Showing posts with label SKRIPSI. Show all posts
Showing posts with label SKRIPSI. Show all posts
Monday, July 25, 2016
Skripsi: Pembentukan Kosakata Slang dalam Komunitas Jkboss pada Akun Twitter @Jakartakeras
Judul Skripsi: Pembentukan Kosakata Slang dalam Komunitas Jkboss pada Akun Twitter @Jakartakeras
Penulis: Setiawan Nugroho
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Yogyakarta
2015
Abstrak
Penelitian mengenai pembentukan kosakata slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk bahasa slang yang terdapat dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras, (2) proses pembentukan slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras, (3) makna slang yang terdapat dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras, dan (4) tujuan penggunaan slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian merupakan data tertulis berupa ujaran atau tuturan yang terdapat pada twitt dan mention dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras. Sumber data penelitian ialah penggunaan bahasa slang yang terdapat dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras. Data diperoleh dengan menggunakan metode simak, sedangkan teknik yang digunakan bebas cakap. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode padan dan distribusional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah human instrument, dan keabsahan data diperoleh dengan ketekunan pengamatan dan debriefing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras adalah sebagai berikut. (1) Bentuk slang dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras berupa kata dan frase. Slang dalam komunitas JKBoss berupa kata yang mengalami proses pembentukan, berupa kata yang tidak mengalami proses pembentukan, dan slang yang berbentuk frase. (2) Proses pembentukan slang dalam komunitas JKBoss meliputi perubahan struktur fonologi berupa pembalikan suku kata, pembalikan kata secara menyeluruh, penghilangan suku pertama, dan penggantian vokal, sedangkan proses morfologi berupa akronim dan singkatan. (3) Jenis makna slang yang terdapat dalam komunitas JKBoss pada akun twitter @JakartaKeras meliputi makna denotatif dan makna konotatif. (4) Tujuan penggunaan slang dalam komunitas JKBoss digunakan sebagai kejenakan, umpatan, sindiran, keakraban, dan pernyataan.
Kata kunci : Slang, JKBoss, Akun twitter @JakartaKeras.
DOWNLOAD SKRIPSI
Pembentukan Kosakata Slang dalam Komunitas Jkboss pada Akun Twitter @Jakartakeras
Skripsi: Struktur Fonotaktik Kosakata Slang Pada Komunitas Mantan Pengguna Narkoba Di Rumah Sakit Grhasia Sleman
Judul Skripsi: Struktur Fonotaktik Kosakata Slang Pada Komunitas Mantan Pengguna Narkoba Di Rumah Sakit Grhasia Sleman
Penulis: Natalia Veni Handayani
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Yogyakarta
2013
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur fonotaktik silabel dan struktur fonotaktik kata kosakata bahasa slang pada mantan pengguna narkoba di Rumah Sakit Grhasia Sleman.
Subjek penelitian ini meliputi kosakata atau istilah bahasa slang verbal yang dipergunakan mantan pengguna narkoba di Rumah Sakit Grhasia. Objek penelitian ini adalah fonotaktik silabel dan fonotaktik kata kosakata atau istilah bahasa slang yang dipergunakan mantan pengguna narkoba di Rumah Sakit Grhasia dalam berkomunikasi. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik SLC (simak libat cakap) dan teknik SBLC (simak bebas libat cakap). Sedangkan metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode agih. Alat penentu dalam rangka kerja metode agih berupa bagian atau unsur dari bahasa slang pengguna narkoba di Rumah Sakit Grhasia Sleman. Teknik analisis data yang digunakan dalam metode agih ini adalah mendeskripsikan segala sesuatu yang ditemukan dalam subjek penelitian. Maksudnya peneliti memaparkan data bahasa slang pengguna narkoba yang ditemukan di lapangan dan menganalisinya sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Keabsahan data diperoleh melalui diskusi dengan rekan sejawat.
Dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut, yaitu fonotaktik silabel kosakata bahasa slang pada mantan pengguna narkoba Rumah Sakit Grhasia Sleman ditemukan pola silabel yang berterima dalam bahasa Indonesia sebanyak tujuh pola. Pola tersebut, yaitu V, VK, KV, KVK, KVKK, KKV dan KKVK. Setiap silabel selalu diisi dengan vokal yang berperan sebagai nucleus, sedangkan onset dan koda tidak selalu ada dalam setiap silabel, seperti pada pola silabel VK tidak terdapat onset dan pada pola silabel KV tidak terdapat koda. Onset dan koda dalam kosakata bahasa slang ini maksimum terdiri dari dua konsonan, di antaranya ialah ks, ps, rt, bl, dr, pl, tw, sr, fl, gl, kr, pr, py dan tr. Fonotaktik kata dalam bahasa slang mantan pengguna narkoba Rumah Sakit Ghrasia Sleman ditemukan sebanyak tiga pola, yaitu sanding vokal dengan vokal, sanding vokal dengan konsonan, dan sanding konsonan dengan konsonan dan tidak ditemukan pola sanding konsonan dengan vokal. Sanding vokal dengan vokal yang ditemukan yaitu /-ai-, -au-, -ea-, -eɛ-, -əa-, -oa- dan –ia/. Sanding vokal dengan konsonan biasanya ditemukan di awal dan di tengah kata, misalnya kata afo fonotaktik katanya menjadi /(a-f)o/ atau beler menjadi /b(e-l)er/. Sanding konsonan dengan vokal selalu terdapat di tengah kata, seperti /bo(ɳ-k)i/.
DOWNLOAD SKRIPSI
Struktur Fonotaktik Kosakata Slang Pada Komunitas Mantan Pengguna Narkoba Di Rumah Sakit Grhasia Sleman
Skripsi: Penggunaan Bahasa Slang Dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon (Sebuah Tinjauan Sosiolinguistik)
Judul Skripsi: Penggunaan Bahasa Slang Dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon (Sebuah Tinjauan Sosiolinguistik)
Penulis: Harudin Setyawan
Jurusan Sastra Daerah
Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2009
Abstrak
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana karakteristik penggunaan bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon?, 2) Apa fungsi sosial penggunaan bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon?, 3) Bagaimana peristiwa kebahasaan yang menyertai penggunaan bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon? Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik, fungsi sosial, dan peristiwa kebahasaan yang menyertai penggunaan bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber datanya berasal dari informasi yang terpilih berupa tuturan yang mengandung bahasa slang dapikan. Data dalam penelitian ini berupa data lisan. Sampel dalam penelitian ini memilih di Kelurahan Sangkrah dan Kedunglumbu karena kedua lokasi ini banyak yang menggunakan bahasa dapikan. Oleh karena itu metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak dan catat dari beberapa wawancara yang peneliti lakukan.
Dalam analisis data, dilakukan pengklasifikasian dan pengidentifikasian data sesuai dengan permasalahannya, kemudian data akan dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif dan juga pemahaman dengan pendekatan sosiolinguistik. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa karakteristik bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon menggunakan dasar pijakan pada aksara Jawa yang dibalik. Perubahan dan pertukaran huruf itu tidak diberlakukan pada huruf vokal yang mengikuti huruf konsonan, dengan kata lain tidak terjadi perubahan bunyi vokal pada kata aslinya.
Fungsi sosial dari bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon adalah 1) untuk menunjukkan status sosial, 2) Untuk merahasiakan pembicaraan, 3) untuk menarik perhatian, 4) untuk memperlancar komunikasi, dan 5) untuk menurunkan ketegangan. Peristiwa kebahasaan yang menyertai dalam pertuturan dalam penelitian ini adalah tindak tutur, campur kode, dan jenis kalimat dalam bahasa slang dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon.
DOWNLOAD SKRIPSI
Penggunaan Bahasa Slang Dapikan di Kecamatan Pasar Kliwon (Sebuah Tinjauan Sosiolinguistik)
Tesis: Analisis Kesepadanan Makna dan Keberterimaan Bahasa Informal pada Terjemahan Tuturan Slang dalam Novel P.S. I Love You Karya Cecelia Ahern
Judul Tesis: Analisis Kesepadanan Makna dan Keberterimaan Bahasa Informal pada Terjemahan Tuturan Slang dalam Novel P.S. I Love You Karya Cecelia Ahern
Penulis:Pristinian Yugasmara
Program Studi Linguistik
Minat Utama Linguistik Penerjemahan
Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2010
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bentuk tuturan slang yang terdapat dalam novel P.S. I Love You karya Cecilia Ahern dan terjemahannya dalam novel dengan judul yang sama oleh Monica Dwi Chresnayani, (2) mengetahui teknik penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan tuturan slang yang terdapat dalam novel P.S. I Love You karya Cecelia Ahern, dan (3) mengetahui tingkat kesepadanan dan keberterimaan makna serta keberterimaan bahasa informal teks terjemahan tuturan slang yang terdapat dalam novel P.S. I Love You karya Cecilia Ahern.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan bentuk content analysis. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data objektif dan afektif. Data objektif dalam penelitian ini berupa bentuk slang dalam novel P.S. I Love You baik dalam Bsu maupun terjemahannya dalam Bsa serta dokumen mengenai Irish Slang. Sedangkan data afektif diambil dari penilaian pembaca dan pengamat ahli. Dengan menggunakan teknik purposive sampling, ditemukan 95 data slang terjemahan dan Irish Slang Dictionary sebagai data objektif, dan kuesioner penilaian dari pembaca dan pengamat ahli sebagai data afektif.
