This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, May 27, 2010

Puisi Sitor Situmorang


Download: Puisi Sitor Situmorang (pdf) DOWNLOAD


Sastrawan angkatan 45 ini lahir di Harianboho, Samosir, Sumatera Utara 2 Oktober 1924. Sitor sempat menetap di Paris. Pada 1981 menjadi dosen di Universitas Leiden, Belanda, dan pensiun 10 tahun kemudian. Sejak 2001 ia kembali tinggal di Indonesia.

Beragam karya sastra Sitor yang sudah diterbitkan, antara lain Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan terjemahan karya dari John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol, M Nijhoff. Karya sastra lain, yang sudah diterbitkan, antara lain puisi Zaman Baru (1962), cerpen Pangeran (1963), dan esai Sastra Revolusioner (1965).
Berikut ini puisi-puisi Sitor Situmorang dalam kumpulan Rindu Kelana (Pilihan Sajak 1948- 1993). 
-----------------------------------------------

Kaliurang (Tengah Hari)

Kembali kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut Dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut ‘manggil aku berlayar dari sini

Tungguhlah aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita akan bersatu lagi.

***

PerhitunganBuat Rivai Apin

Sudah lama tidak ada puncak dan lembah
Masa lempang-diam menyerah
dan kau tahu di ujung kuburan menunggu kesepian
Aku belum juga rela berkemas
Manusia, mengapa malam bisa tiba-tiba menekan
dada?
Sedang rohnya masih mengembara di lorong-lorong
Keyakinan dulu manusia bisa
hidup dan dicintai habis-habisan
Belum tahu setinggi untung bila bisa menggali
kuburan sendiri
Rebutlah dunia sendiri
dan pisahkan segala yamg melekat lemah
Kita akan membubung ke langit menjadi bintang
jernih sonder debu
Detik kata jadikan abad-abad
Abad-abad kita hidupi dalam sekilas bintang
Sesudah itu malam, biarlah malam
Bila hidup menolak
Ia kita tinggalkan seperti anak
yang terpaksa puas dengan boneka
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tapi tak ada lagi kita
Sedang mereka rindu pada cinta garang
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tentang abad dan detik yang ‘lah terbenam
Bersama kita, tarian perawan janda ….


***


Lereng Merapi

Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini
Aku Akan rindu balik pada semua ini
Sunyi yang kutakuti sekarang
Rona lereng gunung menguap
Pada cerita cemara berdesir
Sedu cinta penyair
Rindu pada elusan mimpi
Pencipta candi Prambanan
Mengalun kemari dari dataran ….
Dan sekarang aku mengerti
Juga di sunyi gunung
Jauh dari ombak menggulung
Dalam hati manusia sendiri
Ombak lautan rindu
Semakin nyaring menderu ….

***

Dia dan Aku

Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?
- Bukankah udara penuh hampa ingin harga? -
Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini
Tapi jangan sampai terbakar sekali
Akankah kita utamakan percakapan begini?
- Bukankah bumi penuh suara inginkan isi? -
Mari, Dik, dekatkan bibirmu pada bisikan hati
Tapi jangan sampai megap napas bernyanyi
Bukankah dada hamparkan warna
Di pelaminan musim silih berganti
Padamu jua kelupaan dan janji
Akan kepermainan rahasia
Permainan cumbu-dendam silih berganti
Kemasygulan tangkap dan lari

***

Surat Kertas Hijau

Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh
Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
mengimbau dari seberang benua
Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan
Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan

***

Amoy-Aimee

Terbakar lumat-lumat
Menggapai juga lidah ingin
Api di pediangan
Terkapar sonder surat
Mati juga malam dingin
Lahirnya hari keisengan
Mari, cabikkan malam Amoy
Jika terlalu – ingin malam ini
Besok ada mentari sonder hati
Belum apa-apa hampa begini
Jauh dalam terowongan nadi
Berperang bumi dan sepi

***

Kebun Binatang

Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang, boneka dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Si anak ini punya ketakutan
Hari-hari kemarin
Punya keinginan
Berumah ufuk, ombak menggulung
Hari-hari kandungan
Tolak keisengan
Ramai-ramai di kebun binatang
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan
Hari-hari datang
Hari kembang di kebun binatang
Hari bersenang
Pecah dalam balonan
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan

***

Matahari Minggu

Di hari Minggu di hari iseng
Di silau matahari jalan berliku
Kawan habis tujuan di tepi kota
Di hari Minggu di hari iseng
Bersandar pada dinding kota
Kawan terima kebuntuan batas
Di hari panas tak berwarna
Seluruh damba dibawa jalan
Di hari Minggu di hari iseng
Bila pertemuan menambah damba
Melingkar di jantung kota
Ia merebah pada diri dan kepadatan hari
Tidak menolak tidak terima

------------------------------------------------------------
Download: Puisi Sitor Situmorang (pdf)
DOWNLOAD


Saturday, May 1, 2010

Resume Buku "Stilistika" Sudiro Satoto


Download Resume Buku Stilistika karya Sudiro Satoto


Identitas Buku
  1. Judul Buku : Stilistika 
  2. Penulis : Soediro Satoto
  3. Penerbit : STSI Press
  4. Tahun Terbit : 1995
  5. Kota Terbit : Surakarta

Bahasa merupakan media utama yang membedakan seni sastra dengan cabang-cabang seni yang lainnya, bahasa merupakan alat komunikasi . Fungsi bahasa adalah untuk memberikan acuan pada pengalaman-pengalaman pemakainya. Pada prinsipnya, seni sastra dapat dipandang dari dua segi kemungkinan:
  1. Seni sastra dipandang sebagai bagian dari seni pada umumnya. Pendekatan yang dipakai femonologi atau ganzheit.
  2. Pada umumnya seni sastra dipandang sebagai bagian dari ilmu bahasa. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode structural, atau struktural dinamik, yang lebih dikenal dengan istilah semiotika.

Stilistika merupakan bidang linguistik yang mengemukakan teori dan metodologi pengkajian atau enganalisisan formal sebuah teks sastra, termasuk dalam pengertian extended.

Estetika berasal dari kata Yunani ‘aesthesis’, berarti perasaan atau sensitivitas. Sekarang, estetika diartikan segala pemikiran filosofis tentang seni. Sehingga estetika juga disebut filsafat seni atau filsafat pendidikan. Estetika, etika, dan logika membentuk trilogi ilmu-ilmu normatif dalam filsafat. .

Teks sastra dipandang sebagai alat estetika. Masalah-masalah di luar teks sastra (ekstrinsik) banyak diperhitungkan sebagai tolok ukur apakah sastra itu baik dan indah. Fungsi sastra di sini lebih ditekankan dari segi kegunaan dan kemanfaatannya-fungsi ‘utile’.

Sebagai bahan baku, bahasa dalam sastra merupakan objek kajian, yang memiliki nilai terminal.. Masalah-masalah yang berada dalam teks (intrinsik) itulah yang menjadi objek utama dalam pengkajiannya. Fungsi sastra di sini lebih ditekankan dari segi kenikmatannya-fungsi ‘dulce’.

Buku Stilistika karya Soediro Satoto ini menyajikan pembahasan:
  1. Pendahuluan
  2. Retorika
  3. Logika dan Bahasa
  4. Hubungan Kajian Bahasa dan Sastra; Aplikasinya Terhadap Prosa, Puisi dan Drama
  5. Gaya Bahasa 


Bahasa Pidgin dan Kreol

Download Artikel: Bahasa Pidgin dan Kreol (pdf)
----------------------------------------------------------------


Setiap bahasa digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa. Yang termasuk dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Jadi, kalau disebut masyarakat bahasa Indonesia adalah semua orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia. Yang termasuk anggota masyarakat bahasa Sunda adalah orang-orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Sunda. Yang termasuk anggota masyarakat bahasa Madura adalah orang-orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Madura. Jadi, bahasa itu bervariasi. (Chaer, 2007: 55)

Dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual sebagai akibat adanya kontak bahasa (dan juga kontak budaya), dapat terjadi peristiwa atau kasus yang disebut interferensi, integrasi, alihkode (code-switching), dan campurkode (code-mixing). Penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi tidak saja menyebabkan adanya pengambilan unsur-unsur bahasa yang lain oleh sebuah bahasa (yang menyebabkan terjadinya peristiwa interferensi, integrasi, alihkode dan campurkode), tetapi juga menyebabkan munculnya variasi dalam bentuk unsur bahasa baru yang kemudian membentuk sebuah baru, yaitu bahasa pidgin dan kreol.

