Friday, March 9, 2012

Sinopsis Novel "Bukan Pasar Malam" Karya Pramoedya Ananta Toer

Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer ini mengisahkan pemuda yang memiliki ayah seorang pejuang nasionalis. Sang ayah terkena penyakit TBC, kemudian ia mengirim surat kepada sang anak yang saat itu tinggal di Jakarta untuk kembali ke Blora kediaman ayah dan keluarganya. 

Selama perjalanan pulang ke Blora pemuda tersebut didampingi oleh istrinya yang keturunan Pasundan, ia gadis yang cantik namun cerewet, mereka baru menikah setengah tahun yang lalu. Selama perjalanan sang pemuda mencoba memperkenalkan keindahan daerah asalnya kepada istri terkasih, hingga akhirnya pemuda tersebut tiba di kampung halaman dan bertemu sang ayah tercinta yang tergolek lemah tak berdaya karena TBC.

Sang anak pun bertemu ayahnya di pembaringan rumah sakit, saat bertemu tangis haru menyelimuti mereka. Pemuda tersebut merasa miris melihat ayahnya yang dahulu berdiri kokoh sebagai seorang pemimpin perang gerilya yang cerdik, seorang guru yang hebat, seorang politikus pro rakyat yang ulung kini menjadi sesosok makhluk tak berdaya dengan TBC yang menggerogotinya. Sang anak ingin membawa ayahnya ke dokter spesialis namun terkendala oleh keuangan keluarga yang tidak mendukung. 

 Saat saat seperti itulah keakraban antara ayah dan anak yang telah lama terpisah mulai kembali terjalin, begitu pula keakraban antara sang pemuda dengan adik-adiknya juga kembali dieratkan oleh suasana dan keadaan. Namun tiba tiba sang istri meminta pemuda tersebut untuk kembali ke Jakarta dengan alasan keuangan yang memprihatinkan. Pemuda tersebut mengiyakan permintaan sang istri terkasih, akhirnya pemuda tersebut mengutarakan keinginan untuk kembali ke Jakarta kepada sang ayah, namun sang ayah menolak dengan halus dan meminta waktu seminggu lagi agar anaknya tersebut sudi menemaninya.

Waktu berjalan penuh dengan keakrabang ayah dan anak. Tanpa mereka sadari, satu minggu terlewati sudah, namun akhirnya sang anak malah tidak ingin beranjak pergi karena ia merasa memiliki kewajiban untuk menemani ayahnya yang tergolek lemah tak berdaya, maklum saja ia merupakan anak pertama dalam keluarga mereka. Kejadian yang tak diinginkan akhirnya terjadi juga, sang ayah meninggal dunia setelah dia dibawa pulang ke rumah oleh anak-anaknya. Tangis pilu tak terhindarkan, suasana hening menyelimuti keluarga mereka, rumah yang terlihat memprihatinkan turut menghiasi kesedihan mereka setelah ditinggal pergi orang tua tunggalnya. 

Setelah kepergian sang ayah pemuda mendapatkan banyak pembelajaran, hingga akhirnya ia menyadari bahwa kehidupan di dunia ini bukanlah seperti pasar malam, berduyun-duyun datang dan berduyun-duyun pula kembali, melainkan mereka menanti kepergiannya dengan segala hal yang masih dapat mereka lakukan.


----------------------------------------------------------------------------------------
Sumber: afifah rinjadi, Blog Mahasiswa Universitas Brawijaya 

Thursday, March 8, 2012

Sinopsis Novel "Mangir" Karya Pramoedya Ananta Toer

Latar belakang kisah Mangir karya Pramoedya Ananta Toer ini adalah keruntuhan Majapahit pada tahun 1527, akibat dari keruntuhan Majapahit, kekuasaan tak berpusat tersebar di seluruh daerah Jawa yang menyebabkan keadaan kacau balau. Perang terus terjadi untuk merebut kekuasaan tunggal, perang tersebut tentu saja menjadikan Pulau Jawa bermandikan darah. Sehingga yang muncul di Jawa adalah daerah-daerah kecil (desa) yang berbentuk Perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak kepada pemerintah penguasa) dan menjalankan sistem demokrasi desa, dengan penguasanya yang bergelar Ki Ageng.

Adalah Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram dan mendirikan Kota Gede pada 1577. Kemudian Panembahan Senapati, anak Ki Ageng Pamanahan naik menjadi Raja Mataram.

Saat bersamaan muncul pula sebuah daerah Perdikan Mangir dengan pemimpinnya atau biasa disebut tua Perdikan yang bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya seorang pemuda gagah dan berani beserta saudara angkatnya yang bernama Baru Klinting. Tak hanya berdua, Perdikan Mangir memperoleh bantuan dari beberapa orang demang yang masing-masing memiliki daerah kekuasaan pula. Demang Patalan, Demang Jodog, Demang Pandak, dan Demang Pajangan adalah  orang-orang yang setia selalu membantu Wanabaya.

Perdikan Mangir dan Wanabaya
Suatu hari Perdikan Mangir di bawah komando Wanabaya berhasil memukul mundur pasukan Mataram yang hendak menyerang dengan siasat perang Ronggeng Manggilingan. Setelah perang kecil tersebut usai, Wanabaya bersukaria dengan menari bersama wanita ronggeng keliling yang bernama Adisaroh. Adisaroh adalah seorang wanita yang sangat cantik sehingga membuat Wanabaya tak mampu melepaskan pandangannya dari Adisaroh yang lama kelamaan membuatnya jatuh hati kepadanya.