Hasil penelitian terbagi menjadi temuan terhadap bentuk slang, teknik yang digunakan dalam menerjemahkan slang, kesepadanan makna terjemahan slang, keberterimaan makna terjemahan slang, dan keberterimaan kandungan bahasa informal dalam terjemahan slang. Bentuk slang yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi 26 kategori dengan makna masing-masing. Teknik yang digunakan dalam menerjemahkan bentuk slang dalam novel P.S. I Love You adalah reduction, calque, dan variation atau gabungan dari ketiganya. Pada tingkat kesepadanan makna, ditemukan 81 (85,56%) data yang dinilai sepadan, 11 (12,63%) data kurang sepadan, dan 3 (2,10%) data tidak sepadan. Dari penilaian terhadap keberterimaan makna, ditemukan 86 (90,52%) data berterima, 6 (6,31%) data kurang berterima, dan 3 (2,10%) data tidak berterima. Sedangkan terhadap keberterimaan kandungan bahasa informal data, pembaca awam memberikan penilaian berterima terhadap 62 (65,26%) data dan kurang berterima terhadap 33 (34,73%) data.
Secara keseluruhan, data-data terjemahan slang dalam novel P.S. I Love You sudah memiliki kualitas yang cukup baik. Namun, sebagai catatan bagi penerjemah dan orang-orang yang memiliki ketertarikan di bidang penerjemahan, perlu diperhatikan lagi mengenai pemilihan padanan makna yang tepat untuk menerjemahkan istilah-istilah yang berhubungan dengan ciri khas suatu budaya ke dalam budaya bahasa sasaran beserta tingkat keberterimaannya.
DOWNLOAD TESIS
Analisis Kesepadanan Makna dan Keberterimaan Bahasa Informal pada Terjemahan Tuturan Slang dalam Novel P.S. I Love You Karya Cecelia Ahern
Friday, July 22, 2016
Tesis Novel Kalatidha: Menggugat "Dunia Kabut": Telaah Keadilan dalam Novel Kalatidha Karya Seno Gumira Ajidarma
Judul Tesis: Menggugat "Dunia Kabut": Telaah Keadilan dalam Novel Kalatidha
Karya Seno Gumira Ajidarma
Peneliti/penulis: Dian Susilastri
Tahun: 2008
Program studi Ilmu Susastra
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
Abstrak
Tesis ini membahas keadilan dalam novel Kalatidha karya Seno Gumira Ajidarma.Penelitian ini menggunakakan metode deskriptif analitik. Kajian sosiologi sastra digunakan dengan alasan Kalatidha dipandang sebagai teks yang diciptakan oleh pengarang sebagai bentuk usaha menanggapi realitas di sekitarnya, berkomunikasi dengan realitas, atau menciptakan kembali realitas itu. Kalatidha mengangkat persoalan keadilan dalam kisah-kisah di balik G 30 S/PKI tahun 1965 dengan cara metaforis yaitu sebagai “dunia kabut”, sebuah sisi suram dari peristiwa yang bersifat nasional.Pemerintah Orde Baru telah membuat narasi resmi tentang G 30 S/PKI; terhadap realitas sosial tersebut Kalatidha berfungsi sebagai penegasi.
DOWNLOAD TESIS
Menggugat "Dunia Kabut": Telaah Keadilan dalam Novel Kalatidha
Karya Seno Gumira Ajidarma
Thursday, July 21, 2016
Tesis Novel Cala Ibi: Strategi Pembacaan Novel Metafiksi Cala Ibi
![]() |
Tesis Novel Cala Ibi: Strategi Pembacaan Novel Metafiksi Cala Ibi |
Judul Tesis: Strategi Pembacaan Novel Metafisika Cala Ibi
Peneliti/penulis: Bramantio
Tahun: 2008
Program studi Ilmu Susastra
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia
Abstrak
Cala Ibi adalah novel yang menghadirkan masalah pembacaan atas dirinya kepada pembacanya. Fakta yang demikian pada dasarnya disebabkan oleh ketidakgramatikalan Cala Ibi yang terbentuk oleh piranti sastra yang dimilikinva. Berkaitan dengan hal itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi pembacaan Cala Ibi Dengan memanfaatkan naratologi yang dikembangkan Gerard Genette dan semiotika yang dikembangkan Michael Ritfaterre, ketidakgramatikalan tersebut dapat dipahami dan diubah menjadi gramatikal. Lebih lanjut, dapat diketahui pula bahwa Cala Ibi menyediakan panduan pembacaan bagi pembacanya. Dengan kata lain, Cala Ibi adalah novel yang memiliki kesadaran atas dirinya sendiri atau bersitat metafiksi.
Penerimaan atas metafora sebagai hal yang wajar, pembentukan cakrawala harapan baru, dan keikhlasan mengikuti panduan Cala Ibi adalah tiga hal yang perlu dimiliki pembaca Cala Ibi. Dengan ketiga hal tersebut, pembaca dapat mengetahui bahwa kedua puluh empat bab Cala Ibi terdiri atas delapan bab bingkai-Maya dan enam belas bab bingkai-Maia yang mcmbcntuk garis-waktu kisah berupa angka delapan tanpa awal dan akhir. Pembaca pun pada akhirnya memahami bahwa memaknai Cala Ibi berati memahami gagasan-gagasan utamanya tanpa harus keluar dari teks.
Dalam Skala yang lebih luas, Cala Ibi menghadirkan pemahaman sekaligus mengajak pembacanya untuk kembali kepada teks. Teks selalu memiliki kekuatannya sendiri dalam mengarahkan pembacaan atas dirinva, dan pembaca harus berkompromi dengan hal itu apabila ingin mendapatkan pemahaman yang tepat atas teks tersebut. Dengan demikian, teks harus dibaca secara utuh sebagai kesatuan.
DOWNLOAD TESIS
Strategi Pembacaan Novel Metafiksi Cala Ibi
Strategi Pembacaan Novel Metafiksi Cala Ibi
Thursday, May 8, 2014
Skripsi: Perilaku Sosial Tokoh Utama dalam Prosa Lirik Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi Ag.
Nugroho, Andhi. 2007. Perilaku Sosial Tokoh Utama dalam Prosa Lirik Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi Agustinus. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing: I Drs. Mukh. Doyin, M.Si. II Drs. Agus Nuryatin, M.Hum.
ABSTRAK
Permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini mencakup (1) Bagaimana penokohan tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Agustinus? (2) Bagaimana perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem dalam konteks budaya Jawa? dan (3) Faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem? Adapun tujuan penelitian ini adalah mengemukakan penokohan dan perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Agustinus, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini mencakup (1) Bagaimana penokohan tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Agustinus? (2) Bagaimana perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem dalam konteks budaya Jawa? dan (3) Faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem? Adapun tujuan penelitian ini adalah mengemukakan penokohan dan perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Agustinus, beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra. Sasaran penelitian ini adalah perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi penokohan tokoh utama yang ada dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag. Sesuai dengan metode analisis deskripsi, unsur yang dianalisis ditekankan pada penokohan untuk mengetahui watak tokoh utama yang kemudian dikaji dengan menggunakan pendekatan psikologi sosial.
Hasil penelitian ini memperlihatkan tokoh dan penokohan tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem, perilaku sosial Pariyem dalam konteks budaya Jawa, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial tokoh utama dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem.
Berdasarkan temuan tersebut, saran yang diberikan kepada para pembaca prosa lirik Pengakuan Pariyem adalah agar dapat melakukan penelitian dengan bidang kajian yang lain, misalnya dengan menggunakan teori struktural genetik. Perilaku tokoh yang diceritakan Linus dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem sesuai dengan perilakunya yang bangga terhadap budaya Jawa. Sikapnya yang lugu ditampilkannya dalam prosa lirik ini, lewat tokoh Pariyem. Pariyem, gadis Jawa yang rela menerima pekerjaannya sebagai pembantu, begitu pasrah dalam memandang hidup, namun di dalam jiwanya menyimpan penuh segala kebijaksanaan hidup.
Kata Kunci: Prosa lirik, psikologi, perilaku sosial
Download skripsi lengkap
Perilaku Sosial Tokoh Utama dalam Prosa Lirik Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi Ag.