Berkaitan dengan adanya variasi, di sini akan dibahas variasi bahasa yang muncul karena keragaman kegiatan interaksi sosial penutur bahasa, yaitu pertama, tentang pengertian bahasa pidgin. Kedua, tentang proses perkembangan bahasa pidgin menjadi bahasa kreol. Dan ketiga, contoh bahasa pidgin dan bahasa kreol di Indonesia

A. Bahasa Pidgin

Bahasa pidgin (pijin) adalah unsur bahasa yang dihasilkan dari kontak bahasa antarbangsa pada tempat tertentu, lazimnya di pantai, muncul dalam komunitas perdagangan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008) pidgin (pijin) adalah pemakaian dua bahasa atau lebih yang dipermudah sebagai alat komunikasi antara pendatang dengan penduduk asli (seperti pijin Inggris di China, pijin Inggris di Papua Nugini).

Pidgin biasa disebut dengan bahasa dagang karena biasanya pidgin muncul ketika seseorang pedagang berinteraksi dengan dua atau lebih pedagang lainnya yang masing-masing memiliki bahasa yang berbeda, karena pedagang-pedagang kebanyakan berasal dari bermacam-macam bangsa dan bahasa. Dalam memperlancar transaksi mereka, mereka menghasilkan unsur bahasa baru yang diadopsi dari setiap bahasa mereka, dan hanya komunitas merekalah yang mengerti bahasa baru tersebut. 


Pidgin adalah bahasa marginal yang muncul untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan komunikasi tertentu di antara orang-orang yang tidak mempunyai bahasa pokok. Pidgin merupakan suatu bahasa sederhana, dan struktur sintaksisnya kurang lengkap dan kurang fleksibel.
 

B. Proses Perkembangan dari Pidgin menjadi Kreol
Bahasa secara keseluruhan dapat berubah. Kadang-kadang perubahan bahasa terjadi dalam waktu singkat sebagai akibat dari kontak antar dua bahasa yang digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Dalam kondisi demikian dapat muncul yang namanya pidgin. 


Pidgin biasanya memiliki tatabahasa yang sangat sederhana dengan kosakata dari bahasa yang berbeda-beda sehingga pencampuran unsur-unsur kedua bahasa tersebut menyebabkan adanya bahasa campuran. Sebuah pidgin tidak memiliki penutur bahasa ibu (native speaker). Jika memiliki native speaker maka bahasa ini disebut bahasa kreol. Jadi, kreol adalah perkembangan pidgin yang telah memiliki bahasa induk (bahasa ibu). 

Beberapa bahasa yang dianggap bahasa kreol di Indonesia antara lain adalah bahasa Melayu Ambon dan bahasa Melayu Betawi. Jadi, kreol merupakan akibat dari kontak bahasa juga yang merupakan pengembangan dari pidgin tersebut.

Kreol muncul ketika pidgin menjadi bahasa ibu pada suatu komunitas tertentu. Strukturnya masih menggambarkan struktur pidgin, tetapi disebut kreol karena menjadi bahasa ibu mereka. Pidgin bisa menjadi kreol ketika adanya penutur asing dan digunakan oleh keturunannya yang kemudian dibekukan sebagai bahasa pertama mereka. Ini baru dikatakan kreol apabila bahasa pidgin ini telah berlangsung secara turun-temurun. 


Kreol memiliki penutur lebih banyak dibanding pidgin. Karena kreol berkembang melalui anak-cucunya, dan pidgin hanya merupakan bahasa aslinya. Ketika seseorang menyebut suatu bahasa itu kreol, maka seharusnya terlebih dahulu bahasa tersebut telah terbukti secara historis tentang asal-usulnya. Karena dalam menentukan kreol atau tidaknya, historis suatu bahasa memiliki peranan yang sangat penting dan memiliki keterkaitan yang sangat erat.
 