Lain halnya dengan Wanabaya, para demang dan Baru Klinting justru sibuk berdebat sengit akan tingkah laku Wanabaya yang menurut Demang Patalan dan Demang Pandak tidak sepatututnya dilakukan oleh seorang tua Perdikan. Sebaliknya Demang Jodog dan Demang Pajangan justru membenarkan apa yang dilakukan oleh Wanabaya, sementara itu Baru Klinting hanya bisa menjadi penengah antara kedua kubu yang berseteru.

Baru Klinting yang pandai bersilat lidah akhirnya memutuskan untuk menghadapkan Wanabaya beserta Adisaroh ke hadapan para demang. Mereka menuntut Wanabaya agar dapat bersikap bijak layaknya sebagai seorang tua Perdikan, bukannya malah mabuk sambil menari-nari bersama Adisaroh seusai perang. Bukan kepalang kekesalan Wanabaya, akhirnya di hadapan seluruh demang termasuk ayah Adisaroh Tumenggung Mandaraka, ia menyatakan rasa cintanya kepada Adisaroh dan hendak mempersuntingnya. Tak ada pilihan bagi Adisaroh untuk menolak begitu juga dengan para demang yang tak dapat membendung hasrat Wanabaya muda.

Tak henti sampai di situ, Baru Klinting tetap memberi wejangan dan nasihat kepada Wanabaya akan keputusan yang telah ia ambil. Dengan atau tanpa Adisaroh Wanabaya tetap harus menjadi orang yang paling setia dan cinta pada Perdikan Mangir serta tidak akan melemah pendirian. Tetap gagah berani dan terus maju melawan Mataram sebagai seorang setiawan.

Akhirnya Pambayun mengatakan yang sesungguhnya kepada Wanabaya bahwa sebenarnya dirinya adalah Putri Pambayun anak putri dari Panembahan Senapati dan Tumenggung Mandaraka tak lain adalah penasihat Mataram yaitu Ki Juru Martani. Bukan main kesalnya Wanabaya yang ternyata selama ini telah dibohongi oleh isteri tercintanya sendiri, sambil bersujud menangis Pambayun meminta maaf dan menyatakan rasa penyesalan dan bersalahnya. Apa daya wanabaya yang telah naik pitam tak kuasa menahan amarahnya dan terus menggerutu menungu kedatangan Baru Klinting yang mungkin bisa menenangkannya.

Hari kunjungan yang dinanti telah tiba, inilah saatnya wanabaya dan Pambayun beserta seluruh bala tentara Mangir menuju Mataram. Di lain pihak Panembahan Senapati, Ki Ageng Pamanahan, dan Ki Juru Martani sudah tak sabar menunggu menantunya Wanabaya menghadap. Ketika tiba di Mataram bala tentara Mangir langsung menyerbu Mataram dengan segenap kekuatan yang ada. Wanabaya dan Baru Klinting pun ikut menyerbu Mataram dan langsung menuju ruang pertemuan untuk menghujamkan kerisnya kepada Panembahan Senapati. Ketika hendak berlari menghujam kan kerisnya, Wanabaya ditikam dari belakang oleh Pangeran Purbaya yang merupakan kakak dari pambayun. Begitu juga dengan Baru Klinting, setelah menangkis serangan demi serangan akhirnya ia pun tewas oleh tikaman tombak Panembahan Senapati. Tak hanya mereka berdua, Ki Ageng Pamanahan ayah dari Panembahan Senapati pun tewas saat itu juga. Berakhirlah sudah perjalanan Perdikan Mangir di tangan Mataram, hanya tersisa Pambayun yang tengah bersedih sanbil memeluk jasad suami tercinta sang Tua Perdikan Mangir Wanabaya sambil terus berkata sendiri tanpa arti.


-----------------------------------------------------------
Sumber: http://boekoe-gratis.blogspot.com 

Sinopsis Novel Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata

 

Awal cerita novel Padang Bulan karya Andrea Hirata ini bermula dari kisah seorang perempuan yang bernama Syalimah yang menceritakan pengalamannya saat pertama kali dekat dengan Zamzami, dimana Zamzami adalah orang yang pertama dan terakhir yang memberikan ia sebuah kejutan. Syalimah mendapatkan sebuah kejutan berupa sepeda baru Sim King made in RRC yang sudah ia idam-idamkan sejak dulu. Zamzami yang sangat menyayangi istri, Syalimah dan anaknya. Kecintaan Zamzami kepada Enong, anak perempuan sekaligus sulung, digambarkan Andrea dengan upaya Zamzani membelikannya kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata, karena Enong memang sangat senang terhadap pelajaran Bahasa Inggris. “Satu miliar itu banyak sekali Nong. Ayah pun tak tahu berapa jumlah nolnya. Tujuh belas barangkali,” (hal 12). 

Akan tetapi kebahagiaan Syalimah tidak berlangsung lama. Kecelakaan tragis menimpa suaminya, Zamzami. Zamzami tertimbun tanah. Syalimah terpaku di tempatnya berdiri. Nafasnya tercekat, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Syalimah berlari dan menggali tanah dengan tangannya sambil tersedak-sedak memanggil-manggil suaminya. Keadaan semakin sulit karena hujan turun. Tanah yang menimbun Zamzami berubah menjadi lumpur. Galian demi galian terus dilakukan Syalimah, tiba-tiba Syalimah melihat tangan dari Zamzami suaminya. Para penambang lainnya menarik tangan Zamzami, lelaki kurus itu tampak seperti tak bertulang, Zamzami diam tak bergerak semuanya telah terlambat. Akibat dari kejaian itulah Syalimah kehilangan tulang punggung keluarga.

