Showing posts with label DOWNLOAD. Show all posts
Showing posts with label DOWNLOAD. Show all posts

Friday, August 12, 2016

Download EYD Terbaru Tahun 2015

Download EYD Terbaru Tahun 2015

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Pedoman ini disusun untuk menyempurnakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD). Pedoman ini diharapkan dapat mengakomodasi perkembangan bahasa Indonesia yang makin pesat.


Pada tahun 2016 berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015, Dr. Anis Baswedan, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD) diganti dengan nama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang penyempurnaan naskahnya disusun oleh Pusat Pengembangan dan Pelin dungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Jadi, sekarang EYD tahun 2009 sudah tidak berlaku lagi. Namanya sudah diganti dengan Pedoman Umum EBI (Ejaan Bahasa Indonesia)



Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Penggunaannya pun semakin luas dalam beragam ranah pemakaian, baik secara lisan maupun tulis. Oleh karena itu, kita memerlukan buku rujukan yang dapat dijadikan pedoman dan acuan berbagai kalangan pengguna bahasa Indonesia, terutama dalam pemakaian bahasa tulis, secara baik dan benar.

Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Pedoman ini disusun untuk menyempurnakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD). Pedoman ini diharapkan dapat mengakomodasi perkembangan bahasa Indonesia yang makin pesat.

Semoga penerbitan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia secara langsung atau tidak langsung akan mempercepat proses tertib berbahasa Indonesia sehingga memantapkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.


Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

(Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015)




Monday, July 25, 2016

Skripsi: Pembentukan Kosakata Slang dalam Komunitas Jkboss pada Akun Twitter @Jakartakeras


Judul Skripsi: Pembentukan Kosakata Slang dalam Komunitas Jkboss pada Akun Twitter @Jakartakeras
Penulis: Setiawan Nugroho

Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Yogyakarta
2015


Abstrak


Penelitian mengenai pembentukan kosakata slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk bahasa slang yang terdapat dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras, (2) proses pembentukan slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras, (3) makna slang yang terdapat dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras, dan (4) tujuan penggunaan slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian merupakan data tertulis berupa ujaran atau tuturan yang terdapat pada twitt dan mention dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras. Sumber data penelitian ialah penggunaan bahasa slang yang terdapat dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras. Data diperoleh dengan menggunakan metode simak, sedangkan teknik yang digunakan bebas cakap. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode padan dan distribusional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah human instrument, dan keabsahan data diperoleh dengan ketekunan pengamatan dan debriefing.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras adalah sebagai berikut. (1) Bentuk slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras berupa kata dan frase. Slang dalam komunitas JKBoss berupa kata yang mengalami proses pembentukan, berupa kata yang tidak mengalami proses pembentukan, dan slang yang berbentuk frase. (2) Proses pembentukan slang dalam komunitas JKBoss meliputi perubahan struktur fonologi berupa pembalikan suku kata, pembalikan kata secara menyeluruh, penghilangan suku pertama, dan penggantian vokal, sedangkan proses morfologi berupa akronim dan singkatan. (3) Jenis makna slang yang terdapat dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras meliputi makna denotatif dan makna konotatif. (4) Tujuan penggunaan slang dalam komunitas JKBoss digunakan sebagai kejenakan, umpatan, sindiran, keakraban, dan pernyataan.


Kata kunci : Slang, JKBoss, Akun twitter @JakartaKeras.


DOWNLOAD SKRIPSI
Pembentukan Kosakata Slang dalam Komunitas Jkboss pada Akun Twitter @Jakartakeras











Skripsi: Struktur Fonotaktik Kosakata Slang Pada Komunitas Mantan Pengguna Narkoba Di Rumah Sakit Grhasia Sleman


Judul Skripsi: Struktur Fonotaktik Kosakata Slang Pada Komunitas Mantan Pengguna Narkoba Di Rumah Sakit Grhasia Sleman
Penulis: Natalia Veni Handayani

Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Yogyakarta
2013


Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur fonotaktik silabel dan struktur fonotaktik kata kosakata bahasa slang pada mantan pengguna narkoba di Rumah Sakit Grhasia Sleman.

Subjek penelitian ini meliputi kosakata atau istilah bahasa slang verbal yang dipergunakan mantan pengguna narkoba di Rumah Sakit Grhasia. Objek penelitian ini adalah fonotaktik silabel dan fonotaktik kata kosakata atau istilah bahasa slang yang dipergunakan mantan pengguna narkoba di Rumah Sakit Grhasia dalam berkomunikasi. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik SLC (simak libat cakap) dan teknik SBLC (simak bebas libat cakap). Sedangkan metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode agih. Alat penentu dalam rangka kerja metode agih berupa bagian atau unsur dari bahasa slang pengguna narkoba di Rumah Sakit Grhasia Sleman. Teknik analisis data yang digunakan dalam metode agih ini adalah mendeskripsikan segala sesuatu yang ditemukan dalam subjek penelitian. Maksudnya peneliti memaparkan data bahasa slang pengguna narkoba yang ditemukan di lapangan dan menganalisinya sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Keabsahan data diperoleh melalui diskusi dengan rekan sejawat.

Dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut, yaitu fonotaktik silabel kosakata bahasa slang pada mantan pengguna narkoba Rumah Sakit Grhasia Sleman ditemukan pola silabel yang berterima dalam bahasa Indonesia sebanyak tujuh pola. Pola tersebut, yaitu V, VK, KV, KVK, KVKK, KKV dan KKVK. Setiap silabel selalu diisi dengan vokal yang berperan sebagai nucleus, sedangkan onset dan koda tidak selalu ada dalam setiap silabel, seperti pada pola silabel VK tidak terdapat onset dan pada pola silabel KV tidak terdapat koda. Onset dan koda dalam kosakata bahasa slang ini maksimum terdiri dari dua konsonan, di antaranya ialah ks, ps, rt, bl, dr, pl, tw, sr, fl, gl, kr, pr, py dan tr. Fonotaktik kata dalam bahasa slang mantan pengguna narkoba Rumah Sakit Ghrasia Sleman ditemukan sebanyak tiga pola, yaitu sanding vokal dengan vokal, sanding vokal dengan konsonan, dan sanding konsonan dengan konsonan dan tidak ditemukan pola sanding konsonan dengan vokal. Sanding vokal dengan vokal yang ditemukan yaitu /-ai-, -au-, -ea-, -eɛ-, -əa-, -oa- dan –ia/. Sanding vokal dengan konsonan biasanya ditemukan di awal dan di tengah kata, misalnya kata afo fonotaktik katanya menjadi /(a-f)o/ atau beler menjadi /b(e-l)er/. Sanding konsonan dengan vokal selalu terdapat di tengah kata, seperti /bo(ɳ-k)i/.



DOWNLOAD SKRIPSI
Struktur Fonotaktik Kosakata Slang Pada Komunitas Mantan Pengguna Narkoba Di Rumah Sakit Grhasia Sleman



Skripsi: Penggunaan Bahasa Slang Dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon (Sebuah Tinjauan Sosiolinguistik)



Judul Skripsi: Penggunaan Bahasa Slang Dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon (Sebuah Tinjauan Sosiolinguistik)
Penulis: Harudin Setyawan

Jurusan Sastra Daerah
Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2009


Abstrak

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana karakteristik penggunaan bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon?, 2) Apa fungsi sosial penggunaan bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon?, 3) Bagaimana peristiwa kebahasaan yang menyertai penggunaan bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon? Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik, fungsi sosial, dan peristiwa kebahasaan yang menyertai penggunaan bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber datanya berasal dari informasi yang terpilih berupa tuturan yang mengandung bahasa slang dapikan. Data dalam penelitian ini berupa data lisan. Sampel dalam penelitian ini memilih di Kelurahan Sangkrah dan Kedunglumbu karena kedua lokasi ini banyak yang menggunakan bahasa dapikan. Oleh karena itu metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak dan catat dari beberapa wawancara yang peneliti lakukan.

Dalam analisis data, dilakukan pengklasifikasian dan pengidentifikasian data sesuai dengan permasalahannya, kemudian data akan dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif dan juga pemahaman dengan pendekatan sosiolinguistik. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa karakteristik bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon menggunakan dasar pijakan pada aksara Jawa yang dibalik. Perubahan dan pertukaran huruf itu tidak diberlakukan pada huruf vokal yang mengikuti huruf konsonan, dengan kata lain tidak terjadi perubahan bunyi vokal pada kata aslinya.

Fungsi sosial dari bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon adalah 1) untuk menunjukkan status sosial, 2) Untuk merahasiakan pembicaraan, 3) untuk menarik perhatian, 4) untuk memperlancar komunikasi, dan 5) untuk menurunkan ketegangan. Peristiwa kebahasaan yang menyertai dalam pertuturan dalam penelitian ini adalah tindak tutur, campur kode, dan jenis kalimat dalam bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon.



