Friday, January 6, 2012

Drama: Teori dan Pengajarannya (3)

Bab III
Perlengkapan Pementasan

1. Perlengkapan Pementasan Untuk Aktor dan Aktris
a. Tata Rias: Seni menggunakan bahan kosmetika untuk menciptakan wajah peran sesuai dengan tuntutan lakon.
Fungsi tata rias adalah:
1) Mengubah watak seseorang, baik dari segi fisik, psikis, dan sosial.
2) Membeikan tekanan terhadap peranannya.

Berdasarkan jenisnya, tata rias diklasifikasikan menjadi 8, yaitu:
1) Rias Jenis: Rias yang mengubah peran.
2) Rias Bangsa: Rias yang mengubah bangsa seseorang.
3) Rias Usia: Rias yang mengubah usia seseorang.
4) Rias Tokoh: Rias yang membentuk tokoh tertentu yang sudah memiliki ciri fisik yang harus ditiru.
5) Rias Watak: Rias sesuai dengan waak peran.
6) Rias Temporal: Rias yang dibedakan karena waktu atau saat tertentu.
7) Rias Aksen: Rias yang hanya memberikan tekanan kepada pelaku yang mempunyai ciri sama dengan tokoh yang dibawakan.
8) Rias Lokal: Rias yang ditentukan oleh tempat atau hal yang menimpa peran saat itu.

Berdasarkan sifatnya, tata rias diklasifikasikan menjadi 5, yaitu:
1) Base (dasar)
2) Foundation
3) Lines
4) Rounge
5) Cleansing (cream)

b. Tata Pakaian
Tujuan pemberian kostum pada aktor dan aktris adalah:
1) Membantu mengidentifikasi periode saat lakon itu dilaksanakan.
2) Membantu mengindividualisasikan pemain.
3) Menunjukkan asal-usul dan status sosial orang tersebut.
4) Menunjukkan waktu peristiwa itu terjadi.
5) Mengekspresikan usia orang itu.
6) Mengekspresikan gaya permainan.
7) Mambantu aktor dan aktris mengekspresikan wataknya.
Berdasarkan sifat dan fungsinya, kostum diklasifikasikan menjadi 5, yaitu:
1) Pakaian Dasar atau foundation
2) Pakaian Kaki (sepatu)
3) Pakaian Tubuh (body)
4) Pakaian Kepala (headdress)
5) Pakaian Pelengkap (accessories)

Berdasarkan tipenya, kostum diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
1) Kostum Historis
2) Kostum Modern
3) Kostum Nasional
4) Kostum Tradisional

2. Perlengkapan di Pentas
a. Tata Lampu
Tujuan tata lampu adalah:
1) Penernerangan terhadap pentas dan aktor.
2) Memberikan efek alamiah dari waktu.
3) Membantu melukis dekor (scenery) dalam menambah nilai warna hingga terdapat efek sinar dan bayangan.
4) Melambangkan maksud dengan memperkuat kejiwaannya.
5) Mengekspresikan mood dan atmosphere dari lakon.
6) Mamberikan variasi-variasi

Berdasarkan fungsinya, lampu diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:
1) Lampu Primer
2) Lampu Sekunder
3) Lampu untuk latar belakang.

b. Tata Pentas dan Dekorasi
Macam-macam Pentas:
1) Pentas Konvensional: Bentuk pentas yang masih menggunakan proscenium (tirai depan)
2) Pentas Arena: Bentuk pentas tidak di panggung, tetapi sejajar dan dekat dengan penonton.
3) Revolving: Panggung yang dapat diputar.
4) Elevator Lift: Tiga pentas berupa panggung atau lebih disusun secara vertikal dan digunakan silih berganti dengan menaikkan atau menurunkan panggung.
Fungsi dekorasi: Untukmemberikan latar belakang.

Berdasarkan tempat mewujudkannya, ada 2 macam dekor, yaitu:
1) Interior Setting: Jika lakon dipentaskan di dalam rumah.
2) Eksterior Setting Jika lakon dipentaskan terjadi di alam terbuka.

Komposisi pentas harus memberikan pandangan yang indah, hangat, dan menarik. Adapun aspek motif meliputi hal-hal berikut:
1) Kewajaran
2) Menceritakan kisah
3) Menggambarkan emosi
4) Mengidentifikasi perwatakan

Berdasarkan aspek teknis, maka harus diperhatikan hal-hal berikut:
1) Penyusunan komposisi pentas dengan daerah permainan hendaknya benar-benar dijaga.
2) Wujudkanlah komposisi pentas yang menghasilkan gambar yang baik.
3) Susunlah komposisi pentas yang mengontrol dan memimpin perhatian penonton kepadanya.

c. Ilustrasi Musik dan Tata Suara
1) Tata Musik
Fungsi tata musik adalah:
a) Memberikan ilustrasi yang memperindah.
b) Memberikan latar belakang.
c) Memberikan warna psikologis.
d) Memberi tekanan kepada nada dasar drama.
e) Membantu dalam penanjakan lakon, penonjolan, dan progresi.
f) Memberi tekanan pada keadaan yang mendesak.
g) Memberi selingan.

2) Tata Suara
Peran suara memberikan pelengkap adegan yang diucapkan pelaku dalam dialognya. Suara akan meyakinkan penonton terhadap adegan yang sedang ditonton.


Referensi:
Waluyo, Herman. J. 2002. Drama: Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya

0 comments:

Post a Comment