Kumpulan Abstrak Penelitian Skripsi, Tesis, Disertasi: Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari (1)
- Abstrak 1
Andi Dwi Handoko . 2010. “Novel Orang-orang Proyek dan Kaitannya dengan Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari
(Analisis Strukturalisme Genetik)”.Skripsi . Jur. Pendidikan Bahasa dan Seni. FKIP. Universitas Sebelas Maret Surakarta
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) keterjalinan
antarunsur intrinsik dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel
Ronggeng Dukuh Paruk; (2) pandangan dunia pengarang yang tercermin dalam
novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk; dan
(3) struktur sosial novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng
Dukuh Paruk.
Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif dengan
menggunakan pendekatan strukturalisme genetik. Metode yang digunakan
adalah metode dialektik. Sumber data adalah novel Orang-orang Proyek,
trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, hasil wawancara dengan pengarang,
buku Proses Kreatif Ahmad Tohari dalam Trilogi Novel Ronggeng Dukuh
Paruk, buku Hubungan Sipil Militer di Indonesia Pasca Orba di Tengah
Pusaran Demokrasi, dan artikel-artikel dari internet.
Sampel dalam
penelitian ini diambil dengan teknik purposive sampling. Teknik
pengumpulan data menggunakan teknik analisis dokumen dan wawancara
mendalam. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis mengalir
(flow model of analysis).
Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan: (1) ada keterjalinan antarunsur intrinsik dalam novel
Orang-orang Proyek dan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk; (2) pandangan
dunia Ahmad Tohari dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi Ronggeng
Dukuh Paruk adalah pandangan humanisme universal yang terdiri dari
pandangan religius, kesenian, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan
nilai moral; dan (3) struktur sosial dalam novel Orang-orang Proyek dan
trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk dibagi menjadi dua, yakni institusi
pemerintahan dan religi serta ada homologi antara struktur teks dan
struktur sosial dalam novel Orang-orang Proyek dan trilogi novel
Ronggeng Dukuh Paruk.
- Abstrak 2
Sumanto. 2010. "Kajian Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan Novel Ronggeng Dukuh Paruk
karya Ahmad Tohari dan novel Canting karya Arswendo Atmowiloto". Tesis. Prog. Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menjelaskan: (1) unsur-unsur pembentuk struktur
novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting; (2) persamaan dan
perbedaan kandungan warna lokal dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan
novel Canting; (3) nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam novel
Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode ini
digunakan untuk menggali sumber informasi dan data yang berupa teks-teks
sastra, sehingga data yang tampil bukan berupa konsep-konsep secara
statistik. Teknik pengumpulan data yang digunakan: (1) teknik interaktif
dan mencatat dokumen dengan content analysis; (2) teknik simak dan baca
catat; (3) teknik riset pustaka. Data yang sudah terkumpul dianalisis
dengan model analisis interaktif tiga alur kegiatan: (1) reduksi data;
(2) penyajian data, dan (3) peran kesimpulan atau verifikasi.
Hasil temuan penelitian dengan pendekatan intertekstualitas menunjukkan
bahwa kedua novel tersebut (1) mempunyai unsur-unsur struktur berupa
tema, penokohan, dan setting. Secara strukural kedua novel tersebut
memiliki persamaan dan perbedaan. Kedua novel tersebut sama-sama
menampilkan tema sosial dengan tokoh-tokoh orang Jawa beserta kultur
budaya Jawa. Sedangkan, perbedaannya terletak pada setting. Novel
Ronggeng Dukuh Paruk memiliki latar lingkungan pedesaan, sedangkan novel
Canting memiliki latar lingkungan perkotaan; (2) kedua novel tersebut
memiliki persamaan dan perbedaan kandungan warna lokal. Warna lokal
kehidupan masyarakat Jawa sama-sama dimiliki novel Ronggeng Dukuh Paruk
dan novel Canting. Sedangkan perbedaannya adalah novel Ronggeng Dukuh
Paruk menampilkan warna lokal kehidupan masyarakat Jawa dengan
lingkungan pedesaan. Sedangkan novel Canting menampilkan warna lokal
kehidupan masyarakat Jawa dengan lingkungan perkotaan; (3) nilai
pendidikan yang terkandung di dalam kedua novel tersebut yaitu nilai
pendidikan sosial budaya, pendidikan moral, dan pendidikan religius.
- Abstrak 3
Nurhayati. 2011. "Realisasi Kesantunan Berbahasa dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari". Tesis. Prog. Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta
ABSTRAK
Tujuan penelitian meliputi tiga hal: (1) mendeskripsikan dan menjelaskan
tindak tutur yang muncul dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad
Tohari; (2) mendeskripsikan dan menjelaskan tuturan dalam Ronggeng Dukuh
Paruk karya Ahmad Tohari guna merealisasikan kesantunan berbahasa; (3)
mendeskripsikan dan menjelaskan strategi penutur untuk merealisasikan
kesantunan berbahasa yang terdapat dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya
Ahmad Tohari.
Jenis penelitian adalah kualitatif. Bentuk penelitian adalah deskriptif.
Pendekatan penelitian yang dipakai adalah pendekatan pragmatik, yakni
mempelajari strategi-strategi yang ditempuh penutur dalam
mengomunikasikan maksud pertuturannya. Sumber data berupa data tertulis,
yakni novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Populasi
penelitian mencakup seluruh tuturan, baik monolog maupun dialog, dalam
novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Teknik pengambilan sampel
memakai purposive sampling.
Metode pengumpulan data memakai metode
simak yang diikuti secara berurutan teknik-teknik dasar berupa teknik
sadap, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik catat. Metode analisis
yang dipakai adalah metode kontekstual, yakni analisis yang
mendasarkan, memperhitungkan, dan mengaitkan bahasa dengan
identitas-identitas konteks penggunaannya. Validitas data memakai
trianggulasi teori.
Simpulan penelitian ini mencakup tiga hal. Pertama, tindak tutur dalam
novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari terdiri atas 39 tindak
tutur yang terbagi dalam empat kelompok tindak ilokusi, yakni asertif,
direktif, komisif, dan ekspresif. Asertif meliputi tindak (a)
menegaskan, (b) memberi tahu, (c) menuduh, (d) menyangkal, (e) menolak,
(f) meyakini, (g) menggunjing, dan (h) melaporkan. Direktif mencakup
tindak (a) memerintah, (b) menawarkan, (c) menantang, (d) meminta, (e)
mendesak, (f) .melarang, (g) mengingatkan, (h) meyakinkan, (i) membujuk,
(j) mengajak, (k) menyarankan, (l) menghibur, dan (m) mempersilakan.
Komisif meliputi tindak (a) berharap, (b) mengancam, dan (c) menawar.
Ekspresif meliputi tindak (a) memuji, (b) bersyukur, (c) khawatir, (d)
menyombongkan diri, (e) marah, (f) heran, (g) meminta maaf, (h) takut,
(i) kecewa, (j) mengeluh, (k) tidak percaya, (l) ragu-ragu, (m)
basa-basi, (n) mengejek, dan (o) membanggakan.
Kedua, realisasi
kesantunan berbahasa dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari
terdapat dalam tujuh macam tindak tutur: (1) realisasi kesantunan
berbahasa dalam menolak, (2) realisasi kesantunan berbahasa dalam
memerintah, (3) realisasi kesantunan berbahasa dalam menawarkan, (4)
realisasi kesantunan berbahasa dalam meminta, (5) realisasi kesantunan
berbahasa dalam melarang, (6) realisasi kesantunan berbahasa dalam
memuji, dan (7) realisasi kesantunan berbahasa dalam meminta maaf.
Ketiga, strategi merealisasikan kesantunan berbahasa dalam novel
Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dilakukan dengan (1) menggunakan
tawaran, (2) memberi pujian, (3) menggunakan tuturan tidak langsung,
dan (4) meminta maaf.
- Abstrak 4
Ali Imron Al-Ma’ruf. 2009. “Kajian Stilistika Novel Trilogi Ronggeng
Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari: Perspektif Kritik Seni Holistik”.
Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas bahwa novel
Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) merupakan karya master-peace Ahmad Tohari
yang kehadirannya mengejutkan dunia sastra Indonesia karena keunggulan
daya ekspresi (stilistika) dan gagasan multidimensi. RDP mengundang
perhatian para pengamat sastra Indonesia dan dunia terbukti dengan
diterjemahkannya ke dalam beberapa bahasa asing (Jerman, Belanda,
Inggris, Cina, dan Jepang) serta bahasa Jawa. Penelitian ini bertujuan
untuk: (1) mendeskripsikan stilistika RDP yang berupa diksi, pencitraan,
dan bahasa figuratif (faktor objektif); (2) memaparkan latar
sosiohistoris pengarang sebagai kreator stilistika RDP (faktor genetik);
(3) mendeskripsikan makna stilistika RDP secara holistik dalam
hubungannya dengan latar sosiohistoris pengarang berdasarkan tanggapan
pembaca (faktor afektif).