Akibatnya gadis kecilnya yang berusia 12 tahun, yang bernama Enong harus rela ia jadikan korban. Enong sangat gemar pada pelajaran bahasa Inggris, namun terpaksa harus berhenti sekolah lantaran ayahnya meninggal, Enong terpaksa harus berhenti dari bangku sekolah kelas 6 dan Enong harus mengambil alih seluruh tanggung jawab keluarga.  Kendati tidak meneruskan sekolah, namun semangat Enong untuk menguasai Bahasa Inggris tetap kuat. Berbagai usaha telah dilakukan Enong demi untuk memperoleh sebuah pekerjaaan. Enong sadar gadis seusia dia sangat susah untuk memperoleh pekerjaan, karena Enong sama sekali tidak memiliki keahlian. Jangankan keahlian untuk bekerja ijazah SD saja Enong belum memperolehnya. 

Syalimah, ibunda Enong dari kemarin telah menyiapkan keberangkatan Enong ke Tanjung Pandan, tapi ia tak sanggup. Jika melihat tas yang akan dibawa putrinya, air matanya berlinang. Satu-satunya yang ia bisa lakukan hanyalah menyenangkan hati anaknya, dan itu mungkin ia lakukan jika ia sendiri tampak kalah atas situasi yang menjepit mereka. Maka Syalimah selalu meyembunyikan kesedihannya. Namun, pertahanan yang sesungguhnya rapuh itu runtuh hari ini waktu ia melihat Enong menyimpan buku-buku sekolahnya di bawah dipan. Enong menyimpan semua buku, kecuali Kamus Bahasa Inggris Satu Milliar Kata hadiah dari ayahnya dulu. Katanya ia akan membawa kamus itu kemana pun ia pergi. Tangis Syalimah terhambur. Ia tersedu sedan dan memohon maaf pada putri kecilnya itu. Keesokan harinya Syalimah dan putrinya Enong melintasi padang ilalang , meloncati parit –parit kecil galian tambang, memotong jalan menuju jalur truk-truk timah yang akan berangkat ke Pelabuhan Tanjung Pandan. Saat itu juga Enong berpisah dengan Syalimah ibunya.

Enong langsung hilir mudik di pasar menawar-nawarkan diri untuk bekerja apa saja. Namun tak semudah yang disangka. Juragan menyuruhnya pulang dan kembali ke sekolah. Banyak yang mengusirnya dengan kasar. Ketika ditanya ijazah, ia hanya bisa menjawab bahwa ia hampir tamat SD. Ia pun ditampik untuk pekerjaan rumah tangga atau pabrik karena tampak sangat kurus dan lemah. Penolakan demi penolakan ini ia alami berkali-kali selama berhari-hari. Enong tak berkecil hati. Kejadian itu memberinya pelajaran yang berharga. Bukanya sedih karena tak dipedulikan, ia malah senang sebab lain waktu ia tahu apa yang harus dilakukan.  

Akhirnya Enong memutuskan bekerja menjadi pendulang timah. Pendulang timah perempuan pertama di dunia ini telah lahir. Pekerjaan  mendulang timah amat kasar. Berlipat-lipat lebih kasar dari memarut kelapa, menyiangi kepiting, kerja di pabrik es, tukang cuci atau sekadar menjaga toko. Pendulang timah dipanggil kuli mentah, artinya kuli yang paling kuli. Jabatan di bawah mereka hanya kuda beban dan sapi pembajak.pendulang berendam seharian di dalam air setinggi pinggang dan ditikam langsung tajamnya sinar matahari. Berkubik tanah basah bercampur batu dan kaolin sehingga sangat berat, harus dimuat ke dalam dulang, yang juga beratnya tak kepalang. Sendi pinggang yang tak kuat dapat bergeser.

Radang sendi, wabah kaki gajah, penyakit kulit yang aneh karena virus lumpur, paru-paru yang hancur karena selalu menahan dingin dengan terus-menerus merokok, dan lantaran miskin, rokok yang dibeli adalah rokok murah sekali yang tak karuan asal muasalnya. Namun putri kecil Syalimah itu gembira bukan main mendapat pekerjaan baru sebagai pendulang timah karena pekerjaan itu tak mengharuskannya memoles gincu, berbedak, berdandan, dan tak perlu membuatnya berbaju berlapis-lapis dan memang karena ia memang tak punya pilihan lain. Hal itu dilakukan Enong semata-mata hanya untuk keluarganya tercinta. 

Hari demi hari pasir menipu Enong. Jika ia merasa lelah, ia membuka lagi kamus bahasa Inggris Satu Miliar kata pemberian ayahnya, Zamzami. Disisi lain, lokasi tambang timah itu adalah tanah perebutan yang tak jarang menimbulkan keributan, bahkan pertumpahan darah. Ini perkara sensitive. Jika petani bergantung pada apa yang ditanam, penambang bergantung pada lahan yang dikuasai. Perjuangan Enong membuahkan hasil. Perempuan kecil yang berusia 12 tahun itu akhirnya mampu mendapatkan timah. Antara kagum, malu,  iri, mereka kesulitan memulang-mulangkan kata meremehkan mereka pada Enong selama ini. Enong tak memikul timah sekarung seperti pendulang pria lainnya. Timahnya hanya sekaleng susu kecil, tapi lebih dari  cukup membeli sepuluh kilogram beras. 