DOWNLOAD SKRIPSI
Penggunaan Bahasa Slang Dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon (Sebuah Tinjauan Sosiolinguistik)





Tesis: Analisis Kesepadanan Makna dan Keberterimaan Bahasa Informal pada Terjemahan Tuturan Slang dalam Novel P.S. I Love You Karya Cecelia Ahern


Judul Tesis: Analisis Kesepadanan Makna dan Keberterimaan Bahasa Informal pada Terjemahan Tuturan Slang dalam Novel P.S. I Love You Karya Cecelia Ahern
Penulis:Pristinian Yugasmara

Program Studi Linguistik
Minat Utama Linguistik Penerjemahan
Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret
Surakarta

2010


Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bentuk tuturan slang yang terdapat dalam novel P.S. I Love You karya Cecilia Ahern dan terjemahannya dalam novel dengan judul yang sama oleh Monica Dwi Chresnayani, (2) mengetahui teknik penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan tuturan slang yang terdapat dalam novel P.S. I Love You karya Cecelia Ahern, dan (3) mengetahui tingkat kesepadanan dan keberterimaan makna serta keberterimaan bahasa informal teks terjemahan tuturan slang yang terdapat dalam novel P.S. I Love You karya Cecilia Ahern.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan bentuk content analysis. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data objektif dan afektif. Data objektif dalam penelitian ini berupa bentuk slang dalam novel P.S. I Love You baik dalam Bsu maupun terjemahannya dalam Bsa serta dokumen mengenai Irish Slang. Sedangkan data afektif diambil dari penilaian pembaca dan pengamat ahli. Dengan menggunakan teknik purposive sampling, ditemukan 95 data slang terjemahan dan Irish Slang Dictionary sebagai data objektif, dan kuesioner penilaian dari pembaca dan pengamat ahli sebagai data afektif.

Hasil penelitian terbagi menjadi temuan terhadap bentuk slang, teknik yang digunakan dalam menerjemahkan slang, kesepadanan makna terjemahan slang, keberterimaan makna terjemahan slang, dan keberterimaan kandungan bahasa informal dalam terjemahan slang. Bentuk slang yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi 26 kategori dengan makna masing-masing. Teknik yang digunakan dalam menerjemahkan bentuk slang dalam novel P.S. I Love You adalah reduction, calque, dan variation atau gabungan dari ketiganya. Pada tingkat kesepadanan makna, ditemukan 81 (85,56%) data yang dinilai sepadan, 11 (12,63%) data kurang sepadan, dan 3 (2,10%) data tidak sepadan. Dari penilaian terhadap keberterimaan makna, ditemukan 86 (90,52%) data berterima, 6 (6,31%) data kurang berterima, dan 3 (2,10%) data tidak berterima. Sedangkan terhadap keberterimaan kandungan bahasa informal data, pembaca awam memberikan penilaian berterima terhadap 62 (65,26%) data dan kurang berterima terhadap 33 (34,73%) data.

Secara keseluruhan, data-data terjemahan slang dalam novel P.S. I Love You sudah memiliki kualitas yang cukup baik. Namun, sebagai catatan bagi penerjemah dan orang-orang yang memiliki ketertarikan di bidang penerjemahan, perlu diperhatikan lagi mengenai pemilihan padanan makna yang tepat untuk menerjemahkan istilah-istilah yang berhubungan dengan ciri khas suatu budaya ke dalam budaya bahasa sasaran beserta tingkat keberterimaannya.



DOWNLOAD TESIS
Analisis Kesepadanan Makna dan Keberterimaan Bahasa Informal pada Terjemahan Tuturan Slang dalam Novel P.S. I Love You Karya Cecelia Ahern






Friday, July 22, 2016

Tesis Novel Kalatidha: Menggugat "Dunia Kabut": Telaah Keadilan dalam Novel Kalatidha Karya Seno Gumira Ajidarma


Judul Tesis: Menggugat "Dunia Kabut": Telaah Keadilan dalam Novel Kalatidha
Karya Seno Gumira Ajidarma

Peneliti/penulis: Dian Susilastri
Tahun: 2008
Program studi Ilmu Susastra
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia

 

Abstrak

Tesis ini membahas keadilan dalam novel Kalatidha karya Seno Gumira Ajidarma.Penelitian ini menggunakakan metode deskriptif analitik. Kajian sosiologi sastra digunakan dengan alasan Kalatidha dipandang sebagai teks yang diciptakan oleh pengarang sebagai bentuk usaha menanggapi realitas di sekitarnya, berkomunikasi dengan realitas, atau menciptakan kembali realitas itu. Kalatidha mengangkat persoalan keadilan dalam kisah-kisah di balik G 30 S/PKI tahun 1965 dengan cara metaforis yaitu sebagai “dunia kabut”, sebuah sisi suram dari peristiwa yang bersifat nasional.Pemerintah Orde Baru telah membuat narasi resmi tentang G 30 S/PKI; terhadap realitas sosial tersebut Kalatidha berfungsi sebagai penegasi.


DOWNLOAD TESIS

Menggugat "Dunia Kabut": Telaah Keadilan dalam Novel Kalatidha
Karya Seno Gumira Ajidarma



Thursday, July 21, 2016

Tesis Novel Cala Ibi: Strategi Pembacaan Novel Metafiksi Cala Ibi

Tesis Novel Cala Ibi: Strategi Pembacaan Novel Metafiksi Cala Ibi

Judul Tesis: Strategi Pembacaan Novel Metafisika Cala Ibi
Peneliti/penulis: Bramantio
Tahun: 2008
Program studi Ilmu Susastra
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia


Abstrak

Cala Ibi adalah novel yang menghadirkan masalah pembacaan atas dirinya kepada pembacanya. Fakta yang demikian pada dasarnya disebabkan oleh ketidakgramatikalan Cala Ibi yang terbentuk oleh piranti sastra yang dimilikinva. Berkaitan dengan hal itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi pembacaan Cala Ibi Dengan memanfaatkan naratologi yang dikembangkan Gerard Genette dan semiotika yang dikembangkan Michael Ritfaterre, ketidakgramatikalan tersebut dapat dipahami dan diubah menjadi gramatikal. Lebih lanjut, dapat diketahui pula bahwa Cala Ibi menyediakan panduan pembacaan bagi pembacanya. Dengan kata lain, Cala Ibi adalah novel yang memiliki kesadaran atas dirinya sendiri atau bersitat metafiksi.

Penerimaan atas metafora sebagai hal yang wajar, pembentukan cakrawala harapan baru, dan keikhlasan mengikuti panduan Cala Ibi adalah tiga hal yang perlu dimiliki pembaca Cala Ibi. Dengan ketiga hal tersebut, pembaca dapat mengetahui bahwa kedua puluh empat bab Cala Ibi terdiri atas delapan bab bingkai-Maya dan enam belas bab bingkai-Maia yang mcmbcntuk garis-waktu kisah berupa angka delapan tanpa awal dan akhir. Pembaca pun pada akhirnya memahami bahwa memaknai Cala Ibi berati memahami gagasan-gagasan utamanya tanpa harus keluar dari teks.

Dalam Skala yang lebih luas, Cala Ibi menghadirkan pemahaman sekaligus mengajak pembacanya untuk kembali kepada teks. Teks selalu memiliki kekuatannya sendiri dalam mengarahkan pembacaan atas dirinva, dan pembaca harus berkompromi dengan hal itu apabila ingin mendapatkan pemahaman yang tepat atas teks tersebut. Dengan demikian, teks harus dibaca secara utuh sebagai kesatuan.



DOWNLOAD TESIS
Strategi Pembacaan Novel Metafiksi Cala Ibi





Tuesday, July 14, 2015

Puisi Sitor Situmorang



Sastrawan angkatan 45 ini lahir di Harianboho, Samosir, Sumatera Utara 2 Oktober 1924. Sitor sempat menetap di Paris. Pada 1981 menjadi dosen di Universitas Leiden, Belanda, dan pensiun 10 tahun kemudian. Sejak 2001 ia kembali tinggal di Indonesia.

Beragam karya sastra Sitor yang sudah diterbitkan, antara lain Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan terjemahan karya dari John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol, M Nijhoff. Karya sastra lain, yang sudah diterbitkan, antara lain puisi Zaman Baru (1962), cerpen Pangeran (1963), dan esai Sastra Revolusioner (1965).
Berikut ini puisi-puisi Sitor Situmorang dalam kumpulan Rindu Kelana (Pilihan Sajak 1948- 1993). 
-----------------------------------------------

Kaliurang (Tengah Hari)

Kembali kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut Dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut ‘manggil aku berlayar dari sini

Tungguhlah aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita akan bersatu lagi.