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif
dengan strategi berpikir hermeneutik dalam perspektif kritik seni
Holistik. Penelitian ini termasuk studi kasus tunggal yakni stilistika
RDP dan termasuk studi kasus terpancang (embedded case study) mengingat
fokus utama penelitian yakni stilistika RDP sudah ditentukan sejak awal
untuk membimbing arah penelitian. Dari segi kajian stilistika,
penelitian ini termasuk penelitian stilistika genetik yakni mengkaji
stilistika RDP karya seorang pengarang, Ahmad Tohari.
Sesuai dengan
pendekatan kritik seni Holistik, data penelitian terdiri atas tiga
kelompok, yakni: (1) data aspek objektif berupa stilistika RDP yakni
wujud pemanfaatan diksi, citraan, dan bahasa figuratif; (2) data aspek
genetik berupa latar sosiohistoris pengarang; (3) data aspek afektif
berupa tanggapan/ resepsi pembaca terhadap RDP. Sumber datanya adalah:
(1) pustaka dan (2) narasumber (informant). Pengumpulan data dilakukan
melalui teknik: (1) simak dan catat, (2) pustaka, (3) wawancara mendalam
(in-depth interviewing), dan (4) focuss group discussion (FGD).
Validasi data dilakukan dengan teknik trianggulasi data dan (2)
trianggulasi teori. Pemeriksaan kredibilitas data dilakukan dengan: (1)
review informant, (2) pembuatan data base, dan (3) penyusunan mata
rantai bukti penelitian. Adapun analisis data dilakukan dengan model
interaktif (Miles & Huberman, 1984) dengan langkah: (1) reduksi
data, (2) sajian data, dan (3) penarikan simpulan dan verifikasi data.
Selanjutnya, pengungkapan makna stilistika RDP dilakukan melalui metode
pembacaan model Semiotik yakni pembacaan heuristik dan pembacaan
hermeneutik.
Hasil penelitian dengan pendekatan kritik seni Holistik
menunjukkan bahwa aspek objektif yakni stilistika RDP memiliki keunikan
dan kekhasan (idiocyncrasy) yang tidak ditemukan dalam karya sastra
lain sekaligus membuktikan kompetensi Tohari dalam pemberdayaan potensi
bahasa. Hal itu dapat dilihat pada: (1) Diksi (diction) yang unik dan
khas Tohari meliputi kata konotatif, konkret, kata bahasa Jawa, kata
asing, sapaan khas dan nama diri, kata seru, kata dengan objek realitas
alam, serta mantra dan tembang. Tiap jenis diksi tersebut memiliki
fungsi masing-masing dalam mengekspresikan gagasan. Dari delapan jenis
diksi itu, kata konotatiflah yang dominan; (2) Citraan (imagery) kreasi
Tohari mampu menghidupkan lukisan dan membangkitkan intelektualitas
serta emosi pembaca. Citraan dalam RDP meliputi tujuh jenis yakni: a.
citraan penglihatan (visual), b. pendengaran (auditory), c. perabaan
(tactile), d. penciuman (smeel), e. gerak (movement/ kinaesthetic), f.
pencecapan (taste), dan g. citraan intelektual (intellectual). Dari
tujuh citraan itu, yang dominan adalah citraan intelektual; (3) bahasa
figuratif (figurative language) dimanfaatkan Tohari guna memberikan daya
hidup, lebih ekspresif, dan mengesankan pembaca.
Dari tiga tuturan yang
dikaji yakni tuturan metaforis, idiomatik, dan peribahasa, tuturan
metaforislah yang dominan dan umumnya merupakan hasil kreasi Tohari.
Dari aspek genetik yakni latar sosiohistoris pengarang menunjukkan bahwa
Tohari adalah sastrawan Jawa yang hidup dalam keluarga santri dan akrab
dengan alam pedesaan yang asri serta masyarakat pedesaan yang
miskin dan lemah. RDP lahir didorong oleh dua hal itu yakni
kepeduliannya terhadap orang-orang kecil yang terpinggirkan dan
kesantriannya untuk melakukan dakwah kultural.
Adapun aspek afektif
menunjukkan bahwa RDP merupakan karya sastra multidimensi yang kaya
gagasan yakni: (1) empati terhadap wong cilik (dimensi sosial politik);
(2) kesenian ronggeng: kebudayaan lokal yang berdimensi global (dimensi
kultural 1); (3) ronggeng sebagai duta budaya (dimensi kultural 2); (4)
pembunuhan mental: tragedi kemanusiaan yang terabaikan (dimensi
humanistik); (5) resistensi perempuan terhadap hegemoni laki-laki gaya
ronggeng (dimensi jender); (6) kearifan lokal (local genius) pada zaman
global: intertekstualitas dengan ajaran Islam; (7) moralitas yang
terpinggirkan oleh tradisi (dimensi moral); (8) reaktualisasi ajaran
tasawuf wahdatusy syuhud (dimensi religiositas 1); (9) dakwah kultural
(dimensi religiositas 2); (10) Ronggeng Dukuh Paruk (RDP): sastra
multikultural yang kaya makna. Secara holistik, ketiga aspek yakni aspek
objektif, genetik, dan afektif menunjukkan keterhubungan yang erat.
Wujud performansi stilistika RDP memiliki daya ekspresi kuat sebagai
media artikulasi gagasan yang tidak terlepas dari latar sosiohistoris
pengarangnya.
Berdasarkan hasil penelitian itu, disarankan: (1)
kajian stilistika karya sastra dengan pendekatan kritik seni Holistik
perlu dilakukan pada karya sastra lain guna mempermudah interpretasi
maknanya; (2) kajian stilistika karya sastra yang selama ini terkesan
milik kritikus sastra, selayaknya dilakukan pula oleh para linguis; (3)
pentingnya pengamat sastra untuk memperdalam linguistik karena kajian
stilistika memberikan kontribusi signifikan dalam mempermudah
interpretasi makna sastra; (4) selayaknya novel Ronggeng Dukuh Paruk
dijadikan bahan/ objek kajian dalam kuliah sastra di perguruan tinggi
dan/ atau pembelajaran sastra di sekolah; (5) melihat fungsi dan
urgensinya selayaknya Stilistika sebagai studi tentang gaya
kepengarangan dijadikan sebagai mata kuliah wajib di perguruan tinggi
jurusan sastra dan/ atau pendidikan bahasa dan sastra.
Sumber: http://pasca.uns.ac.id/?p=145
- Abstrak 5
Haryati. 2010. "Watak Tokoh Utama dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya
Ahmad Tohari dan Implikasi Pembelajarannya di SMA". Skripsi.
Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Universitas Pancasakti Tegal
ABSTRAK
Novel merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian
cerita kehidupan seorang dengan orang di sekelilingnya dengan
menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (KBBI, 2005: 788). Perumusan
masalah adalah bagaimana watak tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh
Paruk karya Ahmad Tohari dan Implikasi Pembelajarannya di SMA?
Tokoh utama merupakan tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel (Nurgiyantoro, 1995: 577). Tokoh tersebut mendominasi keseluruhan jalan cerita, jadi pada setiap peristiwa yang mempengaruhi jalan cerita tokoh utama selalu memegang peranan penting. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengungkapkan watak tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan menjelaskan Implikasi Pembelajarannya di SMA.
Manfaat hasil penelitian ini yaitu dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana penokohan pada tokoh utama Srintil dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad dalam pembelajaran sastra untuk siswa SMA dan bagi peneliti lain dapat dijadikan acuan. Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan objektif yaitu suatu pendekatan yang berorientasi kepada karya sastra sebagai jagad yang mandiri terlepas dari dunia eksternal di luar teks. Analisis ditujukan pada teks itu sendiri sebagai kesatuan yang tersusun dari bagian-bagian yang saling berjalan.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah penokohan pada tokoh utama Srintil dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, antara lain: Srintil merupakan seorang perempuan yang masih muda yang memiliki tubuh indah dengan didukung wajahnya yang sangat cantik, seksi, ramah, baik, dan juga bersifat keibuan
Sumber:
Proposal Penelitian Sastra: Nilai-nilai Religius dalam Novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun: Tinjauan Semiotik

PROPOSAL PENELITIAN
NILAI-NILAI RELIGIUS DALAM NOVEL PENANGSANG: TEMBANG RINDU DENDAM KARYA NASSIRUN PURWOKARTUN: TINJAUAN SEMIOTIK
Proposal Penelitian ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Seminar Penelitian Sastra dan Pengajarannya
Dosen Pengampu: Drs. Adyana Sunanda
Diusulkan oleh :
SUKRISNO SANTOSO
A 310080094
Proposal Penelitian ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Seminar Penelitian Sastra dan Pengajarannya
Dosen Pengampu: Drs. Adyana Sunanda
Diusulkan oleh :
SUKRISNO SANTOSO
A 310080094
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra dapat berfungsi sebagai karya seni yang bisa digunakan sebagai sarana menghibur diri pembaca. Hai ini sesuai dengan pendapat Warren (dalam Nurgiyantoro, 2007: 3) yang menyatakan bahwa membaca sebuah karya sastra fiksi berarti menikmati cerita dan menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. Karya sastra merupakan karya imajinatif yang dipandang lebih luas pengertiannya daripada karya fiksi. Novel sebagai salah satu bentuk karya sastra dapat dengan bebas berbicara tentang kehidupan yang dialami oleh manusia dengan berbagai peraturan dan norma-norma dalam interaksinya dengan lingkungan sehingga dalam karya sastra (novel) terdapat makna tertentu tentang kehidupan.
