hanya disebut “aku”. Tokoh lainnya adalah seorang wanita yang juga tidak disebutkan namanya. Cerpen ini menggunakan alur cerita lurus atau alur maju. Cerpen ini berlatar di hotel mewah dan tempat pesta yang ada kolam renangnya. Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama.

Hasil analisis makna cerpen ini adalah bahwa cerpen ini terinspirasi oleh adanya fenonema penembakan misterius yang meresahkan masyarakat pada tahun 1980-an. Melalui cerpen ini penulis ingin menyampaikan kehendaknya agar fenomena tersebut segera berakhir dengan timbulnya kesadaran dari para pelaku penembakan. Selain itu, penulis juga ingin menyampaikan kritik kepada orang-orang yang berada di balik penembakan misterius.
-----------------------------------------------------

Download tulisan: Struktur dan Makna Cerpen "Keroncong Pembunuhan" Karya Seno Gumira Ajidarma

-----------------------------------------------------


Keroncong Pembunuhan
Karya: Seno Gumira Ajidarma


hampir malam di Yogya
ketika keretaku tiba


Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai lagu keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya.

Mereka terserak di bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan.

Tak semuanya tua memang, bahkan banyak wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, aku memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. Hmmm…

Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak dan mengacaukan kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!”

Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat komunikasi yang terpasang pada telingaku siap menunjukkan orangnya.
“Kamu sudah siap?” terdengar suara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu.
“Dari tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?”
“Sabar dong, sebentar lagi.”

Dari teras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku. Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pakaian malam yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan seperti ini.

“Siapa sasaranku?” tanyaku minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira saja.
“Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.”
Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku.

“Tapi satu hal kau boleh tahu.”
“Apa?”
“Orang itu pengkhianat.”
“Pengkhianat?”
“Ya, pengkhianat bangsa dan negara.”

Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di bawah itu.

Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan.

Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui rasanya menyenangkan.

sepasang mata bola
dari balik jendela

Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini seperti benda museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu?

Di mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas berpakaian preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting.

Malam cerah dan langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir.

“Hei, kamu masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu.
“Ya, kenapa?”
“Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!”
Aku bergegas kembali ke teras.
“Bagaimana? Sudah datang orangnya?”
“Dia memakai baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.”

Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak.

“Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di bawah daguku.
“Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.”

Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah.

Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya.

“Apakah harus kulakukan sekarang?”
“Nanti dulu, tunggu komando!”

Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina….

Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya.

Agak tegang juga aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pada tempat yang paling mematikan, untuk kemudian menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk.

Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elus tengkuknya.
“Bagaimana? Sekarang?”
“Aku bilang tunggu perintah!”

Sialan cewek itu, berani benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia bicara.

“Tunggu perintah apa lagi?”
“Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!”
“Ini tidak ada dalam perjanjian.”
“Ada! Kamu jangan main gila.”

selendang sutra
tanda mata darimu

Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju batik merah!

“Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di dadanya yang tipis.

“Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, memang dia orangnya.
“Tembak sekarang!”

Jadi seperti inilah semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar.

Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku akan menembus mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhianat?
“Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?”
“Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana?

“Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?”
“Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan!”
Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pada wanita itu.
“Laras senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin.
“Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget.
“Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?”

“Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!”
“Justru kamu yang bisa segera mati.”
“Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.”
“Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat.

“Kamu sudah melanggar kontrak.”
“Aku tidak mau menembak orang yang tidak bersalah.”
“Itu bukan urusanmu, tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang tidak bersalah.”
“Itu urusanku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!”
Wanita itu tampak beranjak akan lari.

“Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu.
Senapan ini dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa segera lenyap.”
Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah.

“Apa maumu?”
“Katakan kesalahannya.”
“Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.”
“Cuma itu?”
“Ia meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang tidak benar.”

“Lantas?”
“Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.”
“Aku ingin tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.”
“Itu bukan urusanmu. Ini politik.”
“Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.”

Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba.
“Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!”
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Aku tidak tahu apa-apa.”
“Leontinmu manis…”
“Ah, jangan, jangan tembak! Please…”
“Siapa?”
“Aku…aku bisa celaka.”

“Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…”
“Kamu gila, kamu merusak segala-galanya.”
“Dua….” Hmm, alangkah gugupnya dia.
“Ia ada di depan orang yang harus kamu tembak.”
“Berkacamata?”
“Ya.”

Kuarahkan senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Wajahnya licik dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua.

Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya.
Inilah keroncong fantasiii


No comments:

Post a Comment