***

PerhitunganBuat Rivai Apin

Sudah lama tidak ada puncak dan lembah
Masa lempang-diam menyerah
dan kau tahu di ujung kuburan menunggu kesepian
Aku belum juga rela berkemas
Manusia, mengapa malam bisa tiba-tiba menekan
dada?
Sedang rohnya masih mengembara di lorong-lorong
Keyakinan dulu manusia bisa
hidup dan dicintai habis-habisan
Belum tahu setinggi untung bila bisa menggali
kuburan sendiri
Rebutlah dunia sendiri
dan pisahkan segala yamg melekat lemah
Kita akan membubung ke langit menjadi bintang
jernih sonder debu
Detik kata jadikan abad-abad
Abad-abad kita hidupi dalam sekilas bintang
Sesudah itu malam, biarlah malam
Bila hidup menolak
Ia kita tinggalkan seperti anak
yang terpaksa puas dengan boneka
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tapi tak ada lagi kita
Sedang mereka rindu pada cinta garang
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tentang abad dan detik yang ‘lah terbenam
Bersama kita, tarian perawan janda ….


***


Lereng Merapi

Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini
Aku Akan rindu balik pada semua ini
Sunyi yang kutakuti sekarang
Rona lereng gunung menguap
Pada cerita cemara berdesir
Sedu cinta penyair
Rindu pada elusan mimpi
Pencipta candi Prambanan
Mengalun kemari dari dataran ….
Dan sekarang aku mengerti
Juga di sunyi gunung
Jauh dari ombak menggulung
Dalam hati manusia sendiri
Ombak lautan rindu
Semakin nyaring menderu ….

***

Dia dan Aku

Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?
- Bukankah udara penuh hampa ingin harga? -
Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini
Tapi jangan sampai terbakar sekali
Akankah kita utamakan percakapan begini?
- Bukankah bumi penuh suara inginkan isi? -
Mari, Dik, dekatkan bibirmu pada bisikan hati
Tapi jangan sampai megap napas bernyanyi
Bukankah dada hamparkan warna
Di pelaminan musim silih berganti
Padamu jua kelupaan dan janji
Akan kepermainan rahasia
Permainan cumbu-dendam silih berganti
Kemasygulan tangkap dan lari

***

Surat Kertas Hijau

Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh
Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
mengimbau dari seberang benua
Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan
Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan

***

Amoy-Aimee

Terbakar lumat-lumat
Menggapai juga lidah ingin
Api di pediangan
Terkapar sonder surat
Mati juga malam dingin
Lahirnya hari keisengan
Mari, cabikkan malam Amoy
Jika terlalu – ingin malam ini
Besok ada mentari sonder hati
Belum apa-apa hampa begini
Jauh dalam terowongan nadi
Berperang bumi dan sepi

***

Kebun Binatang

Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang, boneka dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Si anak ini punya ketakutan
Hari-hari kemarin
Punya keinginan
Berumah ufuk, ombak menggulung
Hari-hari kandungan
Tolak keisengan
Ramai-ramai di kebun binatang
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan
Hari-hari datang
Hari kembang di kebun binatang
Hari bersenang
Pecah dalam balonan
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan

***

Matahari Minggu

Di hari Minggu di hari iseng
Di silau matahari jalan berliku
Kawan habis tujuan di tepi kota
Di hari Minggu di hari iseng
Bersandar pada dinding kota
Kawan terima kebuntuan batas
Di hari panas tak berwarna
Seluruh damba dibawa jalan
Di hari Minggu di hari iseng
Bila pertemuan menambah damba
Melingkar di jantung kota
Ia merebah pada diri dan kepadatan hari
Tidak menolak tidak terima



------------------------------------------------------------
Download: Puisi Sitor Situmorang (pdf)
DOWNLOAD


Bahasa Pidgin dan Kreol


Bahasa Pidgin dan Kreol
*Oleh :Sukrisno Santoso, Maret 2010

 
Setiap bahasa digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa. Yang termasuk dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Jadi, kalau disebut masyarakat bahasa Indonesia adalah semua orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia. Yang termasuk anggota masyarakat bahasa Sunda adalah orang-orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Sunda. Yang termasuk anggota masyarakat bahasa Madura adalah orang-orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Madura. Jadi, bahasa itu bervariasi. (Chaer, 2007: 55)

Dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual sebagai akibat adanya kontak bahasa (dan juga kontak budaya), dapat terjadi peristiwa atau kasus yang disebut interferensi, integrasi, alihkode (code-switching), dan campurkode (code-mixing). Penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi tidak saja menyebabkan adanya pengambilan unsur-unsur bahasa yang lain oleh sebuah bahasa (yang menyebabkan terjadinya peristiwa interferensi, integrasi, alihkode dan campurkode), tetapi juga menyebabkan munculnya variasi dalam bentuk unsur bahasa baru yang kemudian membentuk sebuah baru, yaitu bahasa pidgin dan kreol.

Berkaitan dengan adanya variasi, di sini akan dibahas variasi bahasa yang muncul karena keragaman kegiatan interaksi sosial penutur bahasa, yaitu pertama, tentang pengertian bahasa pidgin. Kedua, tentang proses perkembangan bahasa pidgin menjadi bahasa kreol. Dan ketiga, contoh bahasa pidgin dan bahasa kreol di Indonesia

A. Bahasa Pidgin

Bahasa pidgin (pijin) adalah unsur bahasa yang dihasilkan dari kontak bahasa antarbangsa pada tempat tertentu, lazimnya di pantai, muncul dalam komunitas perdagangan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008) pidgin (pijin) adalah pemakaian dua bahasa atau lebih yang dipermudah sebagai alat komunikasi antara pendatang dengan penduduk asli (seperti pijin Inggris di China, pijin Inggris di Papua Nugini).

Pidgin biasa disebut dengan bahasa dagang karena biasanya pidgin muncul ketika seseorang pedagang berinteraksi dengan dua atau lebih pedagang lainnya yang masing-masing memiliki bahasa yang berbeda, karena pedagang-pedagang kebanyakan berasal dari bermacam-macam bangsa dan bahasa. Dalam memperlancar transaksi mereka, mereka menghasilkan unsur bahasa baru yang diadopsi dari setiap bahasa mereka, dan hanya komunitas merekalah yang mengerti bahasa baru tersebut. 


Pidgin adalah bahasa marginal yang muncul untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan komunikasi tertentu di antara orang-orang yang tidak mempunyai bahasa pokok. Pidgin merupakan suatu bahasa sederhana, dan struktur sintaksisnya kurang lengkap dan kurang fleksibel.
 

B. Proses Perkembangan dari Pidgin menjadi Kreol
Bahasa secara keseluruhan dapat berubah. Kadang-kadang perubahan bahasa terjadi dalam waktu singkat sebagai akibat dari kontak antar dua bahasa yang digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Dalam kondisi demikian dapat muncul yang namanya pidgin. 


Pidgin biasanya memiliki tatabahasa yang sangat sederhana dengan kosakata dari bahasa yang berbeda-beda sehingga pencampuran unsur-unsur kedua bahasa tersebut menyebabkan adanya bahasa campuran. Sebuah pidgin tidak memiliki penutur bahasa ibu (native speaker). Jika memiliki native speaker maka bahasa ini disebut bahasa kreol. Jadi, kreol adalah perkembangan pidgin yang telah memiliki bahasa induk (bahasa ibu). 

Beberapa bahasa yang dianggap bahasa kreol di Indonesia antara lain adalah bahasa Melayu Ambon dan bahasa Melayu Betawi. Jadi, kreol merupakan akibat dari kontak bahasa juga yang merupakan pengembangan dari pidgin tersebut.

Kreol muncul ketika pidgin menjadi bahasa ibu pada suatu komunitas tertentu. Strukturnya masih menggambarkan struktur pidgin, tetapi disebut kreol karena menjadi bahasa ibu mereka. Pidgin bisa menjadi kreol ketika adanya penutur asing dan digunakan oleh keturunannya yang kemudian dibekukan sebagai bahasa pertama mereka. Ini baru dikatakan kreol apabila bahasa pidgin ini telah berlangsung secara turun-temurun. 


Kreol memiliki penutur lebih banyak dibanding pidgin. Karena kreol berkembang melalui anak-cucunya, dan pidgin hanya merupakan bahasa aslinya. Ketika seseorang menyebut suatu bahasa itu kreol, maka seharusnya terlebih dahulu bahasa tersebut telah terbukti secara historis tentang asal-usulnya. Karena dalam menentukan kreol atau tidaknya, historis suatu bahasa memiliki peranan yang sangat penting dan memiliki keterkaitan yang sangat erat.
 

Kreolisasi adalah suatu perkembangan linguistik yang terjadi karena dua bahasa melakukan kontak dalam waktu yang lama yang mana penutur pidgin tersebut telah beranak pinak. Begitu seterusnya jika kreol mampu bertahan dan terus berkembanga maka kreol akan bias menjadi bahasa yang lebih besar dan lebih lengkap Contohnya adalah bahasa Sierra Leona di Afrika Barat yang kemudian menjadi bahasa nasional.