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra dapat berfungsi sebagai karya seni yang bisa digunakan sebagai sarana menghibur diri pembaca. Hai ini sesuai dengan pendapat Warren (dalam Nurgiyantoro, 2007: 3) yang menyatakan bahwa membaca sebuah karya sastra fiksi berarti menikmati cerita dan menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. Karya sastra merupakan karya imajinatif yang dipandang lebih luas pengertiannya daripada karya fiksi. Novel sebagai salah satu bentuk karya sastra dapat dengan bebas berbicara tentang kehidupan yang dialami oleh manusia dengan berbagai peraturan dan norma-norma dalam interaksinya dengan lingkungan sehingga dalam karya sastra (novel) terdapat makna tertentu tentang kehidupan.
Ada beberapa masalah yang muncul saat membahas masalah karya sastra. Nurgiyantoro (2007: 31-32) mengemukakan bahwa salah satu penyebab sulitnya pembaca dalam menafsirkan karya sastra, yaitu dikarenakan novel merupakan sebuah struktur yang kompleks, unik, serta mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu bukti-bukti hasil kerja analisis. Pengkajian terhadap karya fiksi, berarti penelaah, penyelidikan, atau mengkaji, menelaah, menyelidiki karya fiksi tersebut.
Novel merupakan sebuah struktur organisme yang kompleks, unik, dan mengungkapkan segala sesuatu (lebih bersifat) secara tidak langsung. Tujuan utama analisis kesastraan, fiksi, puisi, ataupun yang lain adalah untuk memahami secara lebih baik karya sastra yang bersangkutan, di samping untuk membantu menjelaskan pembaca yang kurang dapat memahami karya itu.
Aspek-aspek pokok kritik sastra adalah analisis, interpretasi (penafsiran), dan evaluasi atau penilaian. Karya sastra merupakan sebuah sebuah struktur yang komplek, maka untuk memahaminya perlu adanya analisis, yaitu penguraian terhadap bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Sesungguhnya, analisis itu merupakan salah satu sarana penafsiran atau interpretasi. (Pradopo, 2008: 93)
Manfaat yang akan terasa dari kerja analisis itu adalah jika kita (segera) membaca ulang karya-karya kesastraan (novel,cerpen) yang dianalisis itu, baik karya-karya itu dianalisis sendiri maupun orang lain. Namun demikian adanya perbedaan penafsiran dan atau pendapat adalah sesuatu hal yang wajar dan biasa terjadi, dan itu tidak perlu dipersoalkan. Tentu saja masing-masing pendapat itu tak perlu memiliki latar belakang argumentasi yang dapat diterima. (Nurgiyantoro, 2007 : 34-35)
Salah satu karya sastra yang mengandung banyak nilai religious adalah novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun. NasSirun PurwOkartun selama ini lebih terkenal sebagai seorang kartunis. Novel ini merupakan novel pertamanya. Novel ini diibaratkan oleh Langit Kresna Hadi –penulis Tetralogi Gajah Madja- bagaikan disertasi bagi penulisnya. Sedangkan Ahmad Tohari berkomentar, “Memberi suara pada lama yang terbungkam. Demikianlah novel ini berbicara”.
Kisah Pangeran Haryo Penangsang di masa Kerajaan Demak diceritakan oleh Kang Nass secara berbeda dengan teks sejarah dalam Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi, Haryo Penangsang digambarkan sebagai sosok yang gila kekuasaan dan sangat beringasan, hatinya selalu panas dan jiwanya mudah marah. Melalui novel ini, Kang Nass seperti ingin membalik kisah dalam Babad Tanah Jawi. Haryo Penangsang dalam novel ini adalah sosok pemberani, pembela kebenaran dan keadilan, serta penganut ajaran Islam yang bersih, sekaligus penentang sinkretisme di tanah Jawa yang gigih.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan kajian guna mengungkap nilai-nilai religius dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun, dengan judul: “Nilai-nilai Religius dalam Novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun: Tinjauan Semiotik”.
B. Rumusan Masalah
Untuk mendapatkan hasil peneltian yang terarah, maka diperlukan suatu perumusan masalah. Ada dua rumusan masalah dalam penelitian ini.
Novel merupakan sebuah struktur organisme yang kompleks, unik, dan mengungkapkan segala sesuatu (lebih bersifat) secara tidak langsung. Tujuan utama analisis kesastraan, fiksi, puisi, ataupun yang lain adalah untuk memahami secara lebih baik karya sastra yang bersangkutan, di samping untuk membantu menjelaskan pembaca yang kurang dapat memahami karya itu.
Aspek-aspek pokok kritik sastra adalah analisis, interpretasi (penafsiran), dan evaluasi atau penilaian. Karya sastra merupakan sebuah sebuah struktur yang komplek, maka untuk memahaminya perlu adanya analisis, yaitu penguraian terhadap bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Sesungguhnya, analisis itu merupakan salah satu sarana penafsiran atau interpretasi. (Pradopo, 2008: 93)
Manfaat yang akan terasa dari kerja analisis itu adalah jika kita (segera) membaca ulang karya-karya kesastraan (novel,cerpen) yang dianalisis itu, baik karya-karya itu dianalisis sendiri maupun orang lain. Namun demikian adanya perbedaan penafsiran dan atau pendapat adalah sesuatu hal yang wajar dan biasa terjadi, dan itu tidak perlu dipersoalkan. Tentu saja masing-masing pendapat itu tak perlu memiliki latar belakang argumentasi yang dapat diterima. (Nurgiyantoro, 2007 : 34-35)
Salah satu karya sastra yang mengandung banyak nilai religious adalah novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun. NasSirun PurwOkartun selama ini lebih terkenal sebagai seorang kartunis. Novel ini merupakan novel pertamanya. Novel ini diibaratkan oleh Langit Kresna Hadi –penulis Tetralogi Gajah Madja- bagaikan disertasi bagi penulisnya. Sedangkan Ahmad Tohari berkomentar, “Memberi suara pada lama yang terbungkam. Demikianlah novel ini berbicara”.
Kisah Pangeran Haryo Penangsang di masa Kerajaan Demak diceritakan oleh Kang Nass secara berbeda dengan teks sejarah dalam Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi, Haryo Penangsang digambarkan sebagai sosok yang gila kekuasaan dan sangat beringasan, hatinya selalu panas dan jiwanya mudah marah. Melalui novel ini, Kang Nass seperti ingin membalik kisah dalam Babad Tanah Jawi. Haryo Penangsang dalam novel ini adalah sosok pemberani, pembela kebenaran dan keadilan, serta penganut ajaran Islam yang bersih, sekaligus penentang sinkretisme di tanah Jawa yang gigih.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan kajian guna mengungkap nilai-nilai religius dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun, dengan judul: “Nilai-nilai Religius dalam Novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun: Tinjauan Semiotik”.
B. Rumusan Masalah
Untuk mendapatkan hasil peneltian yang terarah, maka diperlukan suatu perumusan masalah. Ada dua rumusan masalah dalam penelitian ini.
- Bagaimana unsur-unsur yang membangun novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun?
- Nilai religius apa saja yang terkandung dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun dari tinjauan semiotik?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan suatu penelitian haruslah jelas mengingat penelitian harus mempunyai arah dan sasaran yang tepat. Ada dua tujuan penelitian ini.
- Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan unsur-unsur yang membangun novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun.
- Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai religius dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun dari tinjauan semiotik.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan dapat berhasil dengan baik, yaitu dapat mencapai tujuan secara optimal, menghasilkan laporan yang sistematis dan dapat bermanfaat secara umum. Ada dua manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan keilmuan sastra Indonesia terutama dalam pengkajian novel dengan pendekatan semiotik.
2. Manfaat Praktis
- Hasil penelitian ini dapat memperluas cakrawala apresiasi pembaca sastra Indonesia terhadap aspek moral dalam sebuah novel.
- Hasil penelitian ini dapat menambah referensi penelitian karya sastra di Indonesia dan dapat dijadikan sebagai acuan bagi peneliti sastra selanjutnya.
E. Sistematika Laporan Penelitian
Penulisan laporan penelitian ini dengan sistematika sebagai berikut:
Bab I berisi pendahuluan yang berisi Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan Sistematika Laporan Penelitian. Bab II membahas Kajian Pustaka, dan Landasan Teori. Isi dalam Bab II ini merupakan landasan yang akan dipakai sebagai dasar dalam mengkaji permasalahan.