Enong bangga tak terkira. Ia berhasil membeli beras untuk ibu dan saudara-saudaranya.Bersemangat setelah mendapat timah pertama, Enong semakin giat bekerja. Ia tidak tahu, di pasar, dibalik gelapnya subuh, pria-pria bermata jahat di tempat juru taksir itu telah  bersiap membuntutinya. Mereka ingin mengintai lokasi Enong mendapat timah. Siang itu, ketika tengah menggali tanah, Enong mendengar salak anjing. Salak dari begitu banyak anjing. Ia berbalik dan terkejut melihat beberapa orang pria berlari menyongsongnya dari pinggir hutan sambil mengucung-acungkan parang, panah, dan senapan rakitan. Mereka berteriak-teriak mengancam dan melepaskan tali yang mengekang leher belasan ekor anjing pemburu. Enong sadar mungkin ia telah memasuki lahan orang. Ia maklum akan bahaya besar baginya. Ia berlari menyelamatkan diri. Melihatnya kabur, orang-orang itu makin bernafsu mengejarnya. Mereka mengokang senapan rakitan, menembaki dan memanahnya. Enong pontang panting menerobos gulma. Ia panik mendengar letusan senjata dan melihat anak-anak panah berdesing di dekatnya.

Salak anjing meraung-raung. Enong diburu seperti pelanduk. Ia berlari sekuat tenaga karena takut diperkosa dan dibunuh. Ia tak memedulikan kaki telanjangnya.yang berdarah karena duri dan pokok kayu yang tajam. Malangnya, ia tak dapat berlari lebih jauh karena di depannya  mengadang tebing yang curam. Di bawah tebing itu mengakir sungai yang berjeram-jeram. Enong menoleh kebelakang, anjing-anjing pemburu sudah dekat. Ia berlari menuju tebing dan tanpa ragu ia meloncat. Tubuh kecilnya melayang, lalu berdentum dipermukaan sungai. Ia tenggellam bak batu, tak muncul lagi.

Enong lolos dari orang-orang yang memburunya karena nekat terjun dari tebing hulu sungai. Harapannya untuk selamat sangat kecil, namun dimakan buaya, mati terbentur batu di dasar sungai, atau tewas tenggelam, jauh lebih baik diperkosa dan dibunuh. Ditengah hutan itu, hukum tak berlaku, tak seorangpun akan menolongnya. Kepalanya terhempas di dasar sungai. Ia pingsan. Arus yang deras mengombang-ambingnya sekaligus membuatnya terlepas dari incaran buaya. Ia terlonjak-lonjak menuju hilir. Ia masih bernafas. Ketika ia sadar ia mendapati dirinya tersangkut di akar bakau. Rembulan kelam terpantul di atas sungai yang keruh. Ia bangkit dengan susah payah, compang-camping. Kepalanya terluka dan mengeluarkan darah. Ia terseok-seok meninggalkan muara.

Sungguh mengerikan apa yang telah ia alami. Beberapa hari Enong tak berani keluar rumah. Ia tak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapa pun. Tidak juga pada ibunya. Sejak itu Enong tak bisa mendengar suara anjing menggonggong. Jika mendengarnya, ia merinding ketakutan. Kejadia itu telah membuat Enong trauma. Namun, di rumah itu ia dihadapkan pada pilihan yang amat sulit. Ia berusaha melupakan kejadian yang menakutkan itu. Ia harus kembali menambang karena ia, adik-adik, dan ibunya, sudah memasuki tahap terancam kelaparan.

Suatu ketika, dalam perjalanan menuju ladang tambang, Enong mendadak berhenti di muka Warung Kopi Bunga Seroja. Enong tertegun disamping sepedanya. Tubuhnya gemetar melihat wajah-wajah lelaki sangar yang minggu lalu memburunya di hutan. Mereka mengelilingi seorang pria yang tampak amat disegani. Ia paham bahwa lelaki-lelaki pemburunya itu adalah orang bayaran pria itu. Dibenamkannya wajah pria itu ke dalam benaknya. Kemudian, setelah sekian lama menatap wajah lelaki itu, Enong mendengar salakan belasan ekor anjing yang ganas, memekakkan telinganya. Padahal, tak ada seekor pun anjing di situ. Enong ketakutan dan menutup telingannya dengan tangan sehingga sepedanya terjatuh. Pria itu tak menyadari bahwa Enong sedang berada di dekatnya, bahwa saat itu mereka tersiap ke dalam pusaran nasib yang sama, dan ketika nanti mereka berjumpa lagi, Enong yang teraniaya akan membatalkan pria kejam itu dari ambisi terbesarnya.

Di sisi lain novel ini menceritakan tentang perjalanan cinta antara Ikal dengan A Ling. Dalam kesendiriannya Ikal bergumam dalam hati. Bulan Oktober tahun ini, dadaku hanya berdebar untuk tanggal 23 menunggu hujan pertama, tapi juga  untuk ayahku. Tak pernah terbayangkan aku akan berada dalam situasi seperti ini aku memusuhi ayahku sendiri. Genap sebulan kutinggalkan rumah. Kecewa pada ayah. Alasannya sungguh “Absurd”; Cinta. Aku menumpang di rumah Mapangi,orang bersarung kawan lamaku. Sering sepupu-sepupuku datang diutus Ayah untuk membujukku untuk pulang ke rumah.