Bahasa kreol berkembang dari bahasa pidgin. Pertama-tama, suatu bahasa digunakan sebagai bahasa pertama pada suatu daerah tersebut, kemudian para pemuda, khususnya para pedagang, melakukan kegiatan berinteraksinya dengan cara berdagang. Dari berbagai macam asal-usul para pedagang, apabila mereka berinterkasi dengan negara-negara lain yang memunyai bahasa yang jauh berbeda baik struktural atau fungsional, maka mereka menciptakan suatu bahasa baru dengan mengutip, dan memparafrase dari bahasa-bahasa mereka sendiri yang dimengerti oleh seluruh pedagang yang bersangkutan agar mereka mampu berinteraksi dengan baik. Bahasa pertama pada suatu daerah itu tergantung pada apakah daerah tersebut hasil jajahan, siapakah penjajahnya, dan pengaruh apa yang tertinggal.

Contoh kalimat sehari-hari bahasa kreol Portugis Tugu di kampung Tugu.

  • Yo kere ning kere. ‘Saya suka atau tidak suka.’
  • Santai! ‘Duduklah!’
  • Parki bas cura? ‘Mengapa engkau menangis?’
  • Anda undi bas? ‘Akan ke mana engkau?’
  • Yo nungku catu ‘Saya tidak bingung.’
  • Yo ja sabe. ‘Saya belum tahu.’


DAFTAR PUSTAKA
Asbah. 2009. “Variasi Bahasa dan Faktor Penyebabnya” dalam http://asbahlinguist.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 2 Januari 2010

Chaer, Abdul; Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik: Pengenalan Awal. Jakarta: Asdi Mahasatya

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa

--------------------------------------------------------------------
Download Artikel: Bahasa Pidgin dan Kreol (pdf)

Resume Buku "Stilistika" Sudiro Satoto



Identitas Buku
  1. Judul Buku : Stilistika 
  2. Penulis : Soediro Satoto
  3. Penerbit : STSI Press
  4. Tahun Terbit : 1995
  5. Kota Terbit : Surakarta

Bahasa merupakan media utama yang membedakan seni sastra dengan cabang-cabang seni yang lainnya, bahasa merupakan alat komunikasi . Fungsi bahasa adalah untuk memberikan acuan pada pengalaman-pengalaman pemakainya. Pada prinsipnya, seni sastra dapat dipandang dari dua segi kemungkinan:
  1. Seni sastra dipandang sebagai bagian dari seni pada umumnya. Pendekatan yang dipakai femonologi atau ganzheit.
  2. Pada umumnya seni sastra dipandang sebagai bagian dari ilmu bahasa. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode structural, atau struktural dinamik, yang lebih dikenal dengan istilah semiotika.

Stilistika merupakan bidang linguistik yang mengemukakan teori dan metodologi pengkajian atau enganalisisan formal sebuah teks sastra, termasuk dalam pengertian extended.

Estetika berasal dari kata Yunani ‘aesthesis’, berarti perasaan atau sensitivitas. Sekarang, estetika diartikan segala pemikiran filosofis tentang seni. Sehingga estetika juga disebut filsafat seni atau filsafat pendidikan. Estetika, etika, dan logika membentuk trilogi ilmu-ilmu normatif dalam filsafat. .

Teks sastra dipandang sebagai alat estetika. Masalah-masalah di luar teks sastra (ekstrinsik) banyak diperhitungkan sebagai tolok ukur apakah sastra itu baik dan indah. Fungsi sastra di sini lebih ditekankan dari segi kegunaan dan kemanfaatannya-fungsi ‘utile’.

Sebagai bahan baku, bahasa dalam sastra merupakan objek kajian, yang memiliki nilai terminal.. Masalah-masalah yang berada dalam teks (intrinsik) itulah yang menjadi objek utama dalam pengkajiannya. Fungsi sastra di sini lebih ditekankan dari segi kenikmatannya-fungsi ‘dulce’.

Buku Stilistika karya Soediro Satoto ini menyajikan pembahasan:
  1. Pendahuluan
  2. Retorika
  3. Logika dan Bahasa
  4. Hubungan Kajian Bahasa dan Sastra; Aplikasinya Terhadap Prosa, Puisi dan Drama
  5. Gaya Bahasa 


--------------------------------------------------------
Download Resume Buku Stilistika karya Sudiro Satoto

Resume Buku “Drama: Teori dan Pengajarannya” Karya Prof. Dr. Herman J. Waluyo

 

IDENTITAS BUKU
  1. Judul : Drama: Teori dan Pengajarannya
  2. Penulis : Prof. Dr. Herman J. Waluyo
  3. Penerbit : PT. Hanindita Graha Widya
  4. Kota Terbit : Yogyakarta
  5. Tahun Terbit : 2002
  6. Tebal : vii + 208 halaman