Bab III berisi metode penelitian. Metode penelitian ini meliputi beberapa hal, yaitu Lokasi dan Waktu Penelitian, Pendekatan dan Strategi Penelitian, Objek dan Subjek Penelitian, Data dan Sumber Data, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Validasi Data, dan Teknik Analisis Data. Bab IV merupakan pembahasan dari permasalahan penelitian ini berisi deskripsi unsur-unsur pembangun novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun dan analisis nilai-nilai religius dalam novel tersebut. Bab V berupa penutup dengan simpulan dan saran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
Kajian pustaka bertujuan untuk mengetahui keaslian suatu penelitian. Kajian pustaka dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Aji Wicaksono (2007) berjudul “Aspek Religius Puisi dalam Mantra Orang Jawa Karya Sapardi Djoko Damono: Tinjauan Semiotik” yang menitikberatkan pada analisis struktur dalam puisi yaitu metode puisi (diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, rima, ritma) dan hakikat puisi (tema, nada, perasaan, dan amanat).
Dalam analisis aspek religius puisi tersebut, peneliti menggunakan teori yang dikemukakan oleh Riffatere (pembacaan heuristik dan hermeneutik), semiotika Barthes dalam mitos yang telah dijelaskan melalui diagram, dan semiotika Pierce (dengan ikon, indeks, dan simbol). Namun yang membedakan dengan penelitian ini yaitu acuannya. Aji menggunakan puisi sebagai acuannya sedangkan penelitian ini menggunakan novel sebagai acuannya.
Sekar Nugraheni (2007) meneliti “Aspek Sufistik dalam Kumpulan Cerpen Setangkai Melati di Sayap Jibril Karya Danarto: Tinjauan Semiotik”. Penelitian tersebut membahas aspek sufistik dalam karya sastra dengan tinjauan semiotik. Dalam analisisnya, untuk sampai pada pemaknaan kumpulan cerpen, maka peneliti menggunakan teori Preminger yang menyatakan semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda, semiotik yang mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda tersebut mempunyai arti. Namun yang membedakan dengan penelitian ini adalah jenis kajian dan acuannya. Sekar menggunakan kajian aspek sufistik dan menjadikan cerpen sebagai acuannya. Sedangkan penelitian ini menggunakan kajian aspek religius dan novel sebagai bahan acuannya.
Sepengetahuan peneliti, belum ada kajian terhadap novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam untuk mengungkap nilai-nilai releigius yang terkandung di dalamnya dengan tinjauan semiotik.
B. Landasan Teori
1. Teori Semiotik
Tujuan analisis karya sastra adalah mengungkapkan makna. Karya sastra hanyalah karya yang bersifat artefak jika tidak diketahui makna yang terkandung di dalamnya. Suatu karya sastra dalam hal ini novel, merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Sesuai dengan konvensi ketandaan maka analisis struktur tidak dapat dilepaskan dari analisis semiotik. Hal ini sesuai dengan pendapat Pradopo (2008: 108-109), sesungguhnya strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Untuk menangkap (merebut) makna unsur-unsur struktur karya sastra harus memerhatikan sistem tanda yang dipergunakan dalam karya sastra. Dapat dikatakan struktur karya sastra merupakan struktur sistem tanda yang bermakna.
Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik memelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang meyakinkan tanda-tanda itu mempunyai arti.
Dalam kritik sastra, penelitian semiotik meliputi analisis sastra sebagai sebuah penggunaan bahasa yang bergantung (ditentukan) pada konvensi-konvensi tambahan dan meneliti ciri (sifat-sifat) yang menyebabkan bermacam-macam cara agar wacana memiliki makna (Pradopo, 2008: 119). Hal ini berarti penekanan pendekatan semiotik adalah pemahaman makna karya sastra melalui tanda-tanda dalam karya sastra.
Pierce (dalam Nurgiantoro, 2007: 42) membedakan hubungan antara tanda dengan acuannya ke dalam tiga jenis hubungan, yaitu: (1) Ikon adalah tanda yang menggunakan kesamaan atau ciri-ciri yang sama dengan apa yang dimaksudkannya; (2) Indeks adalah suatu tanda yang memiliki kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya; (3) Simbol (tanda yang sesuai) adalah hubungan antara penanda dengan petanda yang tidak bersifat alamiah melainkan merupakan kesepakatan masyarakat semata-mata.
Barthes (dalam Al-Ma’ruf, 2006: 45) mengemukakan bahwa di dalam karya sastra sebagai sistem semiotik tahap kedua terdapat tiga aspek, yaitu penanda, petanda, dan tanda. Dalam sistem tanda yaitu asosiasi total antara konsep dan imajinasi yang menduduki posisi sebagai penanda dalam sistem yang kedua.
Semiotik berhubungan erat dengan strukturalisme sebagai sarana untuk menganalisis karya sastra. Hal ini sesuai dengan pendapat Pradopo (2008: 108-109) yang mengemukakan bahwa strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Karya sastra adalah sebuah struktur yang komplek. Oleh karena itu, untuk dapat memahaminya haruslah karya sastra itu dianalisis.
Dalam analisis itu karya sastra diuraikan unsur-unsur pembentuknya. Dengan demikian, makna keseluruhan karya sastra akan dapat dipahami. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu adalah sebuah karya sastra yang utuh. Di samping itu, sebuah struktur sebagai satu kesatuan yang utuh dapat dipahami makna keseluruhannya bila diketahui unsur-unsur pembentuknya dan saling hubungan di antaranya dengan keseluruhannya. (Pradopo, 2008: 108)
Strukturalisme dapat dipandang sebagi salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya sastra yang bersangkkutan. Analisis struktural karya sastra dalam hal ini fiksi dapat dilakukan dengan mengidentifikasikan, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. (Nurgiantoro, 2007: 60)
Menurut Teeuw (dalam Ratna, 2008: 103), khususnya dalam ilmu sastra, strukturalisme berkembang melalui tradisi formalism. Artinya, hasil-hasil yang dicapai melalui tradisi formalis sebagian besar dilanjutkan dalam strukturalis. Secara definitif, strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya.
Sebuah karya sastra, fiksi, atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangunnya). Strukturalisme dapat dipandang sebagi salah satu pendekatan (baca: penelitian) kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya sastra yang bersangkkutan. Analisis struktural karya sastra dalam hal ini fiksi dapat dilakukan dengan mengidentifikasika, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. (Nurgiantoro, 2007: 61)
Stanton (2007: 22) mendeskripsikan unsur-unsur pembagian struktur fiksi terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana sastra. Tema merupakan makna penting atau gagasan utama dalam sebuah cerita. Fakta cerita merupakan aspek cerita yang berfungsi sebagai elemen-elemen catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita.
Pierce (dalam Nurgiantoro, 2007: 42) membedakan hubungan antara tanda dengan acuannya ke dalam tiga jenis hubungan, yaitu: (1) Ikon adalah tanda yang menggunakan kesamaan atau ciri-ciri yang sama dengan apa yang dimaksudkannya; (2) Indeks adalah suatu tanda yang memiliki kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya; (3) Simbol (tanda yang sesuai) adalah hubungan antara penanda dengan petanda yang tidak bersifat alamiah melainkan merupakan kesepakatan masyarakat semata-mata.
Barthes (dalam Al-Ma’ruf, 2006: 45) mengemukakan bahwa di dalam karya sastra sebagai sistem semiotik tahap kedua terdapat tiga aspek, yaitu penanda, petanda, dan tanda. Dalam sistem tanda yaitu asosiasi total antara konsep dan imajinasi yang menduduki posisi sebagai penanda dalam sistem yang kedua.
Semiotik berhubungan erat dengan strukturalisme sebagai sarana untuk menganalisis karya sastra. Hal ini sesuai dengan pendapat Pradopo (2008: 108-109) yang mengemukakan bahwa strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Karya sastra adalah sebuah struktur yang komplek. Oleh karena itu, untuk dapat memahaminya haruslah karya sastra itu dianalisis.
Dalam analisis itu karya sastra diuraikan unsur-unsur pembentuknya. Dengan demikian, makna keseluruhan karya sastra akan dapat dipahami. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu adalah sebuah karya sastra yang utuh. Di samping itu, sebuah struktur sebagai satu kesatuan yang utuh dapat dipahami makna keseluruhannya bila diketahui unsur-unsur pembentuknya dan saling hubungan di antaranya dengan keseluruhannya. (Pradopo, 2008: 108)
Strukturalisme dapat dipandang sebagi salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya sastra yang bersangkkutan. Analisis struktural karya sastra dalam hal ini fiksi dapat dilakukan dengan mengidentifikasikan, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. (Nurgiantoro, 2007: 60)
Menurut Teeuw (dalam Ratna, 2008: 103), khususnya dalam ilmu sastra, strukturalisme berkembang melalui tradisi formalism. Artinya, hasil-hasil yang dicapai melalui tradisi formalis sebagian besar dilanjutkan dalam strukturalis. Secara definitif, strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya.