"Semuanya tentu akan berbeda andai saja ayah menerima A Ling. Sekarang, saban hari aku menunggu Mualim Syahbana melayarkan perahunya. Akan kubawa lari saja perempuan Tionghoa itu. Kubawa lari ke Jakarta. Meski itu terang-terangan, seterang matahari di atas ubun-ubun, bahwa aku melawan ayahku sendiri. Sungguh menyedihkan keadaan ini. Aku telah banyak mengalami peristiwa buruk, namun permusuhan dengan ayah merupakan hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidup aku. Tak pernah, tak pernah meski hanya sekali sebelumnya menentang ayah. Aku telah dibesarkan dengan cara bahwa memusuhi orangtua adalah sesuatu yang tak mungkin terjadi. Apa yang kulakukan sekarang, seumpama burung ranggon melawan angin. Dua hal yang diciptakan tidak saling bertentangan.

"Berulang kali kusesali mengapa ayah musti berada di tengah pilihan yang runyam ini. Mengapa ia yang tidak mengatakan tidak padaku, mengatakan tidak untuk sesuatu yang paling kuinginkan. Sungguh jiwaku tidak kuat jika harus memusuhi ayahku sendiri, namun kemungkinan lain yang tak dapat kutanggungkan adalah jika aku harus kehilangan perempuan Tionghoa itu.  Itu bak sendi pada buku-buku jemariku. Ia bak arus dalam sungaiku. Aku tak sanggup, tak sanggup."

Ikal menyadari bahwa yang bisa membantunya adalah Detektif M.Nur. segala usaha telah dilakukan oleh Ikal dan Detektif M. Nur untuk mendapatkan A Ling namun tetap saja gagal. Sesuatu telah terjadi, detektif M.Nur mengatakan kepada Ikal kalau A Ling sudah bertunangan dengan Zinar. Namun, kebahagiaan Ikal hanya sementara, karena A Ling ternyata telah dijodohkan dengan lelaki pemilik toko kelontong yang menjual gula dan tembakau bernama  Zinar. Lelaki yang secara fisik dan finansial lebih baik dari Ikal memang berbeda kelas dengannya. 

Jadi, teruslah novel Padang Bulan menjadi tempat Andrea menceritakan kegilaan Ikal yang lain karena terbakar api cemburu. Ikal yang menginginkan A Ling kembali berboncengan sepeda dengannya melakukan upaya sportif untuk mengalahkan Zinar. Caranya?bertanding dengan Zinar dalam olahraga catur dan sepakbola (Ikal gagal masuk tim voli, alasannya sebaiknya Anda baca sendiri) dalam acara lomba 17 Agustus-an. 

Mengenai keinginan Ikal melawan Zinar bermain catur juga membawa kelucuan tersendiri saat ia berkata kepada Ibunya mengenai hal ini; 

“Jadi, kau pikir hanya karena kau punya kawan seorang guru catur di negeri antah berantah sana, lalu kau bisa main catur?….Keluarkan ijazah-ijazahmu,” 
“Aku cemas apa yang akan dilakukan ibu,,,,kupikir ia akan mencampakkannya ke tungku, dihamburkan ke pekarangan atau dilemparkan ke dalam sumur, tapi tidak. Ibu membawanya ke ambang jendela. Ia membuka map itu, lalu menerawang ijazahku satu per satu di bawah sinar matahari.” 
“Kutaksir, ijazah-ijazahmu ini banyak yang palsu, Bujang.” (hal 148) 

Berbagai cara gila yang Ikal lakukan untuk mendapatkan kembali cinta A Ling hampir menjadikannya menjadi bujang lapuk yang mati muda, hanya karena keteledorannya menggunakan Octoceria. 

Love walks on two feet just like a human being 
It stands up on tiptoes of insanity and misery 

Insanity (kegilaan) dan misery (kesengsaraan) yang menjadi kata kerja yang dialami Ikal karena patah hati ditinggalkan A Ling. Puncaknya, A Ling datang ke rumah Ikal tepat saat ia sudah mengibarkan bendera putih kepada Zinar dan berketetapan untuk pergi merantau mencari kerja di Jakarta. Terlebih kedatangan A Ling adalah untuk memberikan undangan pernikahannya dengan Zinar. Saat Ikal datang ke pernikahan A Ling dengan Zinar, ia menyelipkan secarik puisi yang ia gubah sewaktu SD dulu saat perasaan aneh itu hinggap saat melihat kuku-kuku cantik A Ling;  

Komidi berputar pelan 
Lampu-lampu dinyalakan 
Komidi melingkar tenang 
Hatiku terang  
Terang benderang menandingi bulan 

Entahlah, nampaknya Ikal memang berbakat alami sebagai penyair puisi, selain puisi tersebut, Ikal pun secara spontan membantu Enong membuat tugas menulis puisi dalam kursus Bahasa Inggrisnya berjudul Bulan di Atas Kota Kecilku yang Ditinggalkan Zaman, yang dalam Bahasa Inggrisnya pun menurut saya tetap bernuansa klise sekaligus lucu. 

Novel Padang Bulan juga memperkenalkan Detektif M Nur dengan hewan merpati kesayangannya bernama Jose Rizal sebagai salah satu tokoh baru yang cukup dominan selain Enong. Lelaki yang dituliskan sebagai tetangga Ikal ini memancing pertanyaan serupa dengan Arai  dalam cerita Laskar Pelangi. Kemana Detektif M Nur yang bernama Ichsanul Maimun bin Nurdin Mustamin berada saat masa kecil Ikal bersama laskarnya? 