Bab I
Drama dan Permasalahannya
Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan prosa. Drama pentas adalah jenis kesenian mandiri, yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, tata lampu, seni lukis, seni kostum, seni rias, dan sebagainya.
Moulton memberikan definisi drama (pentas) sebagai hidup manusia yang dilukiskan dengan action.
  1. Lakon dan Konflik Manusia
Dasar lakon drama adalah konflik manusia. Konflik itu lebih bersifat batin daripada fisik. Konflik manusia itu sering juga dilukiskan secara fisik. Dalam wayang akan kita saksikan bahwa klimaks dari konflik batin adalah bentrokan fisik yang diwujudkan dalam perang.
Konflik yang dipaparkan dalam lakon harus mempunyai motif. Motif dari konflik yang dibangun itu akan mewujudkan kejadian-kejadian. Motif dan kejadian haruslah wajar dan realistis, artinya benar-benar diambil dari kehidupan manusia.
Seluruh perjalanan drama dijiwai oleh konflik pelakunya. Konflik itu terjadi oleh pelaku yang mendukung cerita (pelaku utama) yang bertentangan dengan pelaku pelawan arus cerita (pelaku penentang). Dua tokoh tersebut disebut dengan tokoh protagonist dan tokoh antagonis. Konflik antara tokoh protagonist dan tokoh antagonis itu hendaknya sedemikian keras, tetapi wajar, realistis, dan logis.
Motif dalam penulisan lakon merupakan dasar laku dan merupakan keseluruhan rangsang dinamis yang menjadi lantaran seseorang mengadakan respons. Motif dapat ditimbulkan berdasarkan hal-hal berikut:
  1. Kecenderungan dasar manusia untuk dikenal, untuk memperoleh pengalaman, ketenangna, kedudukan.
  2. Situasi yang melingkupi manusia yang berupa keadaan fisik dan sosialnya.
  3. Interaksi sosial yang ditimbulkan akibat hubungan dengan sesama manusia.
  4. Watak manusia itu sendiri yang ditentukan oleh keadaan intelektual, emosional, ekspresif, dan sosiokultural.
Motif yang dipilih bergantung pada selera penulis. Penulis menentukan motif itu dari sumber mana. Lakon, baik sebagai peniru kehidupan, ilusi kehidupan, atau penggambaran tentang konflik dan masalah kehidupan, selalu dikendalikan dan diatur oleh proses tingkah laku manusia.
  1. Struktur Drama Naskah
  1. Plot atau Kerangka Cerita
Plot merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal sampai akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan. Konflik itu berkembang karena kontradiksi pelaku.
Jalinan konflik dalam plot itu biasanya meliputi hal-hal berikut:
  1. Protasis atau jalinan awal
  2. Epitasio
  3. Catarsis
  4. Catastrophe (Aristoteles)
Gustaf Freytag memberikan unsur-unsur plot sebagai berikut:
  1. Exposition atau Pelukisan Awal Cerita
  2. Komplikasi atau Pertikaian Awal
  3. Klimaks atau Titik Puncak Cerita
  4. Resolusi atau Penyelesaian atau Falling Action
  5. Catastrophe atau Denounment atau Keputusan
Plot drama ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
  1. Sirkuler, artinya cerita berkisar pada satu peristiwa saja.
  2. Linear, yaitu cerita bergerak secara berurutan dari A-Z.
  3. Episodik, yaitu jalinan cerita itu terpisah kemudian bertemu pada akhir cerita.
  1. Penokohan dan Perwatakan
Penokohan erat hubungannyadengan perwatakan. Susunan tokoh (drama personae) adalah daftar tokoh-tokoh yang berperan dalam drama itu. Watak tokoh akan menjadi nyata terbaca dalam dialog dan catatan sanping. Jenis dan warna dialog akan menggambarkan watak tokoh itu.
Klasifikasi tokoh :
  1. Berdasarkan peranannya terhadap jalan cerita:
  1. Tokoh Protagonis: Tokoh yang mendukung cerita.
  2. Tokoh Antagonis: Tokoh penentang cerita.
  3. Tokoh Tritagonis: Tokoh pembantu.
  1. Berdasarkan peranannya dalam lakon serta fungsinya:
  1. Tokoh Sentral: Tokoh-tokoh yang peling menentukan gerak lakon.
  2. Tokoh Utama: Tokoh pendukung atau penentang tokoh sentral.
  3. Tokoh Pembantu: Tokoh-tokoh yang memegang peran pelengkap atau tambahan dalam mata rangkai cerita.
Perwatakan para tokoh harus konsisten dari awal sampai ahkir. Watak tokoh protagonis dan tokoh antagonis harus memungkinkan keduanya menjalin pertikaian, dan pertikaian itu memungkinkan untuk berkembang mencapai klimaks. Watak para tokoh digambarkan dalam tiga dimensi. Penggambaran itu berdasarkan keadaak fisik, psikis, dan sosial (fisiologis, psikologis, dan sosiologis).
  1. Dialog atau Percakapan
Ciri khas suatu drama adalah naskah itu berbentuk percakapan atau dialog. Dalam menyusun dialog ini pengarang harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari. Pembicaraan yang ditulis oleh pengarang naskah drama adalah pembicaraan yang akan diucapkan dan harus pantas untuk diucapkan di atas panggug. Ragam bahasa dalam dialog tokoh-tokoh drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam tulis
  1. Setting/Landasan/Tempat Kejadian
Setting atau tempat kejadian cerita sering pula disebut latar cerita. Penentuan ini harus secara cermat, sebab drama naskah harus juga memberikan kemungkinan untuk dipentaskan. Setting biasanya meliputi tiga dimensi, yaitu: tempat, ruang, dan waktu.
  1. Tema/Nada Dasar Cerita
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema berhubungan dengan premis dari drama tersebut yang berhubungan pula dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandang yang dikemukakan oleh pengarangnya. Tema merupakan “struktur dalam” dari sebuah karya sastra. Tema juga berhubungan sudut pandang pengarang yang memendang dunia ini, apakah dari segi bahagia, duka, mengejek, mencemooh, harapan, ataukah kehidupan ini sama sekali tidak bermakna.
  1. Amanat/Pesan Pengarang
Amanat yang hendak disampaikan pengarang melalui dramanya harus dicari oleh pembaca atau penonton. Seorang pengarang drama sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam karyanya itu. Pembaca yang cukup teliti akan dapat menangkap apa yang tersirat dibalik yang tersurat. Amanat sebuah drama akan lebih mudah dihayati penikmat, jika drama itu dipentaskan. Amanat itu biasanya memberikan manfaat dalam kehidupan secara praktis.
  1. Petunjuk Teknis
Dalam naskah drama diperlukan juga petunjuk teknis, yang sering pula disebut teks samping. Teks samping ini memberikan petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana pentas, suara, musik, keluar masuknya aktor atau aktis, keras lemahnya dialog, warna suara, perasaan yang mendasari dialog. Teks samping ini biasanya ditulis dengan tulisan berbeda dari dialog (misalnya dengan huruf miring atau huruf besar semua).
  1. Drama Sebagai Interpretasi Kehidupan
Ulasan tentang drama sebagai interpretasi kehidupan erat hubungannya dengan nada dasar atau pandangan dasar penulis drama itu. Sebagai interpretasi terhadap kehidupan, drama mempunyai kekayaan batin yang tiada tara. Kehidupan yang ditiru oleh penulis drama lakon diberi aksentuasi-aksentuasi sesuai dengan sisi kehidupan mana yang akan ditonjolkan oleh penulis.
  1. Naskah – Pengarang – Pementasan – Penonton
Keunggulan naskah drama adalah pada konflik yang dibangun. Di sisi lain yang harus diperhatikan yaitu penonton. Meskipun pementasan bermutu, tetapi tidak ada daya apresiasi penonton tidak sesuai dengan jenis tontonan itu, maka pertunjukan ada kemungkinan gagal karena penonton tidak mampu menghayati tontonannya sesuai dengan tuntutan tontonan itu.
Ada hubungan timbal balik dan saling menentukan antara pengarang, naskah, pementasan, dan penonton drama. Dalam drama, M-1 diartikan menghayalkan, M-2 berarti menuliskan, M-3 berarti memainkan, dan M-4 berarti menonton. Dalam hal ini, naskah drama sebenarnya merupakan model paling utama untuk suatu pementasan drama yang baik, jika dipentaskan oleh sutradara dan aktor yang baik.
Dalam menilai suatau naskah harus diperhatikan hal-hal berikut ini:
  1. Tema relevan dengan konfliknya cukup tajam ditandai oleh plot yang penuh kejutan dan dialog yang matap.
  2. Konfliknya cukup tajam ditandai oleh plot yang penuh kejutan dan dialog yang mantap.
  3. Watak pelakunya mengandung pertentangan yang memungkinkan katajaman konflik.
  4. Bahasanya mudah dihayati dan komunukatif.
  5. Mempunyai kemungkinan pementasan.
  1. Pementasan Drama
Pementasan drama merupakan karya kolektif yang dikoordinasikan oleh sutradara, yaitu pekerja teater yang dengan kecakapan dan keahliannya memimpin aktor-aktris dan pekerja teknis dalam pementasan. Selain itu ada pula produser yang memberikan biaya pementasan dan manager yang mengatur pelaksanaan pementasan.
Adapun unsur-unsur pementasan drama adalah sebagai berikut :
  1. Aktor dan Casting
Aktor-aktris merupakan pelaksana pementasan yang membawakan ide cerita langsung di depan publik. Aktor-aktris merupakan tulang punggung pementasan. pemilihan aktor-aktris biasanya disebut casting.
Ada lima macam casting :
  1. Casting By Ability: Adalah pemilihan peran berdasarkan kecakapan atau kemahiran yang sama atau mendekati peran yang dibawakan.
  2. Casting To Type: Adalah pemilihan peran berdasarkan atas kecocokan fisik si pemain.
  3. Anti Type Casting: Adalah pemilihan peran berdasarkan watak dan ciri fisik yang dibawakan
  4. Casting To Emotional: Adalah pemilihan peran berdasarkan observasi atau penelitian kehidupan pribadi calon pemeran.
  1. Sutradara
Tugas sutradara yaitu mengkoordinasi segala macam urusan pementasan, sejak latihan dimulai sampai dengan pementasan selesai. Ada beberapa tipe sutradara, yaitu sebagai berikut :
  1. Berdasarkan mempengaruhi jiwa pemain, ada dua macam sutradara:
  1. Sutradara Teknikus adalah sutradara yang lebih mementingkan seni luar yang gemerlap.
  2. Sutradara Psikolog dramatik adalah sutradara yang lebih mementingkan watak secara psikologis dan tidakan begitu mementingkan faktor teknis.
  1. Berdasarkan cara melatih pemain, ada tiga tipe sutradara:
  1. Sutradara Interpretator adalah sutradara yang berpegang teguh pada naskah secara kaku.
  2. Sutradara Kreator adalah sutradara yang menciptakan variasi baru
  3. Gabungan keduanya dipandang paling baik.
  1. Berdasarkan cara penyutradaraan, terdapat dua macam cara, yaitu:
  1. Cara Diktator adalah seluruh langkah pemain ditentukan sutradara.
  2. Cara Laissez Faire adalah aktor dan aktris menjadi pencipta permainan dan peranan sutradara sebagai supervisor yang membiarkan pemain melakukan proses kreatif.
  1. Penata Pentas
Adalah orang yang bertugas untuk menghidupkan peran di atas pentas. Peralatan teknis tentunya akan sangat membantu. Peralatan-peralatan tersebut nantinya akan meliputi hal-hal seperti pengaturan pentas, dekorasi, tata lampu, tata busana, dan lain sebagainya.
  1. Penata Artistik
Adalah orang yang bertugas untuk mengatur secara artistik yaitu segala hal-hal yang berkaitan atau berhubungan dengan pementasan drama secara langsung. Berhubugan dengan tata rias (make up), tata busana (costum), tata lampu (lighting), tata musik dan efek suara (sound and system).
  1. Klasifikasi Drama
  1. Tragedi (Drama Duka atau Duka Cerita)
Tragedi atau drama duka adalah drama yang melukiskan kisah sedih uang besar dan agung. Dengan kisah tentang bencana ini, penulis naskah mengharap agar penontonnya memandang kehidupan secara optimis. Pengarang secara bervariasi ingin melukiskan keyakinan tentang ketidaksempurnaan manusia.
  1. Melodrama
Melodrama adalah lakon yang sangat sentimental, dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan. Tokoh dalam melodrama adalah tokoh yang tidak ternama. Dalam kehidupan sehari-hari, sebutan melodramatik kepada seseorang seringkali merendahkan martabat orang tersebut, karena dianggap berperilaku yang melebih-lebihkan perasaannya.
  1. Komedi (Drama Ria)
Komedi adalah drama ringan yang sifatnya menghibur dan di dalamnya terdapat dialog kocak yang bersifat menyindir dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Drama komedi ditampilkan tokoh yang tolol, konyol, atau tokoh bijaksana tetapi lucu.
  1. Dagelan (farce)
Dagelan disebut juga banyolan. Sering kali jenis drama ini disebut dengan komedi murahan atau komedi picisan atau komedi ketengan. Dagelan adalah drama kocak dan ringan, alurnya tersusun berdasarkan arus situasi dan tidak berdasarkan arus situasi, tidak berdasarkan perkembangan struktur dramatik dan perkembangan cerita sang tokoh.
  1. Lebih Lanjut Tentang Jenis dan Konsepsi Tentang Drama/Teater
  1. Jenis-jenis Drama
  1. Drama Pendidikan
  2. Drama Duka (tragedy)
  3. Drama Ria (comedy)
  4. Drama untuk dibaca (closed drama)
  5. Drama Teatrikal (drama untuk dipentaskan)
  6. Drama Romatik
  7. Drama Adat
  8. Drama Liturgi
  9. Drama Simbolis
  10. Monolog
  11. Drama Lingkungan
  12. Komedi Intrik (intrique comedy)
  13. Drama Mini Kata (teater mini kata)
  14. Drama Radio
  15. Drama Televisi
  16. Drama Eksperimental
  17. Sosio Drama
  18. Melodrama
  19. Drama Absurd
  20. Drama Improvisasi
  21. Drama Sejarah
  1. Klasifikasi Drama Berdasarkan Aliran
  1. Aliran Klasik
  2. Aliran Romantik
  3. Aliran Realisme
  4. Aliran Ekspresionisme
  5. Aliran Naturalisme
  6. Aliran Eksistensialisme
  1. Konsepsi Tentang Drama
  1. Rendra, mengemukakan konsep “Kegagahan dalam Kemiskinan: Teater Modern Indonesia”
  2. Putu Wijaya, mengemukakan konsep ”Jalam Pikiran Teater Mandiri: Bertolak Dari yang Ada”
  3. Wahyu Sihombing, mengemukakan konsep ”Masalah Sutradara adalah Masalah Penafsiran Naskah dan Casting”
  4. N. Riantiarno, mengemukakan konsep ”Kemarin atau Nanti: Teater Tanpa Selesai”
  5. Danarto, mengemukakan konsep ”Mewujudkan Teater Tanpa Kata”
  6. Ikranagara, mengemukakan konsep ”Konsep Kerja Teater, Teater Saja”
  7. Arifin C. Noer, mengemukakan konsep ”Teater Kata”
  1. Selintas Sejarah Drama
  1. Drama Klasik
Drama Klasik adalah drama pada zaman Yunani dan Romawi. Pada masa kejayaan kebudayaan Yunani maupun Romawi banyak sekali karya drama yang bersifat abadi, terkenal sampai kini.
  1. Zaman Yunani: Tokoh yang paling terkenal adalah Plato, Aristoteles, dan Sopholches.
  2. Zaman Romawi: Tokoh yang terkenal pada zaman ini adalah Plutus, Terence atau Publius Terence Afer, dan Lucius Seneca.
  1. Teater Abad Pertengahan
Pengaruh Gereja Katolik atas drama sangat besar pada zaman pertengahan ini. Dalam pementasan ada nyanyian-nyanyian yang dilagukan oleh para rabib dan diselingi dengan koor. Ciri-ciri khas teater pada abad pertengahan adalah sebagai berikut:
  1. Pentas kereta
  2. Dekor bersifat sederhana dan simbolis
  3. Pementasan simultan bersifat berbeda dengan pementasan simultan drama modern.
  1. Zaman Italia
Tokoh yang terkenal pada yang terkenal pada zaman ini adalah Dante, Torquato Tasso, dan niccolo Machiavelli. Ciri-ciri drama pada zaman ini, adalah sebagai berikut:
  1. Improvisatoris atau tanpa naskah
  2. Gayanya dapat dibandingkan dengan gaya jazz, melodi ditentukan dulu, baru kemudian pemain berimprovisasi.
  3. Cerita berdasarkan dongeng dan fantasi dan tidak berusaha mendekati kenyataan.
  4. Gejala acting: pantomime, gila-gilaan, adegan dan urutan tidak diperhatikan.
  1. Zaman Elizabeth
Tokoh yang paling terenal pada zaman ini adalah Shakespeare. Ciri-ciri naskah zaman Elizabeth adalah:
  1. Naskah puitis
  2. Dialognya panjang-panjang
  3. Penyusunan naskah lebih bebas, tidak mengikuti hukum yang sudah ada.
  4. Laku bersifat simultan, berganda, dan rangkap.
  5. Campuran antara drama dengan humor.
  1. Perancis: Molere dan Neoklasikisme
Tokoh yang terkenal pada zaman ini adalah Pierre Corneille (1606-1684), Jean Racine (1639-1699), Moliere, Jean Babtista Poquelin (1622-1673), Voltaire (1694-1778), Denis Diderot (1713-1784), Beaumarchais.
  1. Jerman: Zaman Romantik
Tokoh yang terkenal pada zaman ini adalah Gotthold Ephraim Lessing (1729-1781), Wolfgang Von Goethe (1749-1832), Christhop Friedrich Von Schiller (1759-1805).
  1. Drama Modern
Tokoh yang terkenal dalam drama ini adalah Ibsen (Norwegia), Strindberg (Swedia), Bernard Shaw (Inggris), dan tokoh-tokoh dari Irlandia, Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Rusia, dan terakhir Amerika Serikat yang menunjukkan perkembangan pesat.
  1. Perkembangan Teater di Indonesia
  1. Teater Tradisional
Teater tradisional adalah teater yang berkembang di kalangan rakyat. Sifatnya supel, artinya dipentaskan di sembarangan tempat. Bersifat improvisasi atau tanpa naskah.
  1. Teater Rakyat: Sifat teater rakyat seperti halnya teater tradisional, yaitu improvisasi, sederhana, spontan, dan menyatu dengan kehidupan rakyat.
  2. Teater Klasik: Sifat teater ini sudah mapan, artinya segala sesuatunya sudah teratur dengan cerita, pelaku yang terlatih, gedung pertunjukan yang memadai dan tidak lagi menyatu dengan kehidupan rakyat (penontonnya).
  3. Teater Transisi: Merupakan teater yang bersumber dari teater tradisional, tetapi gaya penyajiannya sudah dipengaruhi oleh teater barat.
  1. Abdul Muluk
Grup teater ini merupakan awal grup teater yang meninggalkan ciri-ciri tradisional, misalnya sebagai berikut:
  1. Tidak lagi bersifat improvisasi, tetapi naskah sudah mulai membagi peran.
  2. Tidak lagi mengandalkan segi tari dan lagu.
  3. Struktur lakonnya tidak lagi statis, tetapi disesuaikan dengan perkembangan lakon atau cerita sastra.
  1. Komedi Stambul
Lahir pada tahun 1891 dan didirikan oleh August Mahieu. Menampilkan lagu-lagu melayu, maka disebut pula opera melayu.
  1. Dardanella
Didirikan oleh Willy Klimanoff atau A. Pedro. Dalam teater ini tidak ada lagi nyanyian.
  1. Maya
Timbulnya teater Maya dipengaruhi oleh saudagar-saudagar Cina. Maya dipimpin oleh Umar Ismali. Maya banyak mementaskan karya-karya pengarang Indonesia.
  1. Cine Drama Institut
Lahir di Yogya pada tahun 1948 dan merupakan embrio bagi ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film).
  1. Zaman Kemajuan Drama Teater
Sejak tahun 1968, yaitu setelah Rendra pulang dari Amerika dan mendirikan Bengkel Teater di Yogya, maka mulailah zaman kemajuan dunia teater. Berdirinya Taman Ismail Marzuki juga menambah kemajuan dunia teater.
  1. Bengkel Teater Rendra, dipimpin oleh Rendra.
  2. Teater Populer, dipimpin oleh Teguh Karya.
  3. Teater Kecil, dipimpin oleh Arifin C. Noer.
  4. Teater Koma, dipimpin oleh Nano Riantiarno.
  5. Teater Mandiri, dipimpin oleh Putu Widjaya.
  6. Bengkel Muda Surabaya, dipimpin oleh Akudiat.