Sebuah karya sastra, fiksi, atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangunnya). Strukturalisme dapat dipandang sebagi salah satu pendekatan (baca: penelitian) kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya sastra yang bersangkkutan. Analisis struktural karya sastra dalam hal ini fiksi dapat dilakukan dengan mengidentifikasika, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. (Nurgiantoro, 2007: 61)
Stanton (2007: 22) mendeskripsikan unsur-unsur pembagian struktur fiksi terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana sastra. Tema merupakan makna penting atau gagasan utama dalam sebuah cerita. Fakta cerita merupakan aspek cerita yang berfungsi sebagai elemen-elemen catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita.
Fakta cerita terdiri atas alur, tokoh, dan latar. Sarana cerita adalah metode pengarang dalam memilih dan menyusun detil agar tercapai pola-pola yang bermakna. Fungsi sarana sastra adalah memadukan fakta cerita dan tema sehingga makna sastra dapat dipahami dengan jelas. Sarana cerita terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol, imajinasi, dan juga cara-cara pemilihan judul di dalam karya sastra.
2. Nilai Religius
Mangunwijaya (dalam Lathief, 2008: 175) mengemukakan bahwa segala sastra adalah religius. Religius diambil dari bahasa Latin relego, dimaksudkan dengan menimbang kembali atau prihatin tentang (sesuatu hal). Seorang yang religius dapat diartikan sebagai manusia yang berarti, yang berhati nurani serius, saleh, teliti, dan penuh dengan pertimbangan spiritual. (Lathief, 2008: 175)
Religiusitas lebih melihat aspek yang ‘di dalam lubuk hati’, moving in the deep hart, riak getaran hati nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak merupakan misteri bagi orang lain. Dengan demikian sikap religius ini lebih mengajuk pada pribadi seseorang dengan Khaliqnya, bertata laku sesuai dengan karsa Tuhan. (Lathief, 2008: 175)
BAB III
2. Nilai Religius
Mangunwijaya (dalam Lathief, 2008: 175) mengemukakan bahwa segala sastra adalah religius. Religius diambil dari bahasa Latin relego, dimaksudkan dengan menimbang kembali atau prihatin tentang (sesuatu hal). Seorang yang religius dapat diartikan sebagai manusia yang berarti, yang berhati nurani serius, saleh, teliti, dan penuh dengan pertimbangan spiritual. (Lathief, 2008: 175)
Religiusitas lebih melihat aspek yang ‘di dalam lubuk hati’, moving in the deep hart, riak getaran hati nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak merupakan misteri bagi orang lain. Dengan demikian sikap religius ini lebih mengajuk pada pribadi seseorang dengan Khaliqnya, bertata laku sesuai dengan karsa Tuhan. (Lathief, 2008: 175)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Strategi Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Penerapan metode kualitatif ini bersifat deskriptif yang berarti data yang dihasilkan berupa kata-kata dalam bentuk kutipan-kutipan. Menurut Moleong (dalam Arikunto, 2002: 6), metode kualitatif yang bersifat deskriptif dimaksudkan adalah bahwa data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka.
Penelitian kualitatif bersifat deskriptif lebih mengutamakan proses daripada hasil, analisis data cenderung induktif, dan makna merupakan hal yang esensial (Semi, 1993: 59). Proses dalam penelitian kualitatif lebih diutamakan karena hubungan antar bagian-bagian yang sedang diteliti jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses. Dalam pelaksanaannya, metode deskriptif kualitatif menuntut peneliti untuk menangkap aspek penelitian secara akurat serta memperhatikan secara cermat apa saja yang menjadi fokus penelitian sehingga pemberian interpretasi dapat lebih mendalam.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun ini adalah pendekatan semiotik. Pendekatan semiotik bertolak dari anggapan bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Hal ini berarti penekanan pendekatan semiotik dalam penelitian ini adalah pemahaman makna novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam melalui tanda-tanda dalam karya sastra.
B. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah sasaran yang akan diteliti yang tentu saja tidak terlepas dari masalah penelitian (Al-Ma’ruf, 2009: 10-11). Objek penelitian ini adalah nilai-nilai religius dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun dengan tinjauan semiotik.
C. Data dan Sumber Data
1. Data
Data merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang dikaji (Subroto dalam Al-Ma’ruf, 2009: 11). Data penelitian sastra adalah unsur-unsur sastra yang terdapat dalam teks sastra yang berkaitan langsung dengan masalah penelitian. Data penelitian demikian substansinya dipandang berkualifikasi valid (shahih) dan reliable (terandal) (Al-Ma’ruf, 2009: 11).
Data dalam penelitian ini berupa paparan bahasa (teks tertulis) yaitu kata-kata, frasa, kalimat yang terdapat dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2002: 107). Sumber data yang digunakan dalam penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber dara skunder (Al-Ma’ruf, 2009: 11-12).
Sumber data primer adalah sumber data yang mengandung data primer dalam hal ini adalah teks sastra yang diteliti. Sumber data primer dalam penelitian ini berupa teks novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun yang diterbitkan oleh penerbit Tiga Kelana tahun 2010.
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian atau telaah yang dilakukan oleh orang lain yang terdapat dalam berbagai pustaka seperti majalah, buku kritik sastra, makalah artikel pada jurnal sastra, hasil seminar sastra, dan sebagainya.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun secara cermat, terarah, dan teliti. Pada saat melakukan pembacaan tersebut, peneliti mencatat data-data tentang nilai-nilai religius yang ditemukan dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam.
E. Teknik Validasi Data
Validasi data dilakukan sebagai tahapan terakhir dalam proses penelitian. Validasi data bertujuan untuk agar penafsiran dan analisis data dapat dipertanggungjawabkan dan memeriksa apakah data yang diolah sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan masalah. Adapun teknik yang digunakan dalam proses validasi data dikenal dengan nama triangulasi. Terdapat empat jenis triangulasi, yaitu: (1) triangulasi data, (2) triangulasi metode, (3) triangulasi teori, (4) triangulasi peneliti. (Siswantoro, 2010: 79).
Triangulasi dalam penelitian ini dilakukan dengan triangulasi metode yaitu pendiskusian dengan ahli (dosen pembimbing) dengan tujuan untuk membantu mengecek kevalidan data. Kemudian melakukan diskusi dengan teman sejawat yang peneliti anggap tahu akan masalah yang diangkat.
F. Teknik Analisis Data
Milles dan Huberman (dalam Sutopo, 2002: 74) menyatakan bahwa terdapat dua model pokok dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kualitatif, yaitu (1) model analisis jalinan atau mengalir dan (2) model analisis interaktif.
Dari dua model dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kulalitatif tersebut peneliti menggunakan model kedua, yaitu model analisis interaktif. Dalam model analisis interaktif terdiri dari empat kemampuan analisis yaiutu, reduksi data, sajian data, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan, aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus.
Langkah-langkah dalam penelitian ini dapat dipaparkan sebagai berikut (Sutopo, 2002: 87).
A. Pendekatan dan Strategi Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Penerapan metode kualitatif ini bersifat deskriptif yang berarti data yang dihasilkan berupa kata-kata dalam bentuk kutipan-kutipan. Menurut Moleong (dalam Arikunto, 2002: 6), metode kualitatif yang bersifat deskriptif dimaksudkan adalah bahwa data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka.
Penelitian kualitatif bersifat deskriptif lebih mengutamakan proses daripada hasil, analisis data cenderung induktif, dan makna merupakan hal yang esensial (Semi, 1993: 59). Proses dalam penelitian kualitatif lebih diutamakan karena hubungan antar bagian-bagian yang sedang diteliti jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses. Dalam pelaksanaannya, metode deskriptif kualitatif menuntut peneliti untuk menangkap aspek penelitian secara akurat serta memperhatikan secara cermat apa saja yang menjadi fokus penelitian sehingga pemberian interpretasi dapat lebih mendalam.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun ini adalah pendekatan semiotik. Pendekatan semiotik bertolak dari anggapan bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Hal ini berarti penekanan pendekatan semiotik dalam penelitian ini adalah pemahaman makna novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam melalui tanda-tanda dalam karya sastra.
B. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah sasaran yang akan diteliti yang tentu saja tidak terlepas dari masalah penelitian (Al-Ma’ruf, 2009: 10-11). Objek penelitian ini adalah nilai-nilai religius dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun dengan tinjauan semiotik.
C. Data dan Sumber Data
1. Data
Data merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang dikaji (Subroto dalam Al-Ma’ruf, 2009: 11). Data penelitian sastra adalah unsur-unsur sastra yang terdapat dalam teks sastra yang berkaitan langsung dengan masalah penelitian. Data penelitian demikian substansinya dipandang berkualifikasi valid (shahih) dan reliable (terandal) (Al-Ma’ruf, 2009: 11).