Namun, hal itu tidaklah menjadi persoalan, selain karena detektif melayu partikelir ini menjadi tokoh kunci pada novel lanjutannya di Cinta di Dalam Gelas, ia pun memiliki karakteristik yang kuat sebagai pendamping Ikal dalam dwilogi ini, lagi-lagi layaknya Arai dalam Sang Pemimpi dan Edensor. Andrea pun menaruh satu sub bab tersendiri untuk mendukung latar belakang detektif nyentrik ini.

“Badannya kecil, kulitnya gelap, rambutnya keriting kecil-kecil, alisnya hanya satu setengah,,,,,waktu kelas tiga ia terjatuh dari pohon nangka,,,,ia tidak bisa bersekolah beberapa lama, tapi saat ia sekolah lagi, ia menjadi pelupa dan sering mendengus seperti kambing bersin: nges,,nges,,” 
“Alhasil, tiga tahun berturut-turut ia tidak naik kelas. Ia bosan, guru-gurunya bosan, orangtuanya bosan, menteri pendidikan pun bosan, ia berhenti sekolah,” (hal 41-42). 

Singkat cerita Dalam perjalanan hidupnya, Enong kemudian bertemu dengan Ikal yang akhirnya bisa mengenalkan Enong dengan Ninochka Stronovky, seorang grand master perempuan catur internasional 

“Tokoh utama dalam novel Dwilogi Padang Bulan ini ada tiga orang, yakni Enong, Ikal dan Ninochka Stronovky. Ninochka Stronovky merupakan grand master catur sekaligus teman saya sendiri,” terangnya. 

-------------------------------------------------------------------------------
Sumber: http://amell-layarbiru.blogspot.com

Sinopsis Novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam Karya Nassirun Purwokartun

Pangeran sekar begitu marahnya karena merasa haknya dirampas oleh Waliyul Amri yang memberikan tahta sultan Demak Bintoro ke tangan Trenggono, adik lelakinya beda ibu. Ia merasa dialah yang lebih tepat menjabat sultan karena dia lebih tua. Sesungguhnya dia sudah merasa dilangkahi ketika Waliyul Amri memilih Pati Unus, adik lelakinya, sebagai sultan Demak menggantikan ayahanda Raden Fatah. 

Memang di kesultanan Demak Bintoro tidak berlaku konvensi lama yang mengakar di kerajaan-kerajaan nusantara dimana seorang anak lelaki tertua secara otomatis menjadi putera mahkota yang kemudian diproyeksikan sebagai pengganti kedudukan raja kalau sang raja lengser. Kesultanan Demak dengan tatanannya sendiri memiliki kaidah bahwa segala keputusan penting pada kesultanan harus mendapat restu atau dimusyawarahkan dulu dalam rapat Waliyul Amri. 

Waliyul Amri sendiri adalah sekelompok ulama sebagai penasihat raja dan sebagai tempat meminta pertimbangan bagi raja dalam memutuskan perkara atau kebijakan. Waliyul Amri juga memegang peran sebagai penyebar dakwah islam di tanah Jawa. Dengan adanya Waliyul Amri ini, kedudukan raja atau sultan di kerajaan Demak tidak sesakral, sehebat, sekuat raja-raja kerajaan nusantara era sebelumnya seperti Sriwijaya dan Majapahit. Raja bukan sebagai pengejawantahan Tuhan di muka bumi. Akan tetapi kekuasaannya dibatasi dan terkendali oleh Waliyul Amri.

Dengan demikian, tidak aneh jika pengganti Raden Fatah adalah justru anak bungsu: Pati Unus bukan Pangeran Sekar atau Trenggono. Dengan terpilihnya Pati Unus, sebenarnya Pangeran Sekar sudah merasa haknya dirampas. Karena ia masih beranggapan dan masih terpatri dalam jiwanya bahwa pengganti raja adalah anak laki-laki tertua. Ia bisa menerima keputusan Waliyul Amri itu setelah menerima penjelasan tentang alasan mereka mengangkat Pati Unus.

Pati Unus memerintah Demak hanya dalam waktu kurang lebih tiga tahun. Waktu yang relatif pendek untuk mengurus sebuah pemerintahan besar seperti Demak. Mangkatnya Pati Unus ini diikuti musyarawah Waliyul Amri untuk menentukan penggantinya. Pangeran Sekar dengan PD dan yakin dirinya yang terpilih menggantikan adiknya sebagai sultan Demak. Akan tetapi, yang diputuskan Waliyul Amri tidak demikian. Waliyul Amri mengangkat Trenggono sebagai sultan Demak pengganti Pati Unus. Sontak, marahlah Pangeran Sekar dengan keputusan Waliyul Amri ini. Dia merasa sudah bersabar selama tiga tahun untuk mendapatkan haknya ternyata tidak membuahkan hasil. Pangeran Sekar merasa dihianati, dianaktirikan, dizalimi Waliyul Amri. 

Berbagai upaya dilakukan Bupati Jipang Panolang ini untuk menunjukkan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Demak, khususnya Waliyul Amri. Pangeran sekar berhasil mencuri Keris Brongot Setan Kober yang merupakan keris pusaka keraton yang digunakan untuk upacara pelantikan Trenggono menjadi Sultan Demak. Dengan keris pusaka itu Pangeran Sekar marah-marah di pendopo Kesultanan Demak menuntut hak yang dirasanya dirampas oleh pemerintah Demak.Untunglah tidak sampai terjadi kekisruhan yang begitu berbahaya dari peristiwa itu.