Bab II
Penyutradaraan dan Teknik Berperan
  1. Penyutradaraan
Penyutradaraan berhubungan dengan kerja sejak perencanaan pementasan sampai pementasan berakhir. Peranan sutradara teater tradisional tidak sepenting dan sebesar peranan sutradara dalam teater modern. Seluruh pementasan drama modern adalah tanggung jawab sutradara. Harymawan menyatakan bahwa sutradara adalah karyawan teater yang bertugas mengkoordinasikan segala kebutuhan teater, dengan faham, kecakapan, serta daya imajinasi yang intelegen guna menghasilkan pertunjukan yang berhasil.
  1. Sejarah Timbulnya Sutradara
Pada tahun 1923, sutradara terkenal dari Rusia, Constantin Stanislavsky menciptakan metode acting dan menggunakan kehidupan wajar sebagai model seni pentas. Melaui Princetown Players dan Group Theater Stanislavsky mempengaruhi Broadway, sehingga teater profesional menerima teori-teori acting dan penyutradaraan yang diberikan. Sejak saat itu, sutradara berkedudukan penting dalam drama.
  1. Tugas Sutradara
  1. Merencanakan Produksi
Untuk menjadi sutradara, seorang harus mempersiapkan diri memulai latihan yang cukup serius, memahami segala aspek pentas, memahami acting, dan memahami cara melatih acting dan memahami seluk beluk perwatakan sebagai dimensi dalam diri seorang peran.
  1. Memimpin Latihan
Periode latihan dapat dibagi menjadi empat periode besar, yaitu:
  1. Latihan pembacaan teks
  2. Latihan blocking (pengelompokan)
  3. Latihan action atau latihan kerja teater
  4. Pengulangan dan pelancaran terhadap semua yang telah dilatih
  1. Teknik Berperan
Berperan adalah menjadi orang lain sesuai tuntutan lakon drama. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam berperan:
  1. Kreasi yang dilakukan oleh aktor atau aktris.
  2. Peran yang dibawakan harus bersifat alamiah dan wajar.
  3. Peran yang dibawakan harus disesuaikan dengan tipe, gaya, jiwa, dan tujuan dari pementasan.
  4. Peran yang dibawakan harus disesuaikan dengan periode tertentu dan watak yang harus direpresentasikan.
  1. Teknik Berperan Menurut Rendra
  1. Aktor atau bintang
  2. Sutradara
  3. Lingkungan
  4. Penulis
  1. Teknik Edward A. Wright
  1. Sensitif
  2. Sensibel
  3. Kualitas personal yang memadai
  4. Daya dimensi yang kuat
  5. Stamina fisik dan mental yang baik.
  1. Oscar Brocket
  1. Latihan tubuh
  2. Latihan suara
  3. Observasi dan imajinasi
  4. Latihan konsentrasi
  5. Latihan teknik
  6. Latihan sistem acting
  7. Latihan untuk memperlentur keterampilan
  1. Constantin Stanislavsky
  1. Berperan adalah suatu seni
  2. Motivasi
  3. Imajinasi
  4. Pemusatan Pikiran (konsentrasi)
  5. Mengendurkan urat
  6. Satuan atau sasaran
  7. Keyakinan rasa kebenaran
  8. Ingatan batin
  9. Komunikasi atau hubungan batin
  10. Adaptasi
  11. Kekuatan emotif dalam
  12. Keadaan kreatif batiniah
  13. Sasaran yang paling utama
  14. Di ambang pintu bawah sadar
  1. Richard Boleslavsky
  1. Konsentrasi
  2. Ingatan emosi
  3. Laku dramatis
  4. Pembangunan watak
  5. Observasi
  6. Irama
  1. Adjib Hamzah
  1. Latihan suara dan ucapan
  2. Latihan pernafasan
  3. Pendiskusian struktur teks drama
  4. Latihan movement
  5. Latihan mimik
  6. Latihan blocking (pengelompokan)
  7. Latihan penghayatan dan imajinasi
  8. Latihan pencapaian mood
  9. General rehearsal (laihan akhir)