Data dalam penelitian ini berupa paparan bahasa (teks tertulis) yaitu kata-kata, frasa, kalimat yang terdapat dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2002: 107). Sumber data yang digunakan dalam penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber dara skunder (Al-Ma’ruf, 2009: 11-12).
Sumber data primer adalah sumber data yang mengandung data primer dalam hal ini adalah teks sastra yang diteliti. Sumber data primer dalam penelitian ini berupa teks novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun yang diterbitkan oleh penerbit Tiga Kelana tahun 2010.
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian atau telaah yang dilakukan oleh orang lain yang terdapat dalam berbagai pustaka seperti majalah, buku kritik sastra, makalah artikel pada jurnal sastra, hasil seminar sastra, dan sebagainya.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun secara cermat, terarah, dan teliti. Pada saat melakukan pembacaan tersebut, peneliti mencatat data-data tentang nilai-nilai religius yang ditemukan dalam novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam.
E. Teknik Validasi Data
Validasi data dilakukan sebagai tahapan terakhir dalam proses penelitian. Validasi data bertujuan untuk agar penafsiran dan analisis data dapat dipertanggungjawabkan dan memeriksa apakah data yang diolah sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan masalah. Adapun teknik yang digunakan dalam proses validasi data dikenal dengan nama triangulasi. Terdapat empat jenis triangulasi, yaitu: (1) triangulasi data, (2) triangulasi metode, (3) triangulasi teori, (4) triangulasi peneliti. (Siswantoro, 2010: 79).
Triangulasi dalam penelitian ini dilakukan dengan triangulasi metode yaitu pendiskusian dengan ahli (dosen pembimbing) dengan tujuan untuk membantu mengecek kevalidan data. Kemudian melakukan diskusi dengan teman sejawat yang peneliti anggap tahu akan masalah yang diangkat.
F. Teknik Analisis Data
Milles dan Huberman (dalam Sutopo, 2002: 74) menyatakan bahwa terdapat dua model pokok dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kualitatif, yaitu (1) model analisis jalinan atau mengalir dan (2) model analisis interaktif.
Dari dua model dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kulalitatif tersebut peneliti menggunakan model kedua, yaitu model analisis interaktif. Dalam model analisis interaktif terdiri dari empat kemampuan analisis yaiutu, reduksi data, sajian data, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan, aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus.
Langkah-langkah dalam penelitian ini dapat dipaparkan sebagai berikut (Sutopo, 2002: 87).
- Pengumpulan data, yaitu pengumpulan data di lokasi studi dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, dan mencatat dokumen menentukan strategi pengumpulan data yang dipandang tepat dan menentukan fokus serta pendalaman data pada proses pengumpulan data berikut.
- Reduksi data, yaitu sebagai proses seleksi pemfokusan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang ada dalam lapangan langsung dan diteruskan pada pengumpulan data.
- Sajian data yaitu, suatu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan penelitian dilakukan.
- Penarikan kesimpulan, sejak awal pengumpulan data peneliti harus mengamati dan tanggap terhadap hal-hal yang ditemui dilapangan (dengan meyusun pola-pola asahan dan sebab akibat.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009. “Metode Penelitian Sastra: Sebuah Pengantar”. Hand Out Kuliah. Surakarta: FKIP – UMS
Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2006. Dimensi Sosial Keagamaan dalam Fiksi Indonesia Modern. Surakarta: Smart Media
Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Lathief, Supaat I. 2008. Sastra: Eksistensialisme – Mistisisme Religius. Lamongan: Pustaka Ilalang
Nugraheni, Sekar. 2007. “Aspek Sufistik dalam Kumpulan Cerpen Setangkai Melati di Sayap Jibril Karya Danarto: Tinjauan Semiotik”. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
PurwOkartun, NasSirun. 2010. Penangsang: Tembang Rindu Dendam. Jakarta: Tiga Kelana
Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa
Siswantoro. 2010. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi (Terjemahan oleh Sugihastuti). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Lathief, Supaat I. 2008. Sastra: Eksistensialisme – Mistisisme Religius. Lamongan: Pustaka Ilalang
Nugraheni, Sekar. 2007. “Aspek Sufistik dalam Kumpulan Cerpen Setangkai Melati di Sayap Jibril Karya Danarto: Tinjauan Semiotik”. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
PurwOkartun, NasSirun. 2010. Penangsang: Tembang Rindu Dendam. Jakarta: Tiga Kelana
Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa
Siswantoro. 2010. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi (Terjemahan oleh Sugihastuti). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sutopo. 2002. Penelitian Kualitatif. Surakarta. Sebelas Maret University Press.
Wicaksono, Aji. 2007. “Aspek Religius Puisi dalam Mantra Orang Jawa Karya Sapardi Djoko Damono: Tinjauan Semiotik”. Skripsi. Universitas Sebelas Maret
---------------------------------------------------------------
Download Proposal Penelitian Sastra
Nilai-nilai Religius dalam Novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun: Tinjauan Semiotik
Nilai-nilai Religius dalam Novel Penangsang: Tembang Rindu Dendam karya NasSirun PurwOkartun: Tinjauan Semiotik
Thursday, July 5, 2012
Skripsi: Pengaruh Kepribadian Tokoh Ibu terhadap Nayla dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu
Setiani, Peni. 2007. Pengaruh Kepribadian Tokoh Ibu terhadap Nayla dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu. Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni. Pembimbing I: Dra. Nas Haryati S. M.Pd.; Pembimbing II: Dra. Agus Nuryatin M.Hum.
ABSTRAK
Novel Nayla merupakan novel pertama milik Djenar Maesa Ayu yang memiliki tema tentang seksualitas, kekerasan dalam rumah tangga, dan pelecehan seksual. Kekerasan dalam rumah tangga dalam novel Nayla ini dilakukan Tokoh Ibu terhadap anak kandungnya, saat Tokoh Ibu menghukum Nayla. Kekerasan itu membawa dampak pada kepribadian Nayla yang selalu terbayang tokoh Ibu saat dewasa. Perilaku tokoh Ibu yang tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat dicontohkan di hadapan Nayla. Hal ini memberikan pendidikan yang negatif buat perkembangan kepribadian Nayla. Nayla pun menjadi seorang yang pemberontak karena tekanan dan hukuman yang diberikan Ibu.
Novel Nayla merupakan novel pertama milik Djenar Maesa Ayu yang memiliki tema tentang seksualitas, kekerasan dalam rumah tangga, dan pelecehan seksual. Kekerasan dalam rumah tangga dalam novel Nayla ini dilakukan Tokoh Ibu terhadap anak kandungnya, saat Tokoh Ibu menghukum Nayla. Kekerasan itu membawa dampak pada kepribadian Nayla yang selalu terbayang tokoh Ibu saat dewasa. Perilaku tokoh Ibu yang tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat dicontohkan di hadapan Nayla. Hal ini memberikan pendidikan yang negatif buat perkembangan kepribadian Nayla. Nayla pun menjadi seorang yang pemberontak karena tekanan dan hukuman yang diberikan Ibu.
Berdasarkan latar belakang di atas permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini adalah bagaimana kepribadian tokoh Ibu dan Nayla dan bagaimana pengaruh kepribadian tokoh Ibu terhadap Nayla. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan kepribadian tokoh Ibu dan Nayla serta pengaruh tokoh Ibu terhadap tokoh Nayla.
Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk menganalisis novel Nayla. Analisis dalam penelitian ini difokuskan pada tokoh Ibu dan Nayla serta pengaruh tokoh Ibu terhadap Nayla. Teori psikologi kepribadian digunakan untuk mengungkapkan kepribadian yang ada pada kedua tokoh. Teori pola asuh dan kesehatan mental digunakan untuk pegangan dalam menganalisis pengaruh kepribadian tokoh Ibu terhadap Nayla.
Hasil penelitian ini dapat diketahui kepribadian tokoh Ibu memiliki watak keras, mandiri, memiliki rasa benci, berperilaku kasar, dan gaya hidup bebas. Kepribadian tokoh Nayla memiliki perilaku kasar, berwatak keras, berperilaku bebas, bertindak sesuka hati, dan hidup mandiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian ada yang dari dalam diri individu dan dari lingkungan. Pengaruh tokoh Ibu terhadap Nayla terlihat dari kepribadian-kepribadian yang dimiliki Nayla seperti: watak keras, mandiri, berperilaku keras, serta mandiri.
Berdasarakan hasil penelitian ini disarankan pada penelitian berikutnya agar dapat memanfaatkan penelitian ini dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, seperti pendekatan sosial dan feminisme.
Kata Kunci: Pengaruh, kepribadian
Download skripsi lengkap
Pengaruh Kepribadian Tokoh Ibu terhadap Nayla dalam Novel Nayla Karya Djenar Maesa Ayu
Subscribe to:
Posts (Atom)