Sunan Kudus, sebagai guru Pangeran Sekar, yang merupakan pemimpin Waliyul Amri berhasil meredam amarah Pangeran Sekar. Sunan Kudus berhasil membujuk Pangeran Sekar untuk tidak berbuat nekat. Keris Brongot Setan Kober berhasil diminta dan disimpan di Panti Kudus, sehingga tidak disalahgunakan oleh Pangeran Sekar.

Keris yang tersimpan di Panti Kudus dicuri oleh Bagus Mukmin (Prawoto) dan kemudian digunakan untuk menghabisi Pangeran Sekar di Kali Tuntang. Prawoto berpikir bahwa pembuat onar dan kekisruhan harus dimusnahkan. Pangeran Sekar dianggapnya akan mengkudeta pemerintahan ayahnya.

Wafatnya Pangeran Sekar ini meninggalkan empat orang istri yang masing-masing mengandung anaknya. Dari masing-masing istri inilah kemudian lahir Penangsang, Mataram, Panuntun, dan Panuntas. Penangsang dilahirkan dari istri Pangeran Sekar dari anak Bupati Jipang Panolang. Dengan demikian, kelak Penangsanglah yang menggantikan ayahandanya menjadi Bupati Jipang Panolang yang wilayahnya terluas di antara kabupaten-kabupaten lain di Demak.

Penangsang memimpin Jipang Panolang sehingga menjadi sebuah kadipaten dari Kesultanan Demak yang paling makmur, kaya, dan sejahtera.  Bahkan warga Pajang yang berbatasan langsung dengan Jipang Panolang, berbondong-bondong pindah ke wilayah Kadipaten Jipang. Agar mendapat perhatian dari Jipang, agar turut merasakan kemakmuran di wilayah pemerintahan Jipang.  

Penangsang, sang pemimpin Jipang, memiliki watak yang tegas, keras dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan. Penangsang begitu marah setiap kali ia disama-samakan dengan ayahandanya, Pangeran Sekar. Ia lebih memilih menjadi dirinya sendiri. 
Sultan Trenggono hendak menaklukkan Blambangan yang belum juga mau bergabung dengan Demak Bintoro. Blambangan malah bekerja sama dengan Portugis di Malaka. Dalam perjalanan menuju Blambangan, Trenggono gugur oleh seorang penyusup. Musuh itu menyusup menjadi abdi dalem pembawa tempolong,  tempat untuk meludah Sang Raja dari hasil kunyahan kinang. 

Wafatnya Trenggono memunculkan permasalahan tentang siapa penggantinya. Sunan Kudus menjagokan Penangsang untuk diusulkan pada rapat dewan Wali. Sunan Kalijogo dan Sunan Muria mengusulkan Bagus Mukmin, nama kecil Raden Prawoto. Penangsang dengan tegas menolak pinangan Sunan Kudus. Ia berdalih ingin memajukan Jipang saja. Dia tidak tertarik untuk menjadi Sultan Demak. Akhirnya dengan berbagai bujuk rayu, Penangsang akhirnya mengiyakan pinangan tersebut. 

Di sisi lain Bagus Mukmin pun menolak untuk dicalonkan menjadi Sultan Demak. Ia merasa tidak pantas. Tanganya mulai ringkih, matanya buta, kondisi fisik yang tak lagi prima untuk memimpin sebuah kerajaan besar sekaliber Demak Bintoro. Ragu, bimbang, dia bingung menyelimuti pikiran Mukmin hingga menjelang hari digelarnya Rapat Musyawarah Waliyul Amri. Ia juga dihantui rasa bersalah atas tindakan yang dilakukannya sebagai dalang atas Tragedi Kali Tuntang yang menyebabkan Pangeran Sekar terbunuh. 

Hingga akhirnya rapat Waliyul Amri pun digelar dengan suara Mayoritas memilih Bagus Mukmin. Ketika ditanyakan kepada Mukmin: “Apakah bersedia untuk menjadi Sultan Demak, Bagus Mukmin hanya diam dalam kebutaannya. Diamnya dianggap menyetujui oleh Dewan Wali. Mukmin semakin gugup, bingung tak tahu harus berbuat  apa. Padahal jauh-jauh hari ia sudah mengungkapkan bahwa dia tidak mau untuk dicalonkan menjadi Sultan Demak. Itu pulalah yang membuat Penangsang mau mendatangi Rapat Dewan Wali. Sedianya ia tidak mau datang sama sekali. Sunan Kudus menyatakan bahwa jika Penangsang tidak mau datang, sebagai calon Sunan Demak maka Kerajaan Demak Bintoro terancam mengalami kekosongan raja. 

Namun setelah terjadi pemilihan Sultan Demak, dihasilkan keputusan bahwa Mukmin sebagai Sultan Demak Bintoro pengganti Sultan Trenggono. Marahlah Penangsang atas kejadian itu. Bukan kemarahan karena dia yang tidak terpilih. Namun ia marah karena informasi yang selama ini diterimanya tidak benar. Informasi bahwa Mukmin menolak dicalonkan menjadi Sultan Demak. Ia merasa dibohongi. Ia merasa dipermainkan atas kejadian tersebut. Ia merasa dipermalukan di rapat Dewan Wali seolah dia menjagokan diri lalu kalah dengan Mukmin. Padahal tidak sama sekali. Ia sedikit pun tidak tertarik dengna tahta sebagai Sultan Demak.