Bab III
Perlengkapan Pementasan
  1. Perlengkapan Pementasan Untuk Aktor Dan Aktris
  1. Tata Rias
Tata rias adalah seni menggunakan bahan kosmetika untuk menciptakan wajah peran sesuai dengan tuntutan lakon.
Fungsi tata rias adalah:
  1. Mengubah watak seseorang, baik dari segi fisik, psikis, dan sosial.
  2. Membeikan tekanan terhadap peranannya.
Berdasarkan jenisnya, tata rias diklasifikasikan menjadi 8, yaitu:
  1. Rias Jenis: Rias yang mengubah peran.
  2. Rias Bangsa: Rias yang mengubah bangsa seseorang.
  3. Rias Usia: Rias yang mengubah usia seseorang.
  4. Rias Tokoh: Rias yang membentuk tokoh tertentu yang sudah memiliki ciri fisik yang harus ditiru.
  5. Rias Watak: Rias sesuai dengan waak peran.
  6. Rias Temporal: Rias yang dibedakan karena waktu atau saat tertentu.
  7. Rias Aksen: Rias yang hanya memberikan tekanan kepada pelaku yang mempunyai ciri sama dengan tokoh yang dibawakan.
  8. Rias Lokal: Rias yang ditentukan oleh tempat atau hal yang menimpa peran saat itu.
Berdasarkan sifatnya, tata rias diklasifikasikan menjadi 5, yaitu:
  1. Base (dasar)
  2. Foundation
  3. Lines
  4. Rounge
  5. Cleansing (cream)
  1. Tata Pakaian
Tujuan pemberian kostum pada aktor dan aktris adalah:
  1. Membantu mengidentifikasi periode saat lakon itu dilaksanakan.
  2. Membantu mengindividualisasikan pemain.
  3. Menunjukkan asal-usul dan status sosial orang tersebut.
  4. Menunjukkan waktu peristiwa itu terjadi.
  5. Mengekspresikan usia orang itu.
  6. Mengekspresikan gaya permainan.
  7. Mambantu aktor dan aktris mengekspresikan wataknya.
Berdasarkan sifat dan fungsinya, kostum diklasifikasikan menjadi 5, yaitu:
  1. Pakaian Dasar atau foundation
  2. Pakaian Kaki (sepatu)
  3. Pakaian Tubuh (body)
  4. Pakaian Kepala (headdress)
  5. Pakaian Pelengkap (accessories)
Berdasarkan tipenya, kostum diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
  1. Kostum Historis
  2. Kostum Modern
  3. Kostum Nasional
  4. Kostum Tradisional
  1. Perlengkapan di Pentas
  1. Tata Lampu
Tujuan tata lampu adalah:
  1. Penernerangan terhadap pentas dan aktor.
  1. Memberikan efek alamiah dari waktu.
  1. Membantu melukis dekor (scenery) dalam menambah nilai warna hingga terdapat efek sinar dan bayangan.
  2. Melambangkan maksud dengan memperkuat kejiwaannya.
  3. Mengekspresikan mood dan atmosphere dari lakon.
  4. Mamberikan variasi-variasi
Berdasarkan fungsinya, lampu diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:
  1. Lampu Primer
  2. Lampu Sekunder
  3. Lampu untuk latar belakang.
  1. Tata Pentas dan Dekorasi
Macam-macam Pentas:
  1. Pentas Konvensional: Bentuk pentas yang masih menggunakan proscenium (tirai depan)
  2. Pentas Arena: Bentuk pentas tidak di panggung, tetapi sejajar dan dekat dengan penonton.
  3. Revolving: Panggung yang dapat diputar.
  4. Elevator Lift: Tiga pentas berupa panggung atau lebih disusun secara vertikal dan digunakan silih berganti dengan menaikkan atau menurunkan panggung.
Fungsi dekorasi: Untuk memberikan latar belakang.
Berdasarkan tempat mewujudkannya, ada 2 macam dekor, yaitu:
  1. Interior Setting: Jika lakon dipentaskan di dalam rumah.
  2. Eksterior Setting: Jika lakon dipentaskan terjadi di alam terbuka.
Komposisi pentas harus memberikan pandangan yang indah, hangat, dan menarik. Adapun aspek motif meliputi hal-hal berikut:
  1. Kewajaran
  2. Menceritakan kisah
  3. Menggambarkan emosi
  4. Mengidentifikasi perwatakan
Berdasarkan aspek teknis, maka harus diperhatikan hal-hal berikut:
  1. Penyusunan komposisi pentas dengan daerah permainan hendaknya benar-benar dijaga.
  2. Wujudkanlah komposisi pentas yang menghasilkan gambar yang baik.
  3. Susunlah komposisi pentas yang mengontrol dan memimpin perhatian penonton kepadanya.
  1. Ilustrasi Musik dan Tata Suara
  1. Tata Musik
Fungsi tata musik adalah:
  1. Memberikan ilustrasi yang memperindah.
  2. Memberikan latar belakang.
  3. Memberikan warna psikologis.
  4. Memberi tekanan kepada nada dasar drama.
  5. Membantu dalam penanjakan lakon, penonjolan, dan progresi.
  6. Memberi tekanan pada keadaan yang mendesak.
  7. Memberi selingan.
  1. Tata Suara
Peran suara memberikan pelengkap adegan yang diucapkan pelaku dalam dialognya. Suara akan meyakinkan penonton terhadap adegan yang sedang ditonton.