Kreolisasi adalah suatu perkembangan linguistik yang terjadi karena dua bahasa melakukan kontak dalam waktu yang lama yang mana penutur pidgin tersebut telah beranak pinak. Begitu seterusnya jika kreol mampu bertahan dan terus berkembanga maka kreol akan bias menjadi bahasa yang lebih besar dan lebih lengkap Contohnya adalah bahasa Sierra Leona di Afrika Barat yang kemudian menjadi bahasa nasional.

Bahasa kreol berkembang dari bahasa pidgin. Pertama-tama, suatu bahasa digunakan sebagai bahasa pertama pada suatu daerah tersebut, kemudian para pemuda, khususnya para pedagang, melakukan kegiatan berinteraksinya dengan cara berdagang. Dari berbagai macam asal-usul para pedagang, apabila mereka berinterkasi dengan negara-negara lain yang memunyai bahasa yang jauh berbeda baik struktural atau fungsional, maka mereka menciptakan suatu bahasa baru dengan mengutip, dan memparafrase dari bahasa-bahasa mereka sendiri yang dimengerti oleh seluruh pedagang yang bersangkutan agar mereka mampu berinteraksi dengan baik. Bahasa pertama pada suatu daerah itu tergantung pada apakah daerah tersebut hasil jajahan, siapakah penjajahnya, dan pengaruh apa yang tertinggal.

Contoh kalimat sehari-hari bahasa kreol Portugis Tugu di kampung Tugu.

  • Yo kere ning kere. ‘Saya suka atau tidak suka.’
  • Santai! ‘Duduklah!’
  • Parki bas cura? ‘Mengapa engkau menangis?’
  • Anda undi bas? ‘Akan ke mana engkau?’
  • Yo nungku catu ‘Saya tidak bingung.’
  • Yo ja sabe. ‘Saya belum tahu.’


DAFTAR PUSTAKA
Asbah. 2009. “Variasi Bahasa dan Faktor Penyebabnya” dalam http://asbahlinguist.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 2 Januari 2010

Chaer, Abdul; Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik: Pengenalan Awal. Jakarta: Asdi Mahasatya

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa
*Oleh :Umar Khalid, Maret 2010

--------------------------------------------------------------------
Download Artikel: Bahasa Pidgin dan Kreol (pdf)

Ragam Kalimat Menurut A.A. Fokker


A. Pembagian Kalimat Berdasarkan Bangun Kalimat

1. Tipe kalimat
Pembagian kalimat berdasarkan bangun kalimat maksudnya adalah pengelompokan kalimat berdasarkan susunan unsur-unsur yang menduduki fungsi tertentu dalam kalimat. Dalam Pembagian ini, Fokker menggunakan istilah tipe-tipe kalimat penting. Menurut Fokker, tipe-tipe kalimat bahasa Indonesia terdiri atas sembilan macam yaitu:
(a) tipe kalimat pertama,
(b) tipe kalimat kedua,
(c) tipe kalimat ketiga,
(d) tipe kalimat keempat, 
(e) tipe kalimat kelima, 
(f) tipe kalimat keenam, 
(g) tipe kalimat ketujuh, 
(h) tipe kalimat kedelapan, dan 
(i) tipe kalimat kesembilan.

2. Kalimat Luas
Pembagian lain yang masih berhubungan dengan bangun kalimat adalah pembagian kalimat luas yang terdiri atas: (a) kalimat luas I, (b) kalimat luas II, dan (c) kalimat luas III.

a. Kalimat Luas I
Kalimat luas I adalah kalimat yang hubungan antara S dan P merupakan hubungan/relasi temporal, relasi kausal, relasi kondisional, relasi final, relasi konsesif, relasi sirkumstansial, dan relasi konsekutif.

Relasi temporal menggunakan kata-kata penghubung seperti: sebelum, sampai, (se)hingga, ketika, tatkala, (se)waktu, (se)masa, demi, sambil, seraya, dan lain-lain. 
Contoh kalimatnya:
(1) Semenjak orang tuamu meninggal, aku yang menjaga engkau.

Relasi kondisional terjadi apabila dalam bagian kalimat yang satu diungkapkan syarat untuk berlakunya sesuatu yang diungkapkan dalam bagian kalimat yang lain. 
Contoh kalimatnya:
(2) Terlambat sedikit mengerjakan perintah, sudah kena.