-------------------------------------------------------------------
Sumber: http://haryosongosongo.blogspot.com

Resensi Novel Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan Karya Tasaro


Adalah sebuah gebrakan baru di buat oleh Tasaro GK, seorang penulis muda yang kemampuan menulisnya tidak diragukan lagi. Tasaro mencoba menulis kisah Rasulullah SAW dalam sebentuk novel biografi. Dibutuhkan keberanian untuk menoreh kisah Lelaki teragung sepanjang masa dengan perpaduan sastra dan kenyataan, siroh dan khayalan. Memang sudah banyak novel biografi yang telah ditulis, namun untuk ukuran kisah Rasulullah SAW, kekasih Allah bolehkah?

Novel biografi ini kemudian menuai pro dan kontra. Ada yang memberikan apresiasi. Namun, ada juga yang tidak bersepakat. Alasannya, untuk orang awam yang belum mengenal Rasul, mungkin akan terjadi kesulitan dalam membedakan mana cerita rekaan dan yang mana sungguhan, hal tersebut menjadi fatal. Terlebih tidak ditemukan penjelasan tentang yang mana kisah rekaan dan yang mana siroh Rasulullah di bagian mana pun novel tersebut.

Tapi, terlepas dari pro dan kontra tersebut saya pikir Tasaro memiliki alasan yang kuat menulis tentang Rasulullah, sebuah alasan yang sama yang dirasakan semua ummat yang mengenal beliau, rindu dan cinta yang begitu mendalam. Ya Rasul, lumpuh kami karena rindu... Namun, ada baiknya jika Tasaro tetap mempertimbangkan dan memikirkan ulang bagaimana agar para pembaca awam paham betul bahwa Kasva dan Astu hanyalah tokoh selingan, sebuah hasil kreativitas imajinasi. Sedangkan kisah Rasulullah dan para sahabat adalah suatu yang nyata, sebuah sejarah yang akan terus mengabadi yang wajib dijadikan junjungan.

Di lain sisi, tidak dapat pula dipungkiri, Tasaro memiliki cara yang berbeda menggambarkan kisah Rasulullah SAW. Kekayaan majas dan metafora mampu menghadirkan makna dengan daya pikat istimewa. Ditambah dengan pilihan diksi nan indah pada tiap rangkaian kaliamat mampu membuat pembaca terhanyut dalam setiap kisah.

Hadirnya tokoh Kashva dan Astu sebagai tokoh selingan dalam novel ini pada awalnya memang cukup tertarik, terutama dengan diskusi-diskusi filsafat anatra Kashva dan Astu yang begitu menantang. Tentang pencarian serta rasa penasaran Kashva terhadap Himada, sosok pangeran kedamaian yang dijanjikan oleh semua kitab suci di seluruh dunia, termasuk kitabnya, Zardust. Hanya saja, saat khusyu menyelami kisah Rasulullah, tiba-tiba terpotong oleh kisah Kashva yang hadir setelahnya. Rasanya hampir sama jika tontonan sedang berada pada puncak ketegangan, tiba-tiba diselingi iklan.

Rasulullah dengan kisahnya yang telah mengaru biru telah sampai pada bab perang parit yang sungguh memosona, mujisat-mujisat yang membuat tercengang. Saat sebuah batu besar menghalangi proses penggalian parit sebagai benteng pertahanan Madinah dari serbuan kaum kafir. Batu besar itu menghimpit orang Anshar. Orang-orang sudah mencoba memecahkan batunya, Namun hasilnya nihil. Rasulullah akhirnya turun tangan, memecahkan batu besar yang seketika retak disertai berkas cahaya berpendar ke tiga arah, kastil-kastil Yaman dan Suriah, serta istana-istana Khosrou di persia. Sebuah kisah yang penuh ketegangan, namun ketika menoleh pada lembar selanjutnya, kisah diselingi oleh bab tentang pelarian Kashva. Karena penasaran dengan kisah Rasulullah, saya melewati bab itu, mencari lanjutan kisah Rasul, begitu seterusnya.

Dan sungguh tidak ada kisah seindah kisah Rasulullah dan para Sahabat. Tidak ada kisah motivasi yang mampu menandingi kisah motivator sejati, Rasulullah SAW. Tentang cinta, perjuangan, pengorbanan dan semuanya. Terhimpun dalam keihlasan demi menegakkan kalimat Allah SWT. Tentang strategi perang dan pedang dalam sebuah perwujudan cinta. Pilihan Michael H Hart, sungguh obejektif menempatkan Rasulullah pada tingkatan pertama orang paling berpengaruh di dunia. Rasulullah datang, menjungkirbalikkan peradaban jahiliah, menggantikan dengan peradaban Islam yang gilang gemilang selama 1300 abad pada dua pertiga belahan dunia. Walaupun kemudian cahaya tersebut meredup. Namun cahaya itu tidak akan pernah mati, dia akan selalu bersinar seiring kecintaan terhadap Rasullullah SAW dan ketaatan terhadap Allah SWT. Dan Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan izin Allah (QS 4:64). Dan jika sunnah Rasul sungguh-sungguh kita implementasikan dengan konsisten. Suatu saat cahaya itu akan kembali memasuki setiap rumah. Menerangi seluruh dunia menjadi Rahmatan lil lamin.Wallahu A'lam.

-------------------------------------------------------------------------
Sumber: http://charaaw.blogspot.com