Bab IV
Pengajaran Drama

  1. Pendahuluan
Pengajaran drama di sekolah dapat ditafsirkan menjadi dua macam, yaitu pengajaran teori drama dan pengajaran apresiasi drama.
  1. Pengajaran drama di sekolah
Pengajaran drama diklasifikasikan menjadi:
  1. Pengajaran teks drama yang termasuk drama
  2. Pementasan drama yang termasuk bidang teater
Kesulitan-kesulitan dalam pembinaan teater di sekolah yaitu:
  1. Kekurangan pelatih atau sutradara yang dedikatif.
  2. Kekurangan naskah drama yang cukup pendek dan temanya relevan dengan tuntutan sekolah.
  3. Kekurangan perserta yang dedikatif dalam berlatih.
  4. Kekurangan fasilitas pentas.
  5. Kekurangan biaya latihan dan biaya pementasan.
  6. Kekurangan petugas teknik dan artistik
  7. Kekurangan perhatian dan bantuan pemimpin sekolah demi perkembangan drama di sekolah.
  1. Peranan drama sebagai penunjang pemahaman dan penggunaan bahasa
Pengajaran drama sebagai penunjang pemahaman bahasa berarti untuk melatih keterampilan membaca (teks drama) dan menyimak atau mendengarkan (dialog pertunjukan drama, mendengarkan drama radio dan televisi). Sementara penunjang latihan penggunaan bahasa artinya melatih keterampilan menulis (teks drama sederhana, resensi drama dan resensi pementasan) dan wicara (melakukan pentas drama).
  1. Tujuan Pengajaran (Instructional Objectives)
  1. Taksonomi Bloom
Tujuan pengajaran dibagi menjadi:
  1. Kognitif: Pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
  2. Afektif: Menerima (receiving), menjawab atau mereaksi (responding), menaruh penghargaan (valuing), mengorganisasikan sistem nilai, dan mengadakan karakterisasi nilai.
  3. Psikomotorik: Persepsi, kesiapan, respons terpimpin, mekanisme, respons yang kompleks.
  1. David Merrill
Tujuan pengajaran dibagi menjadi:
  1. Fakta: Mengingatkan fakta
  2. Konsep: Mengingatkan konsep dan menggunakan konsep
  3. Prosedur atau rule: Mengingatkan prosedur dan menggunakan prosedur.
  4. Prinsip: Mengingatkan prinsip dan menggunakan prinsip.
  1. Robert M. Gagne
Tujuan pengajaran dibagi menjadi:
  1. Kemampuan intelektual: Diskriminasi, identifikasi, klasifikasi, demonstrasi, menggeneralisasikan.
  2. Strategi kognitif: Mengubah konsep lama, mengambil kesimpulan, memecahkan masalah.
  3. Informasi: Belajar label (judul), belajar fakta (informasi), belajar keseluruhan pengetahuan.
  4. Sikap: Kecepatan (speed), kecermatan (accuracy), kekuatan (force), keluwesan (smoothness).
  5. Sikap (attitude): Pemilihan, tindak perseorangan, tindakan.
  1. H. L. B. Moody
Tujuan pengajaran dibagi menjadi:
  1. Informasi
  2. Konsep
  3. Perspektif
  4. Apresiasi
  1. Proses Belajar Mengajar
  1. Seleksi (Pemilihan) Materi
Secara umum, seleksi materi harus disesuaikan dengan:
  1. Tingkat perkembangan psikologis anak.
  2. Tujuan yang digariskan melalui kurikulum.
  3. Tujuan pendidikan dan pengajaran pada umumnya.
  1. Gradasi (Urutan Penahapan)
Untuk pementasan drama, hendaknya dimulai dari role playing (bermain peran). Kemudian meningkat pada pemeranan adegan-adegan pendek. Mempelajari lakon pendek sederhana. Menyusul lakon pendek yang rumit, untuk akhirnya mementaskan lakon panjang.
  1. Presentasi (Teknik Penyampaian)
Penyampaian dalam pengajaran drama, dapat berupa hal-hal berikut:
  1. Mendiskusikan naskah drama tersebut.
  2. Mementaskan sebuah adegan.
  3. Mementaskan sebuah lakon.
  4. Kegiatan mendengarkan sandiwara radio.
  5. Diselenggarakan pertunjukan drama yang disusul dengan diskusi tentang pertunjukan tersebut.
  1. Repetisi
Materi yang sudah diberikan harus diulangi dalam bentuk ulasan guru atau tanya jawab, dapat pula berwujud resensi terhadap drama yang sudah dibaca, dilihat, atau ditulis.
  1. Evaluasi dalam Pengajaran Drama
  1. Evaluasi untuk apresiasi drama dalam hal pemahaman naskah, pada hakikatnya sama dengan evaluasi untuk mengajarkan sastra.
  2. Tes informasi merupakan tingkat tes paling rendah.
  3. Evaluasi terhadap tugas individual dalam penampilan memerankan seuatu tokoh.
  4. Tugas kelompok merekam sandiwara.
  5. Tugas kelompok untuk mementaskan drama.
  6. Resensi drama.
  1. Strategi Pengajaran Teks Drama (Sebagai Karya Sastra)
  1. Strategi Stratta
Dalam strategi stratta, ada tiga tahap, yaitu:
  1. Tahap penjelajahan
  2. Tahap interpretasi
  3. Tahap reaksi
  1. Langkah-langkah Penyajian
Sebelum guru dapat mengajarkan satu drama pada satu kelas, ia harus mengadakan dua macam persiapan, yaitu memilih bahasa yang cocok untuk kelasnya dan menyusun persiapan guna dapat mengajarkannya dengan baik, sebelum ia siap untuk membawa bahan itu ke kelas.
  1. Strategi Induktif Model Taba
Langkah-langkah dalam strategi induktif model taba adalah sebagi berikut:
  1. Pembentukan konsep: Mendaftar data, mengklasifikasikan, memberi nama.
  2. Penafsiran data: Menafsirkan, membandingkan, menyimpulkan atau menggeneralisasikan.
  3. Penerapan prinsip: Menganalisis masalah baru, membuat hipotesis, menerangkan, memeriksa ramalan.
  1. Strategi Analisis
Langkah-langkah dalam strategi analis yaitu:
  1. Membaca keseluruhan
  2. Analisis
  3. Memberikan pendapat akhir
  1. Strategi Sinektik (Model Gordon)
Ada tiga langkah dalam metode sintetik, yaitu:
  1. Analogi langsung (direct analogy)
  2. Analogi personal (personal analogy)
  3. Konflik kempaan atau termapatkan (compressed conflict)
  1. Role Playing (Bermain Peran)
Langkah-langkah dalam role playing yaitu:
  1. Memotivasi kelompok
  2. Memilih pemeran (casting)
  3. Menyiapkan pengamat
  4. Menyiapkan tahap-tahap peran
  5. Pemeranan (pentas di depan kelas)
  6. Diskusi dan evaluasi I (spontanitas)
  7. Pemeranan (pentas) ulang
  8. Diskusi dan evaluasi II, pemecahan masalah
  9. Membagi pengalaman dan menarik generalisasi
  1. Sosio Drama
Langkah untuk mengefektifkan sosio drama adalah sebagai berikut:
  1. Menetapkan problem
  2. Mendeskripsikan situasi konflik
  3. Pemilihan pemain (casting characters)
  4. Memberikan penjelasan dan pemanasan bagi aktor dan pengamat
  5. Memerankan situasi tersebut
  6. Memotong adegan
  7. Mendiskusikan dan menganalisis situasi, kelakuan, dan gagasan yang diproduksi.
  8. Menyusun rencana untuk testing lebih lanjut atau implementasi gagasan baru.
  1. Simulasi
Simulasi yaitu strategi untuk memberikan kemungkinan kepada murid agar ia dapat menguasai suatu keterampilan melalui latihan dalam situasi tiruan. Langkah-langkah dalam stimulasi:
  1. Pemilihan situasi, masalah atau permainanyang cocok
  2. Pengorganisasian kegiatan
  3. Periapan untuk memberikan petunjuk-petunjuk
  4. Pemberian petunjuk secara jelas kepada siswa
  5. Diskusi tentang kegiatan simulasi dengan pelaku
  6. Pemilihan peran
  7. Persiapan pemeranan
  8. Mengawasi kegiatan simulasi
  9. Penyampaian saran-saran perbaikan
  10. Evaluasi tentang konstribusi
  1. Strategi Pembelajaran Drama Pentas
  1. Pementasan Drama di Kelas
Pementasan dapat berupa pementasan satu naskah drama oleh satu kelompok atau lebih. Guru harus menyediakan petugas teknis dan artistik untuk melayani pementasan yang dilaksanakan.
  1. Pementasan Drama oleh Teater Sekolah
Untuk pementasan sekolah, hendaknya dipilih naskah-naskah yang komunikatif, mudah dipahami, mempunyai konflik yang kuat dan atraktif.
  1. Teknik Pembinaan Apresiasi Drama
Dalam membina dan mengembangkan apresiasi drama, murid dan guru harus dilengkapi dengan bahan yang serasi untuk kelompok-kelompok yng diajarkan dan menguasai teknik mengajar drama dengan baik, serta dapat menyesuaikan teknik dan bahan jika diperlukan.
  1. Catatan Tambahan Tentang Pemilihan Materi
Pemilihan bahan naskah drama untuk diajarkan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
  1. Sesuai dan menarik bagi tingkat kematangan jiwa murid.
  2. Tingkat kesulitan bahasanya sesuai untuk tingkat kemampuan murid.
  3. Bahasanya sedapat mungkin menggunakan bahasa yang standar.
  4. Isinya tidak bertentangan dengan haluan negara kita.

------------------------------------------------------------------------
DOWNLOAD Resume Buku “Drama: Teori dan Pengajarannya” Karya Prof. Dr. Herman J. Waluyo: DOWNLOAD