Relasi final adalah relasi yang menyatakan tujuan dari sesuatu yang diungkapkan pada bagian lain. Untuk menyatakan relasi final digunakan kata penghubung diantaranya: untuk, guna, agar, supaya, dan lain-lain. 
Contoh kalimatnya:
(3) Saya dibawa keliling untuk melihat-lihat rumah.
 
Relasi konsesif adalah apabila dalam bagian kalimat yang satu, sesuatu diterima, diakui atau dianggap, yang bertentangan dengan isi bagian yang lain, tetapi ia tidak dapat mempengaruhi. Contoh kalimatnya:
(4) Sebesar-besar luka, niscaya akan sembuh juga.
 
Relasi sirkumstansial terjadi apabila bagian kalimat yang pertama menyatakan keadaan terjadinya sesuatu yang disebutkan dalam bagian yang lain. 
Contoh kalimatnya:
(5) Tanpa dibaca lagi, surat itu dibungkusnya.
 
Relasi konsekutif adalah relasi yang menunjukkan akibat dari sesuatu yang diungkapkan pada bagian bagian lain. 
Contoh kalimatnya:
(6) Tentu ada yang penting, maka ia datang ke sini.

b. Kalimat Luas II
Kalimat luas II merupakan kalimat hasil merapatkan dua kalimat atau lebih yang setara. 
Contoh kalimatnya:
(7) Penduduk banyak merantau, mencari rezeki di negeri lain.

c. Kalimat Luas III
Kalimat luas III adalah kalimat yang dirapatkan dari kalimat-kalimat lain oleh elips. 
Contoh kalimatnya:
(8) Bunyi orang bertepuk tangan dengan hebat terdengar sampai di sini.

 
B. Pembagian Kalimat Berdasarkan Intonasi
Berdasarkan intonasinya kalimat bahasa Indonesia terdiri atas lima macam yaitu: (a) kalimat pertanyaan, (b) kalimat perintah, (c) kalimat permohonan, (d) kalimat keinginan, dan (e) kalimat larangan.

1.Kalimat Pertanyaan
Kalimat pertanyaan dibedakan atas tiga yaitu;
a. Pertanyaan untuk diakui
Bentuk pengakuan dari pertanyaan dapat dilakukan dengan cara mengulangi unsur yang esensial. 
Misalnya:
(9) Sudah ada keputusan? Sudah.
b. Pertanyaan untuk diingkari
Pertanyaan untuk diingkari dapat digunakan beberapa kata pengingkar seperti: tidak, bukan, dan belum. 
Misalnya:
(10) Orang itu sahabat tuan? Bukan.
c.Pertanyaan minta keterangan
Pertanyaan yang meminta keterangan ditandai dengan penggunaan kata tanya berikut: apa, mana, siapa, bagaimana, dan lain-lain. Kadang-kadang masih bisa diperkuat partikel kah. Misalnya:
(11) Siapakah anak muda itu?

2.Kalimat Perintah
Kalimat perintah, selain dapat dikenali dari intonasinya, juga dapat diketahui dari pemakaian bentuk tatabahasa yang khusus yaitu bentuk yang tidak memakai awalan me-. 
Misalnya:
(12) Duduklah!
(13) Perhatikanlah!

3.Kalimat Permohonan
Untuk menunjukkan permohonan dapat digunakan kata-kata seperti: mari, tolong, baiklah, hendaklah, kiranya, silakan dan lain-lain. 
Misalnya:
(14) Tolong ijinkan kami masuk!

4.Kalimat Keinginan
Kalimat yang menyatakan keinginan dapat menggunakan kata mudah-mudahan, moga-moga, dan barang. 
Misalnya:
(15) Mudah-mudahan mereka sampai dengan selamat.

5.Kalimat Larangan
Kalimat larangan dapat diungkapkan dengan kata jangan, dan dapat diperkuat dengan partikel lah. 
Misalnya:
(16) Jangan engkau berkata begitu.


DAFTAR PUSTAKA
Fokker, A.A. 1983. Pengantar Sintaksis Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita
Markhamah. 2009. Ragam dan Analisis Kalimat Bahasa Indonesia. Surakarta: MUP UMS


*Oleh: Sukrisno Santoso, Maret 2010
Download Ragam Kalimat Menurut A.A. Fokker